Breaking News:

Taliban Siap Menjalin Hubungan dengan Negara Lain di Dunia, tapi Tidak dengan Israel

Pernyataan juru bicara Taliban didasarkan pada aturan hubungan internasional sejak tahun 1948 dan telah diterima di negara-negara Muslim

Editor: Eko Sutriyanto
Dimitar DILKOFF / AFP
Pemimpin gerakan dan perunding Taliban Abdul Latif Mansoor (kanan), Shahabuddin Delawar (tengah) dan Suhail Shaheen (kiri) berjalan untuk menghadiri konferensi pers di Moskow pada 9 Juli 2021. 

TRIBUNNEWS.COM, KABUL -  Juru bicara Taliban Suhail Shaheen mengatakan, pihaknya siap menjalin hubungan dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di seluruh dunia, kecuali satu.

"Ya, jika AS ingin membangun hubungan dengan kami, untuk kepentingan kedua negara dan jika AS ingin berpartisipasi dalam rekonstruksi Afghanistan, kami selalu menyambut," kata Shaheen.

Tentu saja, kami tidak akan memiliki hubungan apa pun dengan Israel.

Kami ingin membangun hubungan dengan semua negara, kecuali Israel," tegas Shaheen Berbicara kepada media Rusia Sputnik pekan lalu.

Dalam editorial yang diterbitkan di Jerusalem Post pada Kamis (9/9/2021), penulis Seth J Frantzman mengatakan bahwa sebagian besar negara yang menolak memiliki hubungan dengan Israel saat ini adalah negara mayoritas muslim.

Baca juga: Materi Sekolah: Tugas dan Wewenang Presiden Sebagai Kepala Negara Sekaligus Kepala Pemerintahan

Negara-negara ini memiliki satu pandangan yang tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan negara Yahudi, serta sikap yang mendukung atas merdekanya Palestina.

Menurut sang penulis, pernyataan juru bicara Taliban didasarkan pada aturan hubungan internasional sejak tahun 1948 dan telah diterima di negara-negara Muslim.

Sejak 1948, Israel telah berulang kali mengobarkan perang dengan negara-negara Arab, yang sebagian besar telah dimenangkan.

Itu menyebabkan Mesir menormalkan hubungan dengan Israel pada 1979 dan Yordania pada 1994.

Namun, dunia Arab lainnya masih menganggap Israel sebagai musuh yang mencaplok tanah Palestina secara brutal.

Di antara negara-negara Muslim yang belum menjalin hubungan dengan Israel adalah Iran, Irak, Arab Saudi, Suriah, Qatar, Pakistan, Indonesia, dan Malaysia. 

Arab Saudi bahkan tidak menganggap Israel sebagai negara yang sah.

Baca juga: Potensi Pasar Besar, Kemendag Lepas Ekspor 600 Metrik Ton Kopi Lampung ke Mesir

Qatar dan Pakistan, dua negara dengan hubungan dekat yang dianggap sebagai mediator yang menghubungkan Taliban dengan komunitas internasional, juga belum menjalin hubungan dengan Israel.

Di bawah kepemimpnan mantan Presiden AS, Donald Trump, Amerika adalah negara yang aktif untuk membantu Israel menormalkan hubungan dengan dunia Muslim, melalui Perjanjian Abraham.

Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2020 membuka jalan bagi Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain untuk menjalin hubungan dengan Israel.

Ahli Zev Chafets, mantan penasihat Perdana Menteri Israel Menachem Begin (1977-1983), mengatakan di surat kabar Bloomberg, bahwa Israel dapat dengan jelas merasakan kesepian ketika AS menarik diri dari Afghanistan.

Jarak geografis antara Tel Aviv dan Kabul adalah sekitar 3.200 km. 

Tetapi setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan, Israel semakin khawatir bahwa Taliban dan sekutunya memberikan tekanan besar ke mereka.

Ini adalah pandangan yang dibuat Perdana Menteri Israel Naftali Bennett saat bertemu dengan Presiden Joe Biden di Gedung Putih.

“Kami tinggal di salah satu daerah yang di kelilingi dengan kelompok-kelompok. Perbatasan selatan dikelilingi oleh ISIS, Hizbullah di utara, Hamas dan milisi Iran. Mereka semua ingin menghancurkan negara Yahudi," kata Bennett.

Baca juga: Taliban Ungkap Alasan Tak Ada Menteri Perempuan di Pemerintahan Baru Afghanistan

Kelompok tersebut memusuhi Israel semuanya dan mengucapkan selamat kepada Taliban atas kemenangan di Afghanistan. 

Setelah berabad-abad, pasukan Taliban berhasil mengalahkan kekuatan yang kuat dari Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Setelah jatuhnya pemerintah Afghanistan pro-Amerika, pemimpin Hamas Palestina Ismail Haniyeh menelepon untuk memberi selamat kepada wakil pemimpin Taliban, Abdul Ghani Baradar.

Haniyeh mengatakan kemenangan Taliban adalah awal dari kejatuhan semua pasukan pendudukan, termasuk pendudukan Israel atas wilayah Palestina, sementara itu, Baradar berharap kemenangan Palestina dalam perlawanan mereka.

Komunitas Syiah di Iran, juga memberi selamat kepada Taliban, dengan mengatakan “saudara-saudara Muslim telah memenangkan orang-orang kafir".

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran telah menjadi musuh tak terkalahkan dengan Israel

Iran kini telah menyatakan siap menjalin hubungan dengan pemerintah yang didirikan oleh Taliban di Afghanistan. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Taliban Siap Menjalin Hubungan dengan AS tapi Tidak dengan Israel

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved