Jumat, 29 Agustus 2025

Resolusi Baru China, Presiden Xi Jinping Naik Status Setara Mao Zedong dan Deng Xiaoping

Resolusi historis Partai Komunis China menyetarakan Presiden Xi Jinping dengan Mao Zedong dan Deng Xiaoping dan meneguhkan kekuasannya

Editor: hasanah samhudi
AFP
Presiden China Xi Jinping terlihat di layar lebar selama program berita malam di sebuah mal di Beijing pada Kamis (11/11/2021), ketika para pemimpin Partai Komunis menutup pertemuan penting dengan mengeluarkan resolusi penting tentang masa lalu negara itu. 

Kedua, China akan menjadi negara yang  berkembang penuh, kaya, dan kuat pada tahun 2049.

Perkuat Kekuasaan

Para ahli menilai resolusi ini memperkuat kekuasaan Xi.

"Dia mencoba untuk menampilkan dirinya sebagai pahlawan dalam epik perjalanan nasional China," kata Adam Ni, editor China Neican, sebuah buletin tentang urusan China saat ini, kepada BBC.

"Dengan mendorong melalui resolusi sejarah yang menempatkan dirinya di pusat narasi besar Partai dan China modern, Xi menunjukkan kekuatannya. Tetapi dokumen itu juga merupakan alat untuk membantunya mempertahankan kekuatan ini," katanya.

Dr Chong Ja Ian dari Universitas Nasional Singapura mengatakan langkah terbaru membuat Xi berbeda dari para pemimpin China sebelumnya.

Baca juga: China dan AS Sepakat Tingkatkan Kerja Sama untuk Atasi Perubahan Iklim

Baca juga: AS Minta China Bebaskan Jurnalis Wuhan yang Laporkan Wabah Covid-19

"(Mantan pemimpin) Hu Jintao dan Jiang Zemin tidak pernah memiliki otoritas terkonsolidasi sebanyak Xi. Namun, tidak jelas apakah mereka memiliki kecenderungan untuk melakukannya bahkan jika dihadapkan dengan peluang serupa," kata Dr Chong.

"Tentu saja ada banyak penekanan pada Xi sebagai pribadi saat ini. Sejauh mana ia menjadi lebih dilembagakan secara formal adalah apa yang diwaspadai banyak orang saat ini," katanya.

Disebutkan, Deng maupun Mao, yang meloloskan dua resolusi sebelumnya, menggunakannya sebagai cara untuk memutuskan hubungan dengan masa lalu.

Resolusi pertama, diadopsi pada pleno partai pada tahun 1945. Resolusi ini membantu Mao mengkonsolidasikan kepemimpinannya sehingga ia memiliki otoritas penuh ketika ia mendeklarasikan pembentukan Republik Rakyat Cina pada tahun 1949.

Ketika Deng mengambil alih sebagai pemimpin pada tahun 1978, ia memprakarsai resolusi kedua pada tahun 1981.

Baca juga: China Buat Tiruan Kapal Induk dan Kapal Perusak AS, Diduga untuk Latihan Perang Hadapi Amerika

Baca juga: China Sebut Laporan Dinas Intelijen AS Soal Asal Covid-19 Tidak Ilmiah

Saat itu ia mengkritik "kesalahan" Mao selama Revolusi Kebudayaan 1966-1976, yang menyebabkan jutaan kematian. Deng juga meletakkan dasar bagi reformasi ekonomi China.

Namun tidak seperti resolusi sebelumnya, kata Ni, Xi malah ingin menekankan kesinambungan dengan resolusinya.

Resolusi historis muncul pada saat China telah menjadi kekuatan global, sesuatu yang hampir tidak terbayangkan beberapa dekade yang lalu.

“Negara ini berdiri pada titik di mana ia sekarang dapat melihat kembali pertumbuhan yang signifikan dalam ekonomi, militer, dan pengakuan statusnya sebagai kekuatan utama, dengan PKC serta kepemimpinannya mengakar kuat tanpa oposisi di dalam negeri,” kata Dr. Chong.

"Dalam beberapa hal, PKC dengan Xi di pucuk pimpinannya telah mencapai puncak pencapaian untuk partai dan untuk China,” katanya. (Tribunnews.com/BBC/UPI/Hasanah Samhudi)

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan