China Vs Amerika

PM Singapura Soroti Ketegangan China-AS Terkait Taiwan: Bisa Terjadi Kecelakaan yang Disesali

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengingatkan ketegangan China-AS terkait Taiwan bisa menimbulkan kecelakaan yang akan disesali kedua pihak

Editor: hasanah samhudi
tangkap layar/tst
PM Lee Hsien Loong saat diwawancara Bloomberg 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA – Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong memperingatkan meningkatnya ketegangan China-AS terkait masalah Taiwan dapat menyebabkan “kecelakaan” yang mungkin disesali kedua pihak.

“Saya piker ini tidak akan terjadi perang dalam waktu cepat, tetapi situasi ini dapat membuat Anda melakukan kecelakaan atau salah perhitungan, serta berada dalam situasi sangat rumit,” ujar Lee pada Forum Ekonomi Baru Bloomberg, Rabu (17/11/2021).

PM Lee menyinggung intensitas keterlibatan AS yang nyata dengan Taiwan, sementara China menguji kekuatan pertahanan udara Taiwan.

"Semua langkah ini meningkatkan kecurigaan, ketegangan, dan kecemasan, dan membuatnya lebih mungkin terjadi kecelakaan atau salah perhitungan,” ujar Lee.

Pada pertemuan virtual antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping Selasa (16/11/2021) lalu, Biden menegaskan kembali komitmen Washington terhadap kebijakan "satu China".

Baca juga: Wapres AS Kamala Harris Kunjungi Singapura, Disambut Lee Hsien Loong di Istana

Baca juga: Singapura Akan Gelar Pemilihan Umum di Tengah Pandemi, PM Lee Hsien Loong Ungkap Alasannya

Tetapi Biden juga menyatakan penentangannya terhadap upaya sepihak untuk mengubah status quo.

Sementara Xi saat itu memperingatkan bahwa setiap upaya AS menekan China dengan menggunakan Taiwan akan "seperti bermain api".

Dalam wawancara 45 menitnya dengan pemimpin redaksi Bloomberg, John Micklethwait, Lee juga membahas Hong Kong dan prospek perdagangan global yang lebih luas.

Ditanya apakah China kemungkinan akan lebih memperketat pembatasan di Hong Kong, Lee menyinggung bahwa kerusuhan tahun lalu di kota itu telah diredam dengan sangat kuat.

"Saya pikir ada harga yang harus dibayar secara internasional, dan bahkan secara internal di Hong Kong. Dan saya pikir mereka akan melihat bagaimana hal-hal akan berkembang dari sana," katanya.

Baca juga: Kongres Filipina Geram, Yayasan Milik Mike Bloomberg Campuri Kebijakan Soal Tembakau

Baca juga: Analisis Bloomberg, Indonesia Bebas Covid-19 10 Tahun Lagi, Bisakah Terjadi? Ini Penulaian Pakar

Mengenai topik hubungan China-AS, Lee melihat perbedaan antara kedua negara sangat banyak dan mendalam, melampaui masalah individu hingga pola pikir dasar.

Di AS, katanya, ada konsensus bipartisan bahwa China adalah penantang dan ini masalah serius.

Ada juga dimensi moral yang berperan. "Saya demokrasi - Anda tidak. Saya mendukung hak asasi manusia - Anda tidak," kata PM Lee.

"Jika Anda mendefinisikan masalah seperti ini, menjadi sangat sulit untuk beralih dari itu ke situasi mengatakan: 'Saya harus hidup berdampingan, kita berdua hidup di dunia yang sama'."

Pada bagian lain, kata Lee, beberapa orang memandang bahwa persaingan strategis dengan AS sebagai  upaya Washington untuk memperlambat China.

Baca juga: Ketegangan dengan China, Taiwan Siagakan Divisi Tempur F-16 yang Canggih

Baca juga: Kecam Kunjungan AS ke Taiwan, Cina Gelar Latihan Perang di Selat Taiwan

Kedua negara menegaskan kembali komitmen mereka bagi perdagangan di forum pada hari Rabu (17/11/2021).

Wakil Presiden China Wang Qishan mengatakan China akan terbuka bagi investasi asing dan bekerja dengan orang lain untuk mendorong pertumbuhan global. Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo menegaskan kembali Amerika kembali ke Indo-Pasifik. (Tribunnews.com/TST/Hasanah Samhudi)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved