Breaking News:

Presiden AS Joe Biden dan PM Irak Bahas Serbuan Serangan Roket di Baghdad

Biden dan Mustafa al-Kadhimi membahas serentetan serangan roket baru-baru ini terhadap pasukan koalisi AS di negara itu.

Kolase Tribunnews-AFP-Presiden AS dan PM Irak
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi membahas serentetan serangan roket baru-baru ini terhadap pasukan koalisi AS di negara itu. 

"Insiden tersebut terjadi konsisten dengan lusinan serangan tahun lalu, yang biasanya melibatkan roket 107 milimeter yang ditembakkan dari sebuah truk," kata pejabat keamanan.

Baca juga: AS Marah Pangkalan Militernya di Irak Diserang Roket yang Menewaskan Kontraktor Sipil

Baca juga: Serangan Roket Hantam Pangkalan Militer AS di Irak: Seorang Tewas, 5 Lainnya Luka-luka

Seorang pekerja membersihkan pecahan kaca pada 16 Februari 2021 di luar toko yang rusak menyusul serangan roket pada malam sebelumnya di Arbil, ibu kota wilayah otonom Kurdi Irak utara. Perserikatan Bangsa-Bangsa Selasa memperingatkan Irak bisa lepas kendali setelah serangan roket di ibu kota daerah Kurdi Arbil menewaskan kontraktor asing dan melukai beberapa warga Irak dan orang asing.
Seorang pekerja membersihkan pecahan kaca pada 16 Februari 2021 di luar toko yang rusak menyusul serangan roket pada malam sebelumnya di Arbil, ibu kota wilayah otonom Kurdi Irak utara. Perserikatan Bangsa-Bangsa Selasa memperingatkan Irak bisa lepas kendali setelah serangan roket di ibu kota daerah Kurdi Arbil menewaskan kontraktor asing dan melukai beberapa warga Irak dan orang asing. (SAFIN HAMED / AFP)

Gaya Serangan Sama

Tahun ini, kelompok pro-Iran yang biasanya disalahkan atas serangan semacam itu, termasuk Kataib Hezbollah dan Asaib Ahl al-Haq, dengan cepat mengutuk serangan tersebut.

Namun, ada keraguan dari narasumber keamanan terkait klaim tersebut.

"Semua indikasi adalah gaya serangan yang sama," kata pejabat AS itu, yang berbicara tanpa menyebut nama.

"Intelijen yang dibagikan kepada kami mengatakan bahwa masih banyak lagi yang akan datang," tambahnya.

Perdana Menteri Irak telah berjanji untuk menghentikan serangan roket dan berjuang untuk meminta pertanggungjawaban kelompok-kelompok itu, membuat marah Amerika Serikat.

Pada Oktober, AS mengancam akan menutup kedutaan besarnya di Baghdad jika serangan tidak berhenti.

Ada "pertimbangan domestik" karena kelompok bersenjata Irak ingin menantang pernyataan al-Kadhimi bahwa dia dapat mengendalikan mereka, kata Aniseh Bassiri dari Royal United Service Institute.

"Mereka ingin mengingatkan semua orang bahwa mereka belum menghilang dan menunjukkan kepada PM bahwa mereka belum ditahan," katanya.

Halaman
1234
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Sri Juliati
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved