Selasa, 2 Juni 2026

Virus Corona

Dokter Afrika Selatan Melihat Covid-19 Varian Omicron Memiliki Gejala Lebih Ringan daripada Delta

Dokter Afrika Selatan melihat tanda-tanda Covid-19 varian Omicron memiliki gejala yang lebih ringan daripada Delta.

Tayang:
Penulis: Rica Agustina
digi24.ro
Ilustrasi varian baru Covid-19, Omicron - Dokter Afrika Selatan melihat tanda-tanda Covid-19 varian Omicron memiliki gejala yang lebih ringan daripada Delta. 

TRIBUNNEWS.COM - Unben Pillay, seorang dokter di Afrika Selatan mengatakan ada lusinan pasien positif Covid-19 varian Omicron yang dia tangani setiap harinya.

Namun, pasien-pasien itu tidak ada yang harus rawat inap di rumah sakit dan dapat pulih dengan menjalani isolasi mandiri selama 10 sampai 14 hari.

Itulah satu di antara alasan mengapa dia bersama dokter dan ahli medis lainnya menduga bahwa Omicron memang menyebabkan Covid-19 yang lebih ringan daripada Delta, meski tampaknya menyebar lebih cepat.

"Mereka mampu menangani penyakit (Covid-19) di rumah. Sebagian besar telah pulih dalam periode isolasi 10 hingga 14 hari," kata Pillay seperti dikutip Associated Press.

Pasien yang dirawat di rumah termasuk mereka yang berusia lebih tua dan memiliki penyakit bawaan (komorbid) yang berpotensi menderita Covid-19 parah.

Baca juga: Inggris: Suntikan Booster Berikan Perlindungan hingga 75 Persen dari Covid-19 Omicron

Dalam dua minggu sejak Omicron pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan, dokter lain telah berbagi cerita serupa.

Adapun Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan telah merangkum pengamatannya mengenai Omicron. Di antaranya sebagai berikut:

- Hanya sekitar 30 persen dari mereka yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir yang sakit parah, kurang dari setengah tingkat seperti selama minggu-minggu pertama gelombang pandemi sebelumnya.

- Rata-rata masa inap di rumah sakit untuk Covid-19 kali ini lebih pendek, yakni sekitar 2,8 hari dibandingkan dengan delapan hari.

- Hanya 3 persen pasien yang dirawat di rumah sakit baru-baru ini, yang positif Covid-19 telah meninggal, dibandingkan sekitar 20 persen pada wabah sebelumnya di negara itu.

Baca juga: Dokter di Afrika Selatan Ungkap Gejala Tak Biasa Covid-19 Varian Omicron yang Muncul saat Malam Hari

"Saat ini, hampir semuanya menunjuk ke arah penyakit yang lebih ringan," kata Willem Hanekom, direktur Institut Penelitian Kesehatan Afrika.

"Ini masih awal, dan kami perlu mendapatkan data final. Seringkali rawat inap dan kematian terjadi kemudian, dan kita baru dua minggu memasuki gelombang ini," lanjutnya.

Sementara itu, para ilmuwan di seluruh dunia mengamati jumlah kasus dan tingkat rawat inap, sambil menguji untuk melihat seberapa baik vaksin dan perawatan saat ini bertahan.

Lebih lanjut, Pillay diketahui telah melakukan pengamatan di Provinsi Gauteng, di mana varian Omicron ditemukan.

Provinsi Gauteng yang merupakan provinsi terpadat di Afrika Selatan, mengalami peningkatan kasus sebesar 400 persen dalam kasus baru pada minggu pertama Desember.

Baca juga: Kasus Pertama Covid-19 Varian Omicron Terrkonfirmasi Muncul di Taiwan

Tes menunjukkan Omicron bertanggung jawab atas lebih dari 90 persen lonjakan itu, kata pejabat kesehatan.

Pillay mengatakan pasien Covid-19-nya selama gelombang Delta terakhir mengalami kesulitan bernapas dan kadar oksigen lebih rendah.

Banyak yang membutuhkan rawat inap dalam beberapa hari, katanya.

Berbeda dengan kondisi itu, pasien yang dirawatnya sekarang memiliki gejala yang lebih ringan, seperti flu, seperti nyeri tubuh dan batuk, lanjut Pillay.

Pillay adalah direktur asosiasi yang mewakili sekitar 5.000 dokter umum di seluruh Afrika Selatan, dan rekan-rekannya telah mendokumentasikan pengamatan serupa tentang Omicron.

Baca juga: Studi dari Jerman Buktikan Risiko Covid-19 di Bioskop Sangat Rendah

Netcare, penyedia layanan kesehatan swasta terbesar, juga melaporkan kasus Covid-19 yang tidak terlalu parah. Namun jumlah kasus terus meningkat.

Afrika Selatan mengkonfirmasi 22.400 kasus baru pada hari Kamis dan 19.000 pada hari Jumat, naik dari sekitar 200 per hari beberapa minggu lalu.

Lonjakan baru telah menginfeksi 90.000 orang dalam sebulan terakhir, Menteri Kesehatan Joe Phaahla mengatakan pada hari Jumat.

"Omicron telah mendorong kebangkitan,” kata Phaahla, mengutip penelitian yang mengatakan 70 persen dari kasus baru secara nasional berasal dari Omicron.

Tingkat reproduksi virus corona dalam gelombang saat ini menunjukkan jumlah orang yang kemungkinan terinfeksi oleh satu orang adalah 2,5, tertinggi yang tercatat di Afrika Selatan selama pandemi, katanya.

Baca juga: Pelatih Vietnam Sekak Pelatih Malaysia yang Lagi Pusing Karena Covid-19: Kenapa Tak Bawa 30 Pemain?

"Karena ini adalah varian yang sangat menular, kami melihat peningkatan yang belum pernah kami lihat sebelumnya," kata Waasila Jassat, yang melacak data rumah sakit untuk National Institute for Communicable Diseases.

Dari pasien yang dirawat di rumah sakit dalam gelombang saat ini, 86 persen-nya tidak divaksinasi terhadap virus corona, kata Jassat.

Pasien Covid-19 di rumah sakit Afrika Selatan sekarang juga lebih muda daripada periode pandemi lainnya, di mana sekitar dua pertiganya berusia di bawah 40 tahun.

Jassat mengatakan bahwa meskipun tanda-tanda awalnya adalah kasus omicron tidak terlalu parah, volume kasus baru Covid-19 mungkin masih membanjiri rumah sakit Afrika Selatan dan mengakibatkan jumlah gejala dan kematian yang lebih tinggi.

"Itulah bahaya yang selalu menyertai ombak," kata Jassat.

Baca juga artikel lain terkait Virus Corona

(Tribunnews.com/Rica Agustina)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved