Breaking News:

Penonton Dilarang Memperjualbelikan Tiket Olimpiade Jepang

Tiket tontonan Olimpiade diundi dan dijual menurut satuan perorangan dan juga tipe per keluarga. Namun setelah memperolehnya dilarang keras memperjual

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Gedung Olahraga Nasional Jepang Tempat pembukaan Olimpiade Tokyo 23 Juli 2021. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Tiket tontonan Olimpiade diundi dan dijual menurut satuan perorangan dan juga tipe per keluarga. Namun setelah memperolehnya dilarang keras memperjualbelikan tiket tersebut.

"Kalau sudah dapat tiket tak boleh memperjual belikan. Kalau tidak bisa menonton bisa diberikan kepada keluarganya yang lain tetapi bukan diperjual belikan," tekan sumber Tribunnews.com Rabu (23/6/2021).

Apabila ketahuan mendapatkan tiket dengan cara demikian, maka panitia berhak menolak masuk atau mengusir ke luar dan uang tiket tidak akan kembali.

"Apabila mendadak tidak boleh ada penonton karena deklarasi darurat dimunculkan kembali, uang pasti akan dikembalikan kepada pembeli atau pemegang tiket masing-masing. Tidak ada penjualan lewat online saat ini. Hati-hati penipuan di masyarakat penawaran lewat online," tambahnya.

Pada tanggal 23 Juni ini, Panitia Penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo mengumumkan pedoman penonton untuk turnamen tersebut, yang memiliki batas penonton maksimum 10.000, yaitu 50% dari kapasitas tempat duduk stadiun pertandingan masing-masing.

"Pedoman mengharuskan penonton membawa dan memakai masker, dan kami merekomendasikan menggunakan aplikasi konfirmasi kontak (COCOA). Dari sudut pandang pengendalian arus orang, kami meminta kerja sama dalam "pemantauan langsung", kunjungan tergesa-gesa tolong dihindarkan, dan jalan keluar terdesentralisasi."

Panitia juga meminta percakapan yang keras agar dihindarkan, apalagi kontak dengan penonton lain, makan dan minum di jalanan dihindarkan, dan menahan diri untuk tidak mengobrol.

Untuk pemeriksaan suhu tubuh pada saat masuk, suhu utama diukur dengan termografi atau termometer non-kontak, dan untuk penonton 37,5 derajat atau lebih tinggi kemungkinan besar akan ditolak masuk.

Lakukan pengukuran suhu sekunder dengan termometer kontak atau non-kontak. Penerimaan akan ditolak jika suhunya 37,5 derajat atau lebih tinggi. Selain itu, non-pemakai masker (tidak termasuk bayi) juga ditolak masuk.

Bahkan ketika menginap di venue, makan dan minum diminta agar tetap jangan lupa mengenakan masker.

"Jangan bersorak untuk membuat suara keras, tetapi lakukan gerakan dengan mengayunkan handuk, tos, menandatangani."

Dilarang keras meminum alkohol di venue, dan membawa minuman beralkohol juga dilarang. Penjualan minuman beralkohol di tempat tersebut juga ditunda.

Jika item kepatuhan tidak diperhatikan, penerimaan akan ditolak dan tindakan keluar akan diambil atas kebijaksanaan Komite Organisasi. Dalam hal ini, harga tiket tidak akan dikembalikan.

Sementara itu Beasiswa (ke Jepang) dan upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif dengan melalui zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang nantinya. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved