Penanganan Covid
Program Vaksinasi Covid-19, CDC Minta Pemerintah AS Prioritaskan Penyandang Disabilitas
CDC AS menyatakan pemerintah harus pertimbangkan & prioritaskan penyandang disabilitas atau penurunan kognitif, setelah pejabat tambah akses vaksin
TRIBUNNEWS.COM - Permintaan dosis vaksinasi virus corona Amerika Serikat (AS) melampaui pasokan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pada Selasa (2/3/2021) menegaskan, pemerintah harus mempertimbangkan dan memprioritaskan penyandang disabilitas atau penurunan kognitif, setelah pejabat menambah akses vaksin.
Mengutip Washington Post, dalam pengumuman yang merupakan bagian dari rekomendasi terbaru CDC, disebutkan ada tiga vaksin yang dipercaya dan digunakan untuk memerangi pandemi Covid-19 di AS.
"Satu di antara ketiganya dapat digunakan selama fase awal ini ketika pasokan sangat terbatas," kata para pejabat.
Untuk diketahui, vaksin dari Johnson & Johnson bisa sekali pakai karena tidak perlu dibekukan.
Baca juga: Afrika Selatan Batalkan Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca, akan Beralih ke Johnson & Johnson
Baca juga: CDC Rekomendasikan Masker Berlapis, Benarkah Lebih Efektif Cegah Covid-19? Ini Kata Satgas IDI
Vaksin ini disebut paling baik diberikan untuk orang yang ingin divaksinasi dengan cepat atau mereka yang kesulitan kembali untuk mengikuti vaksinasi tahap kedua.
"Vaksin Johnson & Johnson mungkin paling cocok untuk orang yang sering berpindah-pindah atau mereka yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan tunawisma atau fasilitas pemasyarakatan," kata CDC.
Dua vaksin resmi lainnya, satu dari raksasa farmasi Pfizer dan perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech serta yang lainnya dari perusahaan bioteknologi AS Moderna memerlukan dua dosis/dua tahap.
Para ahli mencatat bahwa panduan terbaru menunjukkan lebih banyak perhatian pada tantangan dunia yang secara nyata telah muncul di seluruh negeri.
Sebab, banyak orang yang diprioritaskan untuk vaksinasi tidak dapat membuat janji secara online/daring.
Negara bagian dan daerah telah mengadopsi pendekatan yang sangat berbeda serta mengatur pedoman terkait siapa yang menerima akses vaksin tahap awal.
Tak jauh berbeda dengan negara-negara lain, para pejabat negara kerap mengumumkan perubahan kebijakan yang membuat masyarakat menjadi kebingungan dengan pedoman baru.
Banyak lansia yang ditetapkan sebagai prioritas tertinggi untuk vaksinasi tidak dapat mendaftar karena sistem online yang bermasalah atau kurangnya akses internet.
Baca juga: Setelah Divaksinasi, Orang Masih Bisa Terinfeksi Covid-19 Lagi, Ini Penjelasan CDC
Baca juga: Gelembungkan Biaya Peralatan Covid-19, Kepala CDC Hanoi Vietnam Divonis 10 Tahun Penjara
Prioritaskan Penyandang Disabilitas
Panduan CDC terbaru mendesak negara bagian untuk mempertimbangkan "kebutuhan" penyandang disabilitas atau penurunan kognitif dan pengasuhnya.
Setelah pekerja perawatan kesehatan dan staf panti jompo hingga para penghuni, panel penasihat vaksin CDC telah merekomendasikan kelompok prioritas berikutnya.
Termasuk orang dewasa 65 tahun ke atas, pekerja esensial dan mereka yang berusia 16 hingga 64 tahun dengan kondisi medis yang menempatkan mereka pada risiko tinggi untuk kasus parah Covid-19.
Baca juga: CDC AS Rilis Panduan Baru: Masa Karantina Covid-19 Diperpendek Jadi 10 Hari
Baca juga: CDC China: Frozen Food yang Tercemar Virus Corona Dapat Menyebabkan Infeksi
Banyak negara bagian sudah memvaksinasi mereka yang berusia 65 tahun ke atas.
Lebih sedikit negara bagian yang mulai memberikan vaksin pada pasien dengan kondisi berisiko tinggi.
Para relawan pendukung penyandang disabilitas mengatakan, pedoman yang diperbarui adalah jalan menuju arah yang benar.
Panduan penerapan mengatakan vaksin Johnson & Johnson yang lebih mudah digunakan mungkin paling cocok untuk populasi tertentu.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/studi-vaksinasi-covid-19-janssen-dari-johnson-johnson.jpg)