Jumat, 29 Agustus 2025

Penanganan Covid

Demonstran Anti-Lockdown di Australia Bentrok dengan Polisi, Langgar Aturan Covid-19

Pengunjuk rasa di Australia, tanpa protokol kesehatan, bentrok dengan kepolisian dalam aksi anti-lockdown di Sydney dan Melbourne Sabtu (24/7)

Editor: hasanah samhudi
SAEED KHAN / AFP
Warga Sydney mengantri di luar pusat vaksinasi untuk dosis vaksin mereka di Sydney pada 24 Juni 2021, karena sebagian besar penduduk dilarang meninggalkan kota untuk menghentikan penyebaran varian Delta Covid-19 yang sangat menular yang menyebar ke wilayah lain. 

TRIBUNNEWS.COM, SYDNEY - Ribuan pengunjuk rasa anti-lockdown berkumpul di dua kota terbesar Australia pada Sabtu (24/7). Sejumlah demonstran di Sydney ditangkap setelah bentrokan keras dengan polisi setempat.

Beberapa demonstran di Sydney terlihat melemparkan botol dan tanaman, yang dicabut dari trotoar, ke arah petugas polisi.

Sementara pengunjuk rasa lainnya meneriakkan “Kebebasan, kebebasan” saat mereka berbaris di sepanjang Broadway di kawasan pusat bisnis kota.

Sebuah unjuk rasa besar juga terjadi di Melbourne dan protes lainnya diadakan secara nasional.

Menteri Layanan Darurat New South Wales, David Elliott, mengatakan bahwa lebih dari 50 orang didakwa dengan pelanggaran di Sydney.

Baca juga: Covid-19 Melonjak, Selandia Baru Minta Warga Negaranya Pulang Tinggalkan Australia

Baca juga: Negara Bagian Victoria di Australia Lockdown Kelima Kalinya, Imbas 18 Kasus Corona Baru

“Apa yang kita lihat hari ini adalah 3.500 orang bodoh yang sangat egois,” katanya, menggunakan bahasa gaul lokal, boofhead, untuk orang bodoh.

"Ini adalah tipe orang yang akan memperpanjang lockdown ini,” ujarnya.

Di Melbourne, media lokal mengatakan, ribuan pengunjuk rasa memadati jalan-jalan setelah berkumpul di luar parlemen negara bagian pada sore hari.

Demonstran tanpa masker melanggar aturan tentang perjalanan yang tidak penting dan pertemuan publik sehari setelah pihak berwenang menyarankan pembatasan dapat tetap berlaku hingga Oktober.

Penyelenggara telah menjuluki protes itu sebagai unjuk rasa kebebasan. Mereka  mempublikasikannya di halaman media sosial yang sering digunakan untuk menyebarkan disinformasi vaksin dan teori konspirasi.

Baca juga: Singapura dan Australia Kirim Bantuan Ventilator dan Tabung Oksigen untuk Indonesia

Baca juga: Wabah Delta Covid-19 di Australia Memburuk Meskipun Sydney Lockdown

Para peserta membawa tanda dan spanduk bertuliskan "Bangun Australia" dan "Kuras Rawa" - pesan yang menggemakan yang terlihat dalam demonstrasi serupa di luar negeri.

Stephen Jones, anggota parlemen nasional dari Sydney, mengutuk para pengunjuk rasa dengan menyebut mereka  egois, idiot sembrono. "Tidak ada yang ingin dilockdown,” ujarnya, seperti dilansir dari The Straits Times.

Polisi mengatakan mereka mendukung kebebasan berbicara dan berkumpul secara damai. “Namun, protes hari ini melanggar Perintah Kesehatan Masyarakat Covid-19 saat ini,” ujarnya.

Helikopter berdengung di jalan-jalan di atas Sydney, sebuah kota berpenduduk lima juta orang yang berjuang untuk menahan wabah varian Delta.

Pertemuan serupa direncanakan di pusat kota lainnya.

Baca juga: Warga Australia Berusia 40 Tahun ke Bawah Akan Mendapat Vaksin Moderna atau Pfizer

Baca juga: Penderita Covid-19 OTG dan Gejala Ringan Corona di Australia, Hanya Perlu Paracetamol dan Obat Batuk

Jutaan orang Australia, termasuk di Sydney dan Melbourne, saat ini sedang dalam status lockdown karena negara tersebut bergulat dengan varian Delta yang sangat menular dan tingkat inokulasi yang lambat.

Australia telah memberikan dosis yang cukup untuk  21 persen dari populasinya, menurut Pelacak Vaksin Bloomberg, dibandingkan dengan 53 persen di AS dan 62 persen di Inggris.

Kelompok Penasihat Teknis Australia pemerintah mengatakan Sabtu ini bahwa warga dewasa di wilayah Sydney sekarang harus secara serius mempertimbangkan menggunakan vaksin AstraZeneca karena tingkat infeksi di daerah tersebut dan kendala pada pasokan opsi Pfizer.

Australia bulan lalu merekomendasikan bahwa hanya orang berusia 60 tahun ke atas yang boleh menggunakan vaksin AstraZeneca, yang telah dikaitkan dengan pembekuan darah yang langka.

New South Wales melaporkan 163 kasus baru di komunitas pada hari Sabtu, dan mengkonfirmasi kematian seorang pria berusia 80-an di barat daya Sydney pada hari Jumat. Infeksi telah mencapai 1.940 kasus sejak wabah dimulai pada pertengahan Juni.

Negara bagian tetangga Victoria mencatat 12 kasus baru hingga Jumat tengah malam, sementara Australia Selatan melaporkan satu. (Tribunnews.com/TST/Hasanah Samhudi)

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan