Breaking News:

Olimpiade Tokyo

PM Jepang: Olimpiade Tokyo Bukan Hanya untuk Kebanggaan dan Ekonomi Saja

Di tempat Olimpiade ini pula, merupakan kesempatan untuk menyampaikan mimpi dan emosi masyarakat khususnya juga untuk mendukung para atlet.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
PM Jepang Yoshihide Suga saat jumpa pers, Kamis (17/6/2021). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan bahwa Olimpiade dibuat bukan untuk kebanggaan dan ekonomi saja, tetapi karena risiko penyebaran virus corona yang rendah.

"Olimpiade bukan untuk kebanggaan, atau bukan karena ekonomi. Di Jepang, adalah mungkin untuk mengambil tindakan pengendalian infeksi covid-19 untuk orang-orang dari luar negeri. Saya pikir risikonya sangat rendah. Itulah sebabnya mengapa Olimpiade dibuat," kata PM Yoshihide Suga saat jumpa pers, Kamis (17/6/2021) malam.

Di tempat Olimpiade ini pula, menurut Suga merupakan kesempatan untuk menyampaikan mimpi dan emosi masyarakat khususnya juga untuk mendukung para atlet yang berpartisipasi.

"Itulah sebabnya Olimpiade dibuat, sangat membatasi diri sehingga risiko penyebaran infeksi virus corona kecil tak perlu diresahkan oleh masyarakat Jepang," kata Suga.

"Jumlah total vaksinasi untuk virus corona telah meningkat lebih dari 7,3 juta kali dalam seminggu terakhir, dengan rata-rata lebih dari 1 juta kali sehari. Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah dan para tenaga medis," kata PM Yoshihide Suga mengenai vaksinasi di Jepang.

Baca juga: Jepang Akan Cabut Sebagian Aturan Darurat Covid-19 Di Tokyo, Satu Bulan Sebelum Olimpiade

Sedangkan Ahli Penyakit Menular Profesor Shigeru Omi yang mendampingi PM Suga kemarin menekankan tiga hal yang harus diperhatikan pemerintah.

Pertama, pemerintah diminta memutuskan tidak hanya permintaan untuk tinggal di rumah tetapi juga memutuskan kebijakan konkret dan mengimplementasikannya dengan anggaran.

Hal kedua, harapannya kepada pemerintah untuk semakin memperkuat perawatan medis sehingga suasana ketat ketika rebound apabila terjadi, sudah dapat diantisipasi dengan baik.

"Kami menyetujui pembatalan Tokyo setelah menetapkan kondisi seperti mengambil tindakan-tindakan," kata Profesor Omi.

Tindakan ketiga menurutnya dengan menginokulasikan vaksin secara strategis dengan segera kepada subjek yang rentan terhadap pengelompokan.

PM Jepang juga mengungkapkan, akan segera mlakukan penangguhan penyediaan minuman beralkohol dengan tegas di berbagai restoran dan secara ketat segera membatasi arus orang agar tetap di rumah apabila di masa depan gelombang infeksi meluas kembali.

Sementara itu beasiswa dan upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved