Jumat, 29 Agustus 2025

Virus Corona

2 Tahun setelah Pandemi, Virus Corona Akhirnya Masuk ke Negara Terpencil Ini

Setelah hampir dua tahun pandemi, negara terpencil di kepualaun Pasifik ini pada akhirnya tak bisa menghindar lagi dari Covid-19.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Arif Fajar Nasucha
Erin Magee/DFAT
Sebuah desa di Kiribati. Setelah hampir dua tahun pandemi, negara terpencil di kepualaun Pasifik ini pada akhirnya tak bisa menghindar lagi dari Covid-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Ketika virus corona pertama kali menyebar ke seluruh dunia, Kiribati yang terpencil menutup perbatasannya, memastikan penyakit itu tidak mencapai pantainya selama hampir dua tahun penuh.

Hingga pada Januari 2022, Kiribati membuka perbatasannya, seperti yang dilaporkan ABC News.

Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir diizinkan menyewa pesawat untuk membawa 54 warga Kepulauan Pasifik pulang ke negara mereka.

Banyak dari mereka adalah misionaris yang telah meninggalkan Kiribati sebelum perbatasan ditutup.

Mereka memiliki misi menyebarkan keyakinan yang disebut gereja Mormon di luar negeri.

Penumpang yang kembali dipastikan diperiksa di Fiji, negara tetangga terdekat.

Petugas memastikan pelaku perjalanan luar negeri telah divaksinasi, dikarantina dan bahkan dilakukan pengujian tambahan ketika mereka tiba di rumah.

Tapi langkah itu tidaklah cukup.

Lebih dari setengah penumpang dinyatakan positif Covid-19.

Baca juga: Mengenal Kembali Ring of Fire, Letusan Gunung Api Bawah Laut di Tonga Terletak di Cincin Api Pasifik

Baca juga: RI dan Australia Perlu Kembangkan Kerja Sama Manajemen Kebencanaan Kawasan Pasifik

Peta Kepulauan Pasifik
Peta Kepulauan Pasifik (Encyclopædia Britannica, Inc.)

Virus kini telah menyebar ke masyarakat dan mendorong pemerintah untuk menyatakan keadaan bencana.

Dari 36 kasus positif awal dari penerbangan, telah berlipat ganda menjadi 181 kasus pada hari Jumat (28/1/2022).

Kiribati dan beberapa negara Pasifik merupakan tempat-tempat di sudut dunia yang sebelumnya belum terjamah virus.

Lokasi mereka yang terpencil dan kontrol perbatasan yang ketat diduga menjadi faktor penyebab tidak masuknya virus ke negara pulau itu.

Tapi pertahanan mereka tampaknya tidak cukup kuat menghadapi varian omicron yang sangat menular.

"Secara umum, ini tidak bisa dihindari. Virus ini akan sampai ke setiap sudut dunia," kata Helen Petousis-Harris, seorang ahli vaksin di University of Auckland di Selandia Baru.

"Ini masalah seputar mengulur waktu untuk mempersiapkan dan membuat sebanyak mungkin orang divaksinasi."

Hanya 33% dari 113.000 penduduk Kiribati yang sudah divaksinasi lengkap.

Sementara itu, 59% telah menerima setidaknya satu dosis, menurut publikasi ilmiah online Our World in Data.

Seperti banyak negara Pasifik lainnya, Kiribati hanya menawarkan layanan kesehatan dasar.

Sebuah desa di Kiribati
Sebuah desa di Kiribati (Erin Magee/DFAT)

Dr. Api Talemaitoga, yang memimpin jaringan dokter Pribumi Kepulauan Pasifik di Selandia Baru, mengatakan Kiribati hanya memiliki beberapa tempat perawatan intensif di sepanjang negeri.

Di masa lalu, Kiribati bahkan mengandalkan pengiriman pasien yang sakit parah ke Fiji atau Selandia Baru untuk perawatan.

Talemaitoga mengatakan bahwa mengingat keterbatasan sistem kesehatan Kiribati, reaksi pertamanya ketika dia mendengar tentang wabah sudah sampai ke sana adalah, "Oh, Tuhanku."

Kiribati sekarang telah membuka beberapa tempat karantina, mengumumkan jam malam dan memberlakukan lockdown.

Presiden Taneti Maamau mengatakan di media sosial bahwa pemerintah menggunakan semua sumber dayanya untuk mengelola situasi, dan mendesak rakyat untuk divaksinasi.

Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, yang berbasis di negara bagian Utah, AS, memiliki pengaruh yang kuat di banyak negara Pasifik, termasuk Kiribati.

Dengan 20.000 anggota, menjadikannya denominasi Kristen terbesar ketiga.

Gereja memiliki sekitar 53.000 misionaris yang melayani di seluruh dunia, bekerja untuk mempertobatkan orang.

Pandemi telah memunculkan tantangan bagi pekerjaan misionaris mereka, yang dianggap sebagai upacara peralihan bagi pria setidaknya 18 tahun dan wanita 19 tahun.

Ketika pandemi mengalir, gereja bertindak.

26.000 misionaris yang melayani di luar negeri pada Juni 2020, ditugaskan untuk berdakwah secara online dari rumah sebelum mengirim beberapa kembali ke lapangan lima bulan kemudian.

Ketika vaksin COVID-19 tersedia secara luas di banyak negara pada April 2021, pejabat gereja mendorong semua misionaris untuk divaksin dan mewajibkan vaksin bagi mereka yang melayani di luar negeri.

Juru bicara Gereja Sam Penrod mengatakan para misionaris yang kembali tetap dikarantina.

Mereka bekerja sama dengan otoritas kesehatan setempat dan akan dibebaskan dari pelayanan mereka setelah menyelesaikan karantina mereka.

"Dengan ditutupnya perbatasan Kiribati sejak awal pandemi, banyak dari individu-individu ini terus menjadi misionaris jauh melampaui bulan pelayanan yang diperkirakan, yaitu 18 hingga 24 bulan, beberapa bahkan melayani selama 44 bulan," katanya.

Sebelum wabah bulan ini, Kiribati melaporkan hanya dua kasus virus, yaitu anggota awak di kapal kargo yang masuk.

Kapal itu pun pada akhirnya tidak diizinkan untuk berlabuh.

Tetapi penerbangan charter Kiribati kali ini bukan pertama kalinya para misionaris yang pulang ke negara mereka dinyatakan positif COVID-19.

Pada bulan Oktober, seorang misionaris yang kembali ke Tonga dari dinas di Afrika dilaporkan sebagai kasus positif pertama di negara itu setelah terbang melalui Selandia Baru.

Wabah tidak berkembang jauh.

Seperti mereka yang kembali ke Kiribati, pasien tersebut juga divaksinasi dan dikarantina.

Tonga dan Samoa

Tak hanya Kiribati, negara tetangga Tonga pun tengah kesulitan.

Tonga saat ini berusaha untuk mencegah wabah apa pun saat pulih dari letusan gunung berapi dan tsunami awal bulan ini.

Negara berpenduduk 105.000 jiwa itu telah menerima bantuan dari seluruh dunia.

Tetapi Tonga telah meminta agar awak dari kapal dan pesawat militer yang masuk cukup menjatuhkan pasokan bantuan mereka dan pergi tanpa melakukan kontak dengan penduduk yang ada di darat.

"Mereka sudah cukup kesulitan meski tanpa penyebaran COVID," kata Petousis-Harris, ahli vaksin.

"Apa pun yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya akan menjadi penting."

"COVID hanya akan menambah bencana itu."

Namun, dalam jangka panjang, tidak mungkin menghentikan virus memasuki Tonga atau komunitas lain mana pun, kata Petousis-Harris.

Samoa terdekat, dengan populasi 205.000, juga berusaha mencegah wabah pertamanya.

Samoa memberlakukan lockdown hingga Jumat malam setelah 15 penumpang dalam penerbangan masuk dari Australia pekan lalu dinyatakan positif.

Hingga Kamis, jumlah itu bertambah menjadi 27, termasuk lima perawat garis depan yang merawat para penumpang.

Para pejabat mengatakan semua yang terinfeksi telah diisolasi dan sejauh ini tidak ada penularan komunitas.

Sementara serangan virus ke Pasifik telah mendorong lockdwon dan pembatasan lainnya, ada tanda-tanda bahwa tidak semua aspek tradisional kehidupan pulau akan hilang untuk waktu yang lama.

"Pemerintah telah memutuskan untuk mengizinkan penangkapan ikan," kata pemerintah Kiribati pada hari Kamis, sambil mencantumkan batasan waktu dan tempat tertentu.

"Hanya empat orang yang diizinkan berada di kapal atau bagian dari kelompok yang memancing di dekat pantai."

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan