Breaking News:

Virus Corona

Hasil Uraian Superkomputer Jepang Menganalisa Beda Virus Corona Biasa dan Mutan India

Yasutoshi Nishimura mengungkapkan perbedaan antara virus corona konvensional dengan virus corona mutan India, menghasilkan 4 hal sangat menarik.

Richard Susilo
Ilustrasi resiko bila bertemu terinfeksi corona, risiko terendah berhadapan diagonal 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Uraian dari analisa superkomputer tercepat di Jepang Fugaku diungkapkan Menteri yang bertanggungjawab atas penanggulangan Corona di Jepang Yasutoshi Nishimura mengungkapkan perbedaan antara virus corona konvensional dengan virus corona mutan India, menghasilkan 4 hal sangat menarik.

"Kalau kita makan dengan orang lain diusahakan jangan di depannya atau jangan di sampingnya. Risiko terendah terinfeksi mutan India yaitu sekitar 12% kalau makan dengan posisi diagonal," papar Menteri Nishimura menyampaikan hasil analisa superkomputer tersebut kemarin (22/6/2021).

Penguraian dan analisa Fugaku tersebut mengungkapkan, kalau kita makan bersama dengan orang lain, di samping kita maka akan terinfeksi 100%.

Kalau makan bersama orang lain di depan kita tepat, akan terinfeksi 23% dan kalau kita makan dengan posisi diagonal dengan lawan bicara kita kemungkinan terinfeksi sekitar 12,5%. Risiko terkecil.

Baca juga: Anggota Komisi IX: Tegakkan Aturan PPKM Mikro, Maka Covid-19 Bisa Dikendalikan

Hasil lain mengungkapkan bahwa mutan India 2,5 kali lebih kuat daripada virus corona konvensional yang pertama kali muncul sekitar satu setengah tahun lalu.

Kemudian hasil ketiga yang menarik mengenai jarak infeksi saat berbicara dengan orang lain, diusahakan sedikitnya 1,9 meter agar risiko terinfeksi kecil, ketimbang virus konvensional hanya berjarak 1 meter saja.

"Tentu tambah jauh dari 1,9 meter tambah baik, risiko tambah kecil," tambah Menteri Nishimura lagi.

Baca juga: Teknologi CCUS Jepang Simpan CO2 Kerjasama Dengan Asia Tenggara Termasuk Indonesia

Lalu hal keempat yang juga menarik adalah kecepatan kita terinfeksi bila berhadapan dnegan orang lain yang menginap mutan India, jauh lebih cepat.

"Apabila kita berdiskusi berbicara dengan orang lain dalam jarak satu meter selama 27 menit saja, kita sudah terinfeksi mutan India. Sedangkan dengan virus konvensional membutuhkan waktu 60 menit barulah terinfeksi," paparnya lagi.

Hasil penelitian para ahli penyakit menular dnegan bantuan superkomputer Fugaku tersebut akan terus dilanjutkan untuk berbagai hal terkait virus corona untuk mendapatkan antisipasi bagi manusia dan pengenalan lebih rinci lagi mengenai virus baru tersebut,

Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved