Breaking News:

Penanganan Covid

Lebih dari 20 Juta Dosis Vaksin COVAX Didistribusikan ke 20 Negara

COVAX juga masih harus menghadapi beberapa tantangan dalam meningkatkan produksi vaksin global.

Nipah Dennis / AFP
Foto yang diambil pada 24 Februari 2021 ini menunjukkan logo Emirates Airlines di sebelah tag Covax pada pengiriman vaksin Covid-19 dari program vaksinasi Covid-19 global Covax, di Bandara Internasional Kotoka di Accra. Ghana menerima pengiriman pertama vaksin Covid-19 dari Covax, skema global untuk mendapatkan dan mendistribusikan inokulasi secara gratis, saat dunia berlomba untuk mengatasi pandemi. Covax, diluncurkan April lalu untuk membantu memastikan distribusi yang lebih adil dari vaksin virus korona antara negara kaya dan miskin, mengatakan akan memberikan dua miliar dosis kepada anggotanya pada akhir tahun. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan ada lebih dari 20 juta dosis vaksin virus corona (Covid-19) telah disediakan untuk 20 negara di bawah inisiatif COVAX (Covid-19 Vaccine Global Access).

Sejauh ini, inisiatif berbagi vaksin global yang didukung WHO ini telah mengirimkan vaksin ke sejumlah negara yakni Ghana, Pantai Gading, Angola, Kamboja, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Gambia, India, Kenya, Lesotho, Malawi, Mali, Moldova, Nigeria, Filipina, Republik Korea, Rwanda, Senegal, Sudan serta Uganda.

Seperti yang disampaikan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataannya pada press conference.

"Secara total, COVAX telah mengirimkan lebih dari 20 juta dosis vaksin ke 20 negara. Pada pekan depan, COVAX akan mengirimkan 14,4 juta dosis lainnya ke 31 negara," kata Tedros.

Meskipun pengiriman pertama mencakup sebagian besar negara yang terlibat dalam inisiatif ini, namun jumlah dosis yang didistribusikan itu tampaknya hanya cukup untuk melakukan vaksinasi terhadap dua hingga tiga persen populasi di negara-negara tersebut.

Baca juga: Vaksinasi Tahap Dua, 20 Ribu Karyawan Angkasa Pura II Dapat Vaksin Covid-19

Baca juga: Kemenkes Sebut Vaksinasi Masih Efektif Cegah Virus Corona B117 yang Dinilai Lebih Cepat Menular

COVAX juga masih harus menghadapi beberapa tantangan dalam meningkatkan produksi vaksin global.

"Saat ini kami menghadapi beberapa kendala untuk meningkatkan kecepatan dan volume produksi vaksin, mulai dari larangan ekspor hingga kurangnya bahan baku termasuk kaca, plastik dan penyumbat. WHO pun kini sedang mengerjakan empat pendekatan," jelas Tedros.

Dikutip dari laman RTE, Minggu (7/3/2021), pendekatan pertama dan paling pendek adalah mengintegrasikan perusahaan yang memproduksi vaksin dengan perusahaan lainnya yang memiliki kelebihan kapasitas untuk mengisi kekosongan dan menyelesaikan produksi vaksin sesuai kebutuhan.

Lalu cara kedua yakni melakukan transfer teknologi bilateral, di mana perusahaan yang memiliki hak milik vaksin memberikan wewenang kepada mereka yang tidak memproduksi vaksin, namun metodenya dinilaia kurang transparan.

Kemudian solusi ketiga adalah perusahaan memberikan wewenang kepada orang lain melalui mekanisme koordinasi global di bawah WHO, yang lebih transparan dan terkoordinasi secara global.

Selain itu, ini akan membantu mengamankan kesehatan regional dan meningkatkan kapasitas produksi vaksin untuk mengantisipasi pandemi di masa depan dan program kekebalan reguler.

Sehingga pengembang vaksin dapat melepaskan hak kekayaan intelektual melalui TRIPS Organisasi Perdagangan Dunia pada Perjanjian tentang Aspek Hak Kekayaan Intelektual yang Terkait dengan Perdagangan.

"Banyak negara dengan kapasitas produksi vaksin dapat mulai memproduksi vaksinnya sendiri dengan melepaskan hak kekayaan intelektual, sebagaimana diatur dalam perjanjian TRIPS. Ketentuan tersebut ada untuk digunakan dalam kondisi darurat, jika sekarang bukan waktunya untuk menggunakannya, lalu kapan lagi?," tegas Tedros.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved