Breaking News:

Chiyako Sato: Takaichi Dipakai Abe Untuk Meningkatkan Kembali Popularitas LDP

Sanae Takaichi yang nasionalis dan konservatif, mencalonkan diri sebagai Presiden partai liberal demokrat (LDP) saat ini hanyalah dipakai mantan PM Je

Richard Susilo
Chiyako Sato (55), wartawan Mainichi Shimbun kelahiran prefektur Aichi Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYOSanae Takaichi yang nasionalis dan konservatif, mencalonkan diri sebagai Presiden partai liberal demokrat (LDP) saat ini hanyalah dipakai mantan PM Jepang Shinzo Abe sebagai alat untuk meningkatkan kembali popularitas LDP di tengah masyarakat yang telah mulai memudar akhir-akhir ini.

"Abe sangat prihatin sekali dengan popularitas LDP saat ini. Dipakailah Takaichi yang nasionalis dan konservatif untuk bicara ceplas-ceplos guna meningkatkan kembali kesadaran dan popularitas masyarakat Jepang kepada LDP," ungkap Chiyako Sato (55), wartawan Mainichi Shimbun kelahiran prefektur Aichi Jepang yang sempat menjadi kepala bidang politik wartawan di lingkungan kantor PM Jepang khususnya jaman Abe pada hari Rabu ini (15/9/2021).

Takaichi dipakai untuk menjalankan dan memicu kembali kebijakan ideologi LDP agar semakin dikenal masyarakat dan memicu kembali popularitas LDP di tengah masyarakat. Satu hal yang bagus, tambah Sato.

"Sementara pencalonan Presiden LDP kali ini diikuti kemungkinan dua wanita, Takaichi dan Noda juga merupakan hal yang baik, pertama kali dua wanit amuncul sebagai calon Presiden LDP."

Di masa lalu tahun 2008, saat Yuriko Koike (saat ini Gubernur Tokyo) masih di LDP, Koike ikut dalam pencalonan Presiden LDP.

"Hanya sekali itu saja wanita muncul dalam pencalonan Presiden LDP dan kini muncul kembali kedua kali wanita dan oleh dua calon wanita. Meskipun demikian masih jauh sekali perjalanan untuk bisa memunculkan PM Jepang yang wanita," tekan Sato lagi.

Lihat saja, tambahnya, anggota parlemen di jepang saja hanya 9,9% yang wanita.

"Sepuluh persen saja tidak sampai jumlah anggota parlemen wanita di Jepang. Jadi perjalanan memunculkan PM Jepang yang wanita masihlah sangat jauh," tekan Sato kembali.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlulah usaha keras yang terus- menerus di dalam majelis rendah parlemen Jepang memperjuangkan agar anggota parlemen wanita bisa diperbanyak lagi.

"Sementara LDP sampai detik ini masih terus menentang usulan agar jumlah anggota parlemen wanita diberikan kuota sekian persen.. Hal itu dotentang LDP smapai saat ini."

Sato lahir di prefektur Aichi pada tahun 1965. Setelah lulus dari Fakultas Sastra, Universitas Nagoya pada tahun 1987, bergabung dengan Koran Mainichi.

Setelah bekerja di kantor cabang Nagano, ia pindah ke departemen politik pada tahun 1990.

Kantor cabang Washington pada 2001-05 segera setelah serangan teroris di Amerika Serikat.

Selama pemerintahan Abe pertama, ia menjabat sebagai kepala kediaman resmi PM Jepang departemen politik untuk kelompok wartawan kantor PM Jepang. Dia telah di posisinya saat ini sejak April 2017.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved