Konflik di Afghanistan

Ibu di Afghanistan Terpaksa Jual Satu Bayi Kembarnya agar Bisa Beri Makan 7 Anaknya yang Lain

Seorang ibu di Afghanistan terpaksa menjual salah satu bayi kembarnya agar bisa memberi makan bayi lainnya.

Michael Przedlacki/Daily Mail
Seorang ibu berusia 40 tahun dari Afghanistan menceritakan bagaimana dia terpaksa menjual anak kembarnya yang baru lahir untuk mendapatkan makanan yang cukup untuk memberi makan saudara perempuannya (wanita itu terpotret menggendong bayi perempuannya) 

TRIBUNNEWS.COM - Seorang ibu di Afghanistan terpaksa menjual salah satu bayi kembarnya agar bisa memberi makan bayi lainnya.

Dilansir Daily Mail, ibu 40 tahun asal provinsi Jawzjan ini menyerahkan satu bayinya kepada pasangan yang tidak punya anak dengan imbalan $104 (Rp1,5 juta).

Dengan uang itu, ia berharap bisa memberi makan keluarganya, yang memiliki 7 anak, selama 6 bulan ke depan.

Kekeringan yang berkepanjangan membuat pasangan suami istri ini tidak lagi bisa bertani sejak awal tahun ini.

Mereka lalu pindah ke kota terdekat, di mana suami dan putra sulung bekerja sebagai buruh sebelum Taliban mengambil alih Afghanistan.

Baca juga: Negara-negara Anggota Uni Eropa Setuju Tampung 40 Ribu Pengungsi Afghanistan

Baca juga: Berita Foto : Melihat Radio Wanita Afghanistan

Seorang ibu berusia 40 tahun dari Afghanistan menceritakan bagaimana dia terpaksa menjual anak kembarnya yang baru lahir untuk mendapatkan makanan yang cukup untuk memberi makan saudara perempuannya (wanita itu terpotret menggendong bayi perempuannya)
Seorang ibu berusia 40 tahun dari Afghanistan menceritakan bagaimana dia terpaksa menjual anak kembarnya yang baru lahir untuk mendapatkan makanan yang cukup untuk memberi makan saudara perempuannya (wanita itu terpotret menggendong bayi perempuannya) (Michael Przedlacki/Daily Mail)

PBB saat ini memperingatkan bahwa lebih dari setengah penduduk Afghanistan menghadapi krisis kelaparan musim dingin ini.

Masalah diperparah oleh fakta bahwa banyak lembaga bantuan meninggalkan negara itu ketika pemerintah runtuh dan keringnya bantuan internasional.

Nasib malang keluarga ini terungkap oleh organsisasi Save the Children, yang masih memiliki pekerja di lapangan yang membagikan makanan kepada mereka yang membutuhkan.

Berbicara kepada para pekerja amal, sang ibu menjelaskan bahwa dia melahirkan si kembar - laki-laki dan perempuan - sekitar empat atau lima bulan yang lalu, tak lama setelah mereka meninggalkan pertanian karena kekeringan.

Wanita itu menjelaskan bahwa semua pakaian anak-anaknya adalah pakaian bekas dan disumbangkan oleh penduduk setempat.

Dia awalnya berencana untuk membesarkan kedua bayi kembarnya.

Tetapi ia hampir tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup untuk salah satu dari mereka - biasanya roti, dan kadang-kadang susu bubuk.

Suaminya, 45 tahun, bekerja sebagai buruh tetapi mengatakan hanya ada sedikit pekerjaan untuk satu hari kerja dalam lima hari.

Suami wanita itu, 45 tahun, memegang tangan salah satu dari tujuh anak mereka di dekat rumah tempat mereka sekarang tinggal - mengenakan pakaian yang disumbangkan oleh orang lain
Suami wanita itu, 45 tahun, memegang tangan salah satu dari tujuh anak mereka di dekat rumah tempat mereka sekarang tinggal - mengenakan pakaian yang disumbangkan oleh orang lain (Michael Przedlacki/Daily Mail)

Upah sehari, sekitar $1 (sekitar Rp14.000), cukup untuk makan dua hari saja.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved