Virus Corona

PM Singapura Terima Dosis Booster Vaksin Covid-19, Ini Katanya

(PM) Singapura Lee Hsien Loong menerima suntikan dosis penguat (booster) vaksin virus corona (Covid-19) di Rumah Sakit Umum Singapura pada hari Jumat.

YOUTUBE
Lee Hsien Loong 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong menerima suntikan dosis penguat (booster) vaksin virus corona (Covid-19) di Rumah Sakit Umum Singapura pada hari Jumat.

Jarak interval dosis booster ini dari dosis kedua yang ia terima mencapai hampir delapan bulan.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Jumat (17/9/2021), pemerintah negara itu mengumumkan pada awal bulan ini bahwa mereka akan mulai menawarkan dosis booster kepada orang-orang dengan gangguan kekebalan (immunocompromised) kategori sedang hingga parah, kelompok usia di atas 60 tahun, serta penghuni fasilitas panti jompo.

Dalam sebuah postingan di laman Facebook miliknya, PM Lee yang kini berusia 69 tahun itu mengimbau agar mereka yang termasuk dalam cakupan kelompok tersebut, mau menerima dosis booster jika ada tawaran terkait penggunaannya.

"Kasus Covid-19 di negara ini meningkat pesat, suntikan booster tentu akan memperkuat perlindungan anda terhadap Covid-19. Jika anda ditawari booster, silakan ambil, ini akan mengurangi kemungkinan anda mengalami sakit yang parah atau membutuhkan perawatan ICU," kata Lee.

Perlu diketahui, Lee telah menyelesaikan rejimen vaksinasinya menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech pada akhir Januari lalu.

Baca juga: Angka Reproduksi Covid-19 Singapura Di Atas 1, Apa Artinya?

Komite Pakar Vaksinasi Covid-19 telah merekomendasikan bahwa mereka yang berusia di atas 60 tahun harus menerima dosis booster vaksin berbasis messenger RNA (mRNA) sekitar enam hingga sembilan bulan setelah menyelesaikan program vaksinasi dua dosis mereka.

"Lansia yang menyelesaikan dua dosis setidaknya enam bulan lalu, akan menerima pesan singkat atau SMS dengan tautan pribadi untuk membuat janji penerimaan dosis ketiga," jelas Lee.

Kementerian Kesehatan Singapura menyampaikan bahwa kelompok lansia berisiko terinfeksi Covid-19 dengan gejala parah dan dapat mengembangkan respons kekebalan yang lebih rendah dari rejimen vaksinasi dua dosis mereka.

"Ini juga ditambah dengan penurunan kekebalan yang diprediksi berkurang dari waktu ke waktu," kata kementerian tersebut.

Sedangkan untuk orang yang mengalami immunocompromised, mereka memiliki 'respons imun tumpul' terhadap vaksinasi, dan juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah akibat Covid-19.

Sehingga kelompok ini harus menerima dosis booster dari vaksin mRNA yang sama, dengan jarak interval dua bulan setelah penerimaan dosis kedua mereka.

"Ini sebagai bagian dari program vaksinasi utama mereka untuk memastikan bahwa mereka memulai dengan respons imun protektif yang memadai terhadap vaksinasi," papar kementerian tersebut.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan bahwa mereka yang mengalami immunicompromised akan mendapatkan prioritas dan langsung dihubungi oleh dokter yang menangani mereka.

"Individu yang mengalami immunocompromised akan dihubungi oleh dokter mereka," kata Ong.

Sementara itu, Menteri Senior Negara untuk bidang Kesehatan, Janil Puthucheary mengatakan pada hari Selasa lalu bahwa Singapura juga tengah mempelajari kemungkinan untuk menggunakan vaksin non-mRNA sebagai suntikan booster.

Saat ini pihak berwenang pun sedang dalam tahap pembicaraan dengan pemasok untuk mendapatkan vaksin itu.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved