Rusia dan China Eratkan Persahabatan, Perpanjang Perjanjian Kerjasama setelah Pertemuan Biden-Putin
China dan Rusia memperkuat hubungan dengan memperbarui perpanjian persahabatan 20 tahun.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - China dan Rusia memperkuat hubungan dengan memperbarui perpanjian persahabatan 20 tahun.
Kesepekatan itu terjadi hanya berselang beberapa minggu setelah pemimpin Rusia dan Amerika Serikat bertemu.
Pertemuan Vladimir Putin dan Joe Biden itu dipandang luas sebagai upaya Amerika untuk memecah hubungan China dan Rusia, SCMP melaporkan.
Senin (28/6/2021), Presiden China Xi Jinping bertemu secara virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui panggilan video.
Kedua belah pihak setuju untuk memperpanjang "Perjanjian Tetangga yang Baik dan Kerjasama yang Ramah."
Baca juga: Upaya Rusia Lawan Lonjakan Covid-19 Saat Asia-Pasifik Perketat Pembatasan
Baca juga: Dokumen Rahasia Kementerian Pertahanan Inggris Ditemukan di Halte Bus, Isinya Berkaitan dengan Rusia

Xi Jinping menyebut hubungan China dan Rusia sebagai tipe baru contoh model hubungan internasional yang menambah energi positif kepada dunia, menurut media pemerintah Xinhua.
Ia mengatakan memperpanjang perjanjian itu adalah praktik nyata untuk membangun jenis hubungan internasional baru dan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
"Saya percaya bahwa di bawah bimbingan semangat perjanjian, tidak peduli berapa banyak rintangan dan tantangan yang harus diatasi di jalan di depan, China dan Rusia akan terus bersatu dalam upaya mereka dan bergerak maju dengan tekad," kata Xi.
Vladimir Putin telah menandatangani perjanjian di Kremlin dengan mantan pemimpin China Jiang Zemin pada Juli 2001.
Kedua negara tetangga itu setuju untuk menyelesaikan sengketa perbatasan bersejarah mereka dan menyusun kerja sama strategis di berbagai bidang termasuk militer dan pertahanan.
Perjanjian ini seharusnya akan berakhir bulan depan.
Komentar Rusia
Pada Senin, Putin mengatakan hubungan China-Rusia berada di "titik tertinggi mereka", menurut kantor berita Rusia TASS.
"Saat ini, mengikuti surat dan semangat perjanjian, kami telah berhasil membawa hubungan Rusia-China ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengubahnya menjadi contoh kerja sama antar pemerintah di abad ke-21," ujar Putin.
Panggilan video Xi dan Putin dilakukan setelah Putin dan Presiden AS Joe Biden mengadakan pertemuan tatap muka pertama mereka, di Jenewa pada 16 Juni 2021 lalu.
Baca juga: Trump Akhirnya Sadar Dia Bukan Lagi Presiden setelah Lihat Pertemuan Biden-Putin, Ungkap Analis
Baca juga: Pertemuan Joe Biden dan Vladimir Putin: Bicara soal HAM, Alexei Navalny, hingga Serangan Siber

Mereka sepakat untuk memulai dialog tentang pengendalian senjata nuklir dan mengembalikan duta besar ke ibu kota masing-masing.
Akan tetapi keduanya tidak membuat kemajuan nyata dalam masalah lain seperti keamanan siber, Ukraina, atau hak asasi manusia.
Beijing dan Moskow telah membentuk serangkaian mekanisme dan proyek kerjasama strategis di bawah perjanjian 2001, terutama dalam beberapa tahun terakhir karena keduanya telah mengalami penurunan tajam dalam hubungan dengan Washington.
Moskow telah bergerak lebih dekat ke Beijing sejak 1996 dengan kemitraan strategis yang secara implisit ditujukan untuk melawan dominasi global Amerika, sebuah tren yang lebih menonjol sejak hubungan Rusia dengan Barat menukik atas Ukraina dan masalah lainnya pada 2014, menurut Artyom Lukin, seorang profesor di Universitas Federal Timur Jauh Rusia.
"Jika AS melanjutkan kebijakan penahanan ganda saat ini terhadap Rusia dan China, tidak ada batasan yang jelas seberapa jauh dan dalam aliansi semu China-Rusia dapat berkembang di masa depan," kata Lukin.
Selama pembicaraan hari Senin, Putin juga mengucapkan selamat untuk ulang tahun ke-100 Partai Komunis China yang jatuh pada hari Kamis, CCTV melaporkan.
Dikatakan kedua pemimpin mengeluarkan pernyataan bersama yang menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan kedok demokrasi dan hak asasi manusia dan sanksi sepihak, serta menyatakan penentangan mereka untuk mempolitisasi pandemi Covid-19 dan acara olahraga.
Xi dan Putin juga mengatakan mereka khawatir tentang penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan, dengan mengatakan hal itu menciptakan situasi keamanan yang lebih kompleks dan serius di negara itu.
Keduanya menekankan perlunya menjaga perdamaian, keamanan, dan stabilitas regional, menurut CCTV.
Danil Bochkov, seorang ahli di Dewan Urusan Internasional Rusia, mengatakan Moskow dan Beijing tidak membiarkan bidang kerja sama potensial tidak tersentuh, baik itu "ekonomi, politik, geostrategis, keamanan, kemanusiaan, budaya, atau bentuk interaksi lainnya".
Dia mencatat ada beberapa celah kecil dalam hubungan itu, seperti aktivitas Beijing di Asia Tengah melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan dan ambisinya di Kutub Utara.
"Intinya adalah bahwa China dan Rusia tumbuh lebih dekat secara bersamaan sekarang, tetapi seiring waktu itu dapat berubah, karena China mempersempit kesenjangan di banyak bidang di mana Rusia secara tradisional menikmati posisi terdepan," kata Bochkov.
Tetapi tekanan dan persaingan AS bukanlah alasan utama Beijing dan Moskow bergerak lebih dekat, menurut Vladimir Portyakov, wakil direktur Institut Studi Timur Jauh di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
"Hubungan China- Rusia itu sendiri memiliki motivasi yang kuat dan nilai independen terlepas dari pengaruh negara ketiga," katanya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)