Selasa, 14 April 2026

Polisi Brasil Sapu Sindikat Narkoba di Favela, 25 Orang Tewas Bergelimpangan

Media Brasil secara memuji operasi itu,  saat Kepolisian Federal dan Sipil Rio mengatakan tindakan keras dibenarkan terhadap perdagangan narkoba.

Editor: Setya Krisna Sumarga
FILE - Patung Christ the Redeemer yang jadi ikon atau landmark Kota Rio de Janeiro, Brasil. 

TRIBUNNEWS.COM, RIO DE JANEIRO - Sedikitnya 25 orang tewas setelah ratusan polisi bersenjata lengkap menyerbu sebuah daerah kumuh terbesar di Rio de Janeiro, Brasil.

Aparat keamanan menargetkan para pengedar narkoba. Saat operasi digelar itu terjadi kontak tembak, mengakibatkan kematian para pelaku dan warga lainnya.

Media lokal menunjukkan rekaman langsung tujuh pemuda bersenjata yang melompat melalui atap favela Jacarezinho Kamis (6/5/2021) pagi waktu setempat.

Helikopter antipeluru dikerahkan dan melayang-layang di atas permukiman kumuh dan sangat padat hunian itu.

Laporan itu mengatakan para penjahat berusaha melarikan diri dari polisi. Dua penumpang di metro terkena peluru nyasar dan satu petugas polisi tewas.

Video dan foto yang dibagikan ke Al Jazeera oleh penduduk menunjukkan ledakan granat, serta mayat bergeletakan di lorong-lorong  favela.

Beberapa lubang bekas tembakan tampak di pintu rumah, kasur dan terlihat pakaian berlumuran darah, dan serta jejak darah mengalir menuruni tangga di gang-gang sempit favela.

Media Brasil secara memuji operasi itu,  saat Kepolisian Federal dan Sipil Rio mengatakan tindakan keras dibenarkan terhadap perdagangan narkoba dan kejahatan kekerasan lainnya di masyarakat.

Serangan Membuat Warga Sipil Ngeri

Tetapi aktivis hak asasi manusia, penduduk, dan spesialis keamanan publik merasa ngeri dan mengatakan serangan itu mungkin didorong faktor lain.

“Tidak pernah dalam hidup saya, saya melihat operasi polisi yang mematikan seperti ini,” kata Bruno Soares, peneliti dari Pusat Studi Keamanan Publik dan Kewarganegaraan Rio kepada Al Jazeera.

"Petugas polisi itu terbunuh sebelum jam 9 pagi, ini bisa mempengaruhi jumlah kematian karena polisi menyerang dengan lebih banyak kekuatan," tambah Soares, yang lahir dan besar di favela Jacarezinho.

Soares yang berada di favela saat operasi berlangsung mengatakan, tidak mungkin semua orang yang tewas dalam operasi itu adalah kriminal.

Polisi belum memberikan informasi siapa yang terbunuh tetapi penduduk mengatakan sebagian besar pembunuhan bukan dari baku tembak.

“Salah satu pria meminta untuk bersembunyi di rumah saya. Ketika polisi datang, saya memberi tahu mereka ada seseorang di sini, karena mereka pasti akan masuk. Mereka pergi ke kamar putri saya dan langsung menembaknya, "kata seorang penduduk favela dalam video yang dibagikan dengan Al Jazeera.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved