Breaking News:

Virus Corona

Pecah Rekor, India Jadi Negara Pertama yang Catat 400 Ribu Kasus Covid-19 dalam Sehari

India melaporkan rekor tertinggi 401.993 kasus baru Covid-19 pada hari Sabtu (1/5/2021)., tidak ada negara lain yang mencapai 400.000 kasus harian.

Narinder NANU / AFP
Anggota staf medis yang mengenakan APD membawa jenazah pasien Covid-19 di sebuah rumah sakit di Amritsar, India pada 24 April 2021. India melaporkan rekor tertinggi 401.993 kasus baru Covid-19 pada hari Sabtu (1/5/2021)., tidak ada negara lain yang mencapai 400.000 kasus harian. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - Lonjakan kasus baru virus corona di India semakin tinggi dari hari ke hari dan kini baru saja mencapai rekor baru.

India melaporkan rekor tertinggi 401.993 kasus baru Covid-19 pada hari Sabtu (1/5/2021).

Dilansir Business Insider, tidak ada negara lain yang mencapai 400.000 kasus harian.

Krematorium di seluruh India juga dipenuhi dengan jasad.

Pasien juga mengalami sesak dan sekarat karena rumah sakit kehabisan oksigen.

India telah melaporkan lebih dari 300.000 kasus baru setiap hari selama sembilan hari berturut-turut sebelum mencapai angka 400.000.

Baca juga: India Diminta Eksplorasi Kemampuan Militernya untuk Tangani Krisis Covid-19, Ini Seperti Perang

Baca juga: Stok Vaksin Menipis, Hanya 6 Negara Bagian di India yang Mulai Vaksinasi Covid-19 Hari Ini

Seorang pria berdiri di tengah pembakaran para korban yang kehilangan nyawa karena virus Corona Covid-19 di tempat kremasi di New Delhi India pada 26 April 2021.
Seorang pria berdiri di tengah pembakaran para korban yang kehilangan nyawa karena virus Corona Covid-19 di tempat kremasi di New Delhi India pada 26 April 2021. (Money SHARMA / AFP)

India juga melaporkan lebih dari 3.500 kematian pada hari Sabtu - hari keempat berturut-turut dengan jumlah kematian yang melampaui 3.000.

Angka-angka itu kemungkinan besar merupakan undercount.

Artinya, kemungkinan masih ada kasus yang tidak tercatat dengan benar.

Investigasi New York Times yang diterbitkan minggu ini menemukan bukti yang semakin banyak yang menunjukkan bahwa korban jiwa sedang diabaikan atau diremehkan oleh pemerintah.

"Dari semua pemodelan yang kami lakukan, kami yakin jumlah kematian sebenarnya adalah dua hingga lima kali lipat dari yang dilaporkan," kata Bhramar Mukherjee, seorang ahli epidemiologi di Universitas Michigan, kepada Times.

Halaman
123
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved