Breaking News:

Krisis Myanmar

Demonstran Myanmar Lawan Senjata Militer dengan Rok dan Pakaian Dalam Perempuan

Aparat memakai peluru karet, gas air mata, meriam air, hingga yang paling parah adalah penggunaan peluru tajam.

STR / AFP
Para pengunjuk rasa berlari selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 1 Maret 2021. 

TRIBUNNEWS.COM, NAYPYIDAW - Demonstran menggunakan kepercayaan lama, yakni menggantungkan pakaian dalam dan rok perempuan, demi menghalau militer Myanmar.

Negara Asia Tenggara itu berada dalam situasi panas, sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari.

Ratusan ribu rakyat pun turun ke jalan melakukan protes, yang dibalas oleh junta menggunakan kekerasan.

Aparat memakai peluru karet, gas air mata, meriam air, hingga yang paling parah adalah penggunaan peluru tajam.

Meski begitu, demonstran tak kekurangan taktik untuk melawan pasukan keamanan Myanmar tanpa menggunakan senjata.

Femonstran menjemur pakaian dalam dan rok panjang perempuan, dikenal sebagai longyi, di melintasi jalan.

Baca juga: Junta Militer Bongkar Makam Angel, Gadis Myanmar yang Tewas Ditembak

Merujuk pada takhayul setempat, pakaian yang menutupi tubuh bagian bawah wanita bisa mengisap kekuatan pria, atau hpone, jika tersentuh.

"Jika mereka sampai melewati longyi itu, maka hpone mereka akan meredup," kata aktivis Thinzar Shunlei Yi.

Dia mengatakan, pasukan pun tak bisa bergerak maju jika massa sudah memasang, dan terpaksa harus menurunkannya.

Namun, beberapa tentara dilaporkan takut untuk menyentuh baju itu karena yakin bisa menghancurkan kekuatan mereka.

Halaman
123
Editor: Hasanudin Aco
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved