Breaking News:

Tidak Perlu Meninjau Kembali, Potong Saja ODA Jepang ke Myanmar

Seorang wartawan Jepang yang sempat ditahan di Myanmar hampir sebulan dan menetap di negeri itu hampir 7 tahun, menyarankan tidak perlu meninjau kemba

Richard Susilo
Yuki Kitazumi (45) dengan beberapa catatannya menggunakan kopi hitam saat menuliskan di dalam tahanan militer Myanmar. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Seorang wartawan Jepang yang sempat ditahan di Myanmar hampir sebulan dan menetap di negeri itu hampir 7 tahun, menyarankan tidak perlu meninjau kembali, langsung saja potong ODA Jepang ke Myanmar.

"Pemotongan ODA Jepang ke Myanmar memang saya tidak berpikir itu akan menyelesaikan masalah. Namun, saya pikir itu akan menjadi pesan besar bagi kalangan kudeta di sana," papar Yuki Kitazumi (45) wartawan Jepang yang kembali ke Jepang dari tahanan Myanmar 14 Mei 2021, mengungkapkan baru-baru ini.

Menurutnya lagi, "Saya pikir sayangnya, banyak ODA yang telah dilakukan Jepang selama beberapa waktu tidak dapat diharapkan memiliki efek asli karena kudeta."

Jepang telah menginvestasikan sejumlah besar ODA untuk mempromosikan demokratisasi di demokrasi Myanmar.

"Tetapi karena sistem ini berbalik sekaligus setelah dikudeta, tidak perlu meninjau kembali yang tidak lagi menunjukkan efek seperti itu, saya pikir itu wajar dilakukan pemotongan ODA ke Myanmar. Saya harus mengatakan memang sih ada risikonya," tambahnya lagi.

Beberapa waktu lalu Menlu Jepang Toshimitsu Motegi  mengumumkan bahwa Jepang sedang mempertimbangkan untuk memotong ODA ke seluruh Myanmar, termasuk proyek yang sedang berjalan.

Tetapi pemotongan ODA harus dilakukan dengan pertimbangan apakah memang  cukup untuk menghentikan bantuan dan apakah memang dapat mempengaruhi situasi seperti itu.

"Myanmar sudah seperti rumah kedua saya. Saya dibebaskan dengan dukungan pemerintah Jepang, tetapi ini tidak menyelesaikan masalah."

Dikatakan bahwa ada lebih dari 4000 tahanan politik, dan di atas segalanya, sistem kudeta masih berlangsung, dan banyak orang terbunuh saat ini lebih dari 800 orang.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved