Breaking News:

Penanganan Covid

Pejabat Kesehatan China Akui Vaksinnya Tak Begitu Efektif, Berencana Mencampurnya dengan Vaksin Lain

Pejabat tinggi China mengakui bahwa kemanjuran vaksin yang diproduksi di dalam negeri negara itu rendah.

STR / AFP
Foto yang diambil pada 30 Maret 2021 ini menunjukkan seorang anggota staf medis bersiap untuk memberikan dosis vaksin virus Corona Covid-19 Sinovac di sebuah universitas di Qingdao di provinsi Shandong timur China. Pejabat tinggi China mengakui bahwa kemanjuran vaksin yang diproduksi di dalam negeri negara itu rendah. 

TRIBUNNEWS.COM - Pejabat tinggi China mengakui bahwa kemanjuran vaksin yang diproduksi di dalam negeri negara itu rendah.

Pihak berwenang kini mempertimbangkan untuk mencampurkannya dengan vaksin lain untuk mencoba menawarkan perlindungan yang lebih besar terhadap virus corona.

Seperti yang dilaporkan The Guardian, pengakuan tersebut datang dari direktur Pusat Pencgahan dan Pengendalian Penyakit China, Gao Fu.

Ia menyebut vaksin Covid-19 buatan negaranya tidak memiliki tingkat perlindungan yang tinggi.

Gao menjelaskan bahwa langkah-langkah untuk "mengoptimalkan" proses vaksin dapat mencakup mengubah jumlah dosis dan lamanya waktu.

Ia juga menyarankan untuk menggabungkan berbagai vaksin untuk proses imunisasi, menurut BBC.com.

Baca juga: Menag Sebut Vaksin Sinovac Belum Bisa Jadi Syarat Umrah, Bagaimana Nasib Jemaah Indonesia?

Baca juga: Indonesia Kembali Datangkan 10 Juta Dosis Vaksin Sinovac April Ini  

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China Gao Fu berbicara selama konferensi pers Kantor Informasi Dewan Negara di Beijing pada 26 Januari 2020
Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China Gao Fu berbicara selama konferensi pers Kantor Informasi Dewan Negara di Beijing pada 26 Januari 2020 (Noel Celis / AFP)

"Sekarang dalam pertimbangan resmi apakah kami harus menggunakan vaksin yang berbeda dari jalur teknis yang berbeda untuk proses imunisasi," katanya pada konferensi, Sabtu (10/4/2021), di kota barat daya Chengdu.

Efikasi atau kemanjuran vaksin virus corona dari Sinovac hanya sebesar 50,4%, menurut hasil penelitian di Brasil.

Sebagai perbandingan, vaksin yang dibuat oleh Pfizer memiliki tingkat kemanjuran 97%.

Namun pada hari Minggu, Gao menarik kembali komentarnya, menurut tabloid pemerintah China, Global Times.

Gao mengatakan kepada outlet tersebut bahwa interpretasi internasional atas komentarnya telah menjadi "kesalahpahaman".

Gao menyebut tingkat kemanjuran vaksin berbeda-beda tiap negara.

Baca juga: Rekomendasi Terbaru PAPDI, Ini Kriteria Orang yang Tidak Layak Terima Vaksin Sinovac

Baca juga: Ini Kata Menkes Soal Pengadaan Vaksin Covid-19 Hingga April 2021

Foto yang diambil pada 30 Maret 2021 ini menunjukkan seorang anggota staf medis bersiap untuk memberikan dosis vaksin virus Corona Covid-19 Sinovac di sebuah universitas di Qingdao di provinsi Shandong timur China.
Foto yang diambil pada 30 Maret 2021 ini menunjukkan seorang anggota staf medis bersiap untuk memberikan dosis vaksin virus Corona Covid-19 Sinovac di sebuah universitas di Qingdao di provinsi Shandong timur China. (STR / AFP)

"Tingkat perlindungan semua vaksin di dunia terkadang tinggi, dan terkadang rendah. Bagaimana meningkatkan kemanjurannya adalah pertanyaan yang perlu dipertimbangkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia," kata Gao.

Meski begitu, pernyataan Gao sebelumnya kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran di semakin banyak negara lain yang mengandalkan vaksin China.

Beijing telah mendistribusikan ratusan juta dosis vaksin di negara lain sambil meragukan kemanjuran vaksin barat.

Turki dan Singapura adalah beberapa negara yang telah memesan, sementara peluncuran vaksin Sinovac di Indonesia pada Januari melibatkan 3 juta dosis dan ditujukan untuk pekerja medis dan pegawai negeri.

Sinovac kemudian disetujui digunakan pada orang tua.

Bulan lalu, sejumlah penerima vaksin di Uni Emirat Arab (UEA) diminta untuk menerima suntikan ketiga vaksin virus corona dari Sinopharm.

Hal itu dilakukan setelah tes antibodi menunjukkan penerima vaksin tidak memiliki respons kekebalan yang cukup meski sudah disuntik dua kali.

Sementara itu, Beijing belum menyetujui vaksin luar negeri untuk digunakan di China, tempat virus corona muncul pada akhir 2019.

China telah memberikan sekitar 161 juta dosis sejak vaksinasi dimulai tahun lalu, dan bertujuan untuk memvaksinasi 40% dari 1,4 miliar populasinya pada bulan Juni.

Kebanyakan orang membutuhkan dua suntikan.

Bulan lalu, pihak berwenang di Beijing kembali mengeluarkan visa bagi warga asing dari puluhan negara, tetapi visa hanya dikeluarkan hanya jika mereka telah divaksinasi dengan vaksin buatan China.

Langkah tersebut menimbulkan pertanyaan tentang motivasi di balik permintaan tersebut, mengingat vaksin China tidak disetujui di banyak negara yang telah membuka perjalanan dan tidak akan menerima vaksin asing yang dibuat di tempat lain, termasuk yang disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada pertengahan bulan lalu, China telah menyetujui lima vaksin untuk penggunaan umum atau darurat, termasuk tiga yang juga didistribusikan ke negara lain baik melalui perdagangan atau bantuan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Berita lainnya terkait vaksinasi Covid-19

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Pravitri Retno Widyastuti
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved