Breaking News:

Teologis Jepang Sebutkan Cara Menjauhkan Diri dari Arus Terorisme

Dekan Teologi Universitas Doshisha Kyoto, Profesor Katsuhiro Kohara (55) yang telah menekuni  ilmu Islam 22 tahun, bisa membaca al-quran dalam bahasa

Foto Richard Susilo
Dekan Teologi Universitas Doshisha Kyoto, Profesor Katsuhiro Kohara (55). Menekuni  ilmu Islam 22 tahun. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Dekan Teologi Universitas Doshisha Kyoto, Profesor Katsuhiro Kohara (55) yang telah menekuni  ilmu Islam 22 tahun, bisa membaca Al-quran dalam bahasa Jerman, memberikan tipsnya khusus kepada Tribunnews.com untuk menjauhkan diri dari arus terorisme.

"Memang benar tidak sedikit umat Islam yang jatuh terseret menjadi anggota teroris di Timur Tengah. Islampun terpecah menjadi sektarian ada yang kelompok Sunni  dan ada yang kelompok Syiah," papar Profesor Kohara khgusus kepada Tribunnews.com hari Jumat lalu  (11/6/2021).

Menjadi anggota teroris karena fanatisme mereka yang jadi sesat. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi fanatisme tersebut agar tidak tersesat menjadi teroris?

"Ekonomi mereka harus stabil. Bahaya apabila penghasilan mereka, ekonomi mereka tidak stabil, tak ada penghasilan yang stabil untuk menunjang kehidupan mereka," jawabnya.

Selain itu Profesor Kohara juga menambahkan, "Selain itu juga pride, ideologi dan cara berpikir yang lebih terbuka bagi umum, moderat, mau bekerjasama dengan baik dan tidak eksklusif tetapi perlu inklusif juga."

Namun di atas semuanya adalah kehidupan dengan penghasilan bulanan yang stabil sehingga bisa menikmati hidup dengan normal, wajar.

"Kalau sudah bisa hidup dengan baik seperti kebanyakan orang lainnya, tidak ada kesulitan penghasilan, umumnya pikiran orang itu akan lebih terbuka, lebih moderat sehingga bisa terjauhkan dari fanatisme Islam yang berlebihan."

Tentu saja dengan penghasilan yang cukup dan stabil dalam kehidupan, akan menikmati pula pendidikan yang baik dan tinggi sehingga dapat menimba ilmu dengan baik dan keseimbangan dalam berpikir, menyadari mana yang baik mana yang buruk melalui hati nuraninya yang bersih.

"Hal itu akan menjauhkan pula dari fanatisme berlebihan bahkan terjauhkan dari keinginan melakukan teror."

Di Jepang sendiri Islam bisa diterima dengan baik karena bebas.

"Namun memang untuk membuat mesjid dan pemakaman yang dipermasalahan saat ini butuh waktu pengertian yang cukup lama bagi warga Jepang. Semua harus bisa diterima perlahan-lahan, bersabar, saling pengertian, sehingga akhirnya Islam bisa diterima lebih dalam lagi di masyarakat Jepang."

Tidak ada diskriminiasi di Jepang terhadap Islam, tidak seperti yang terjadi di Eropa atau di Amerika, tambahnya lagi.

"Warga Islam dan asing dapat bebas hidup dengan baik di Jepang. Namun tentu harus ikut semua aturan yang ada di Jepang. Pelajarilah pula budaya dan pola pikir orang Jepang supaya bisa bekerjasama dengan baik nantinya. Itu yang terpenting."

Sementara itu Beasiswa dan upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif dengan melalui zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang nantinya. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved