Rabu, 13 Mei 2026

Penanganan Covid

Studi di AS: Pengidap Sleep Apnea Berisiko Lebih Tinggi Terkena Covid-19 yang Parah Hingga Kematian

Studi di Amerika menemukan pengidap sleep apnea dewasa yang terinfeksi Covid-19 berisiko lebih tinggi tingkat keparahan Covid-19nya

Tayang:
Editor: hasanah samhudi
helpguide
Ilustrasi sleep apnea 

TRIBUNNEWS.COM – Studi di Amerika menunjukkan orang dewasa pengidap sleep apnea (gangguan tidur) berisiko lebih tinggi terkena Covid-19 yang parah hingga menyebabkan kematian.

Penelitian yang diterbitkan JAMA Network Open pada Rabu (10/11/2021) menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan tidur umum 31 persen lebih mungkin dirawat di rumah sakit setelah terinfeksi virus dan 31 persen lebih mungkin meninggal karenanya.

Namun peneliti menegaskan, gangguan tidur tidak meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi.

Penulis pada studi ini, Dr Reena Mehra, mengatakan, jika ada gejala sleep apnea yang mengkhawatirkan, perlu mendiskusikan dengan penyedia layanan kesehatan tentang tes diagnostik tidur yang tepat.

"Bagi mereka dengan diagnosis gangguan pernapasan saat tidur, seperti sleep apnea, data ini menunjukkan bahwa penurunan oksigen selama tidur dapat mengakibatkan Covid-19 yang lebih parah," kata Mehra, Direktur Penelitian Gangguan Tidur di Klinik Cleveland, kepada UPI via email.

Baca juga: TRIBUNNEWSWIKI - Mengenal Obstructive Sleep Apnea, Gangguan Pernapasan yang Terjadi Saat Tidur

Baca juga: Mendengkur Bukan Berarti Tidur Nyenyak, Bisa Jadi Tanda Bahaya Jika Terjadi Seperti Ini

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sekitar satu dari 15 orang dewasa di Amerika Serikat mengalami sleep apnea.

Sleep apnea adalah suatu kondisi di mana pernapasan terhenti sejenak atau periode pernapasan dangkal selama tidur terjadi lebih sering dari biasanya.

Kondisi ini mengakibatkan gangguan aliran oksigen ke seluruh tubuh.

Gejala sleep apnea yang paling umum dan terkenal adalah dengkuran keras dan perubahan pola pernapasan.

Menurut CDC, kondisi tersebut dapat menyebabkan kondisi yang disebut hipoksia, di mana tubuh atau bagian tubuh kekurangan pasokan oksigen yang cukup.

Baca juga: Studi Menunjukkan Molekul RNA Picu Kekebalan Tubuh Melawan Covid-19 Tanpa Vaksinasi pada Tikus

Baca juga: Hasil Studi: Puluhan Juta Orang Alami Gangguan Depresi Berat karena Pandemi Covid-19

Menurut Mehra dan rekan-rekan, hipoksia juga merupakan komplikasi yang terkait dengan Covid-19 yang parah, dan alasan umum untuk rawat inap setelah infeksi.

Dilansir dari UPI, untuk penelitian ini, para peneliti menganalisis data lebih dari 350.000 orang dewasa yang dites virus dalam Sistem Kesehatan Klinik Cleveland, di Ohio dan Florida, antara Maret dan November tahun lalu.

Para peneliti mengatakan, lebih dari 5.400 dari mereka yang dites Covid-19 telah menjalani evaluasi sebelumnya untuk sleep apnea.

Data studi menunjukkan, di antara mereka yang sebelumnya dinilai mengidap sleep apnea, 1.935 atau 36 persen dinyatakan positif terkena virus. Dari mereka yang terinfeksi Covid-19, 1.018 atau 53 persen memenuhi kriteria untuk sleep apnea.

Sementara itu, 1.646, atau 47 persen dari peserta yang dites negatif memiliki tanda-tanda gangguan tidur.

Baca juga: Bukan Hanya Mendengkur, Ini 6 Gejala Sleep Apnea yang Jarang Disadari

Baca juga: Microsleep: Pengertian, Gejala, Penyebab dan Cara Pencegahan

Peserta yang mengidap sleep apnea dan terinfeksi Covid-19 yang dirawat di rumah sakit  31 persen lebih tinggi dibandingkan dengan peserta yang terinfeksi virus Corona namun tidak mengidap sleep apnea.

Selain itu, mereka yang memiliki kedua kondisi tersebut 31 persen lebih mungkin meninggal karena Covid-19.

Para peneliti juga mengatakan, gangguan aliran oksigen akibat sleep apnea mungkin menyebabkan peningkatan peradangan pada organ-organ penting dalam tubuh, termasuk paru-paru dan jantung, yang mengakibatkan Covid-19 yang lebih parah.

Namun peneliti mengatakan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hal ini.

"Temuan (kami) menunjukkan bahwa gangguan pernapasan khusus saat tidur adalah pendorong parahnya Covid-19,” kata Mehra.

Baca juga: Studi: Pandemi Covid-19 Pangkas Harapan Hidup Mayoritas Penduduk Dunia Sejak Perang Dunia II

“Namun data lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah pengobatan gangguan pernapasan saat tidur ini meningkatkan hasil Covid-19," katanya. (Tribunnews.com/UPI/Hasanah Samhudi)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved