Konflik Rusia Vs Ukraina

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu Menghilang saat Putin Tengah Selidiki Orang-orang Terdekatnya

Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu menghilang dari hadapan publik setelah muncul laporan Putin tengah menginvestigasi orang terdekatnya.

Alexey NIKOLSKY / SPUTNIK / AFP
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu (kanan) dan kepala staf umum Valery Gerasimov menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia di Moskow pada 27 Februari 2022. Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu menghilang dari hadapan publik setelah muncul laporan bahwa Vladimir Putin tengah menginvestigasi orang-orang di dekatnya atas dugaan kebocoran informasi militer. 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu menghilang dari hadapan publik setelah muncul laporan bahwa Vladimir Putin tengah menginvestigasi orang-orang di dekatnya atas dugaan kebocoran informasi militer.

Dilansir The National, Shoigu bertugas memantau invasi Rusia ke Ukraina.

Ia mengawasi operasi militer yang mengakibatkan lebih dari 10.000 tentara Rusia tewas dan korban sipil yang tak terhitung jumlahnya.

Menteri pertahanan itu tidak terlihat di depan umum selama 12 hari.

Sebelumnya, muncul laporan bahwa Putin sedang menyelidiki sekutu terdekatnya setelah adanya kekhawatiran terhadap rencana militer Rusia yang bocor.

Beberapa mengklaim bahwa kebocoran informasi itu mengakibatkan lebih dari 12 jenderal Rusia tewas di Ukraina.

Baca juga: Putin Usir Diplomat AS Sebagai Balasan Pengusiran 12 Diplomat Rusia di PBB Oleh AS

Baca juga: Zelensky Serukan Demonstrasi di Seluruh Dunia untuk Dukung Ukraina Lawan Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah), Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu (kiri) dan Panglima Angkatan Laut Rusia, Laksamana Nikolai Yevmenov (kanan) menghadiri parade Hari Angkatan Laut di St.Petersburg pada 25 Juli 2021.
Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah), Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu (kiri) dan Panglima Angkatan Laut Rusia, Laksamana Nikolai Yevmenov (kanan) menghadiri parade Hari Angkatan Laut di St.Petersburg pada 25 Juli 2021. (Alexey NIKOLSKY / SPUTNIK / AFP)

Kecurigaan juga muncul tentang keselamatan Shoigu.

Laporan Kremlin pada 18 Maret menyebut bahwa Shoigu dan Putin telah berdiskusi dengan anggota tetap dewan keamanan tentang "kemajuan operasi khusus di Ukraina".

Namun, tidak ada rekaman atau foto agenda tersebut yang dirilis.

Di hari yang sama, Channel One menampilkan satu segmen di mana Shoigu memberikan penghargaan.

Tetapi foto yang ditampilkan bukanlah foto terbaru, melainkan foto yang diterbitkan pada 11 Maret, terakhir kali Shoigu terlihat.

Sebelumnya selama awal-awal invasi, Shoigu cukup sering muncul di depan publik.

Kini orang-orang terdekatnya mengatakan Shoigu tidak sehat akibat masalah jantung, menurut outlet berita investigasi Agentstvo yang diberitahu oleh sumber yang dekat dengan menteri.

Meskipun Shoigu menjadi teman lama Putin, sikapnya terhadap invasi sebelumnya dipertanyakan.

Bulan Februari lalu, Shoigu menarik perhatian karena bahasa tubuhnya yang dinilai tidak nyaman saat berbicara dengan pesiden.

Menambah spekulasi, putri Shoigu juga baru-baru ini terlihat mengenakan pakaian berwarna biru dan kuning seperti bendera Ukraina.

NATO: Tentara Rusia yang Tewas dan Terluka di Ukraina Mencapai 40.000 Orang

Sebanyak sekitar 40.000 tentara Rusia berjatuhan dalam sebulan pertempuran di Ukraina, ujar seorang perwira senior militer NATO.

Dilansir Independent, perkiraan jumlah tersebut termasuk personel militer Rusia yang diperkirakan terluka atau terbunuh serta mereka yang hilang atau ditawan sejak Vladimir Putin menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Berbicara dari Brussel, pejabat NATO yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan angka itu didasarkan pada informasi yang diberikan oleh Kyiv, petunjuk yang diberikan oleh Rusia dan data yang diperoleh melalui intelijen sumber terbuka.

Jumlah korban diperkirakan dihitung dengan asumsi ada sekitar tiga tentara yang terluka untuk setiap tentara yang tewas, tambah mereka.

Baca juga: Tentara Rusia Terancam Kelaparan dan Kekurangan Amunisi, Putin Dikhawatirkan Gunakan Senjata Kimia

Baca juga: Beritakan 10.000 Tentara Rusia Tewas di Ukraina, Surat Kabar Rusia Klaim Situsnya Telah Diretas

Ini artinya jumlah tentara yang tewas sekitar 15.600, angka kematian Rusia menurut perhitungan Ukraina.

Tim penyelamat bekerja di luar sebuah bangunan menghancurkan sebuah bangunan perumahan lima lantai yang sebagian runtuh di Kyiv pada 18 Maret 2022, ketika tentara Rusia mencoba mengepung ibukota Ukraina.
Tim penyelamat bekerja di luar sebuah bangunan menghancurkan sebuah bangunan perumahan lima lantai yang sebagian runtuh di Kyiv pada 18 Maret 2022, ketika tentara Rusia mencoba mengepung ibukota Ukraina. (Sergei SUPINSKY / AFP)

Jika perhitungan Kyiv akurat, maka jumlah tentara Rusia yang tewas saat ini lebih banyakdaripada jumlah tentara Rusia yang tewas selama perang Soviet-Afghanistan dalam satu dekade.

Pada 2 Maret, Moskow mengatakan 498 tentaranya tewas dalam perang.

Awal pekan ini, surat kabar pro-Kremlin Komsomolskaya Pravda menerbitkan sebuah artikel online yang mengungkapkan hampir 10.000 tentara tewas dalam perang dengan lebih dari 16.000 terluka.

Namun artikel itu dihapus tak lama kemudian.

Sejumlah besar pejabat tinggi Rusia juga diduga tewas selama konflik.

Baca juga: Berapa Jumlah Tentara Ukraina, Rusia dan Warga Sipil yang Tewas Sejak Invasi 24 Februari Lalu?

Baca juga: Belarusia Disebut-sebut Bakal Terlibat Perangi Ukraina, 15 Siap Bantu Tentara Rusia

Seorang penasihat presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada hari Minggu (20/3/2022) bahwa 6 jenderal Rusia dan puluhan kolonel telah kehilangan nyawa mereka.

"Bagi saya yang penting adalah laporan korban besar di kolonel dan di atasnya, tulang punggung tentara Rusia, bukan hanya jenderal," kata seorang diplomat senior di Moskow kepada Reuters.

Sementara itu, Konrad Muzyka, seorang analis pertahanan, mengatakan akan menjadi "masalah besar" jika bahkan dua jenderal terbunuh.

"Kami tidak hanya berbicara tentang jenderal, kami juga berbicara tentang kolonel yang tentu saja juga sangat tinggi dalam organisasi," tambahnya.

Polisi Ukraina membawa mayat dari sebuah bangunan perumahan lima lantai yang sebagian runtuh setelah penembakan di Kyiv pada 18 Maret 2022, ketika tentara Rusia mencoba mengepung ibukota Ukraina.
Polisi Ukraina membawa mayat dari sebuah bangunan perumahan lima lantai yang sebagian runtuh setelah penembakan di Kyiv pada 18 Maret 2022, ketika tentara Rusia mencoba mengepung ibukota Ukraina. (Sergei SUPINSKY / AFP)

Sementara perang di Ukraina akan memasuki minggu kelima, Ukraina telah mendesak negara-negara barat untuk memasok negaranya dengan lebih banyak senjata.

Baca juga: Luapkan Kemarahan pada Putin, Tentara Rusia: Dia Tidak Hanya Menipu Kita, tapi Seluruh Rusia

Baca juga: VIDEO Tentara Rusia Menangis Melihat Banyak Temannya Tewas, Sebut Putin Pembohong

Swedia telah setuju untuk mengirim 5.000 rudal anti-tank lagi ke Kyiv.

Sementara itu Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah berjanji untuk mendesak sekutunya untuk secara substansial meningkatkan kontribusi peralatan militer mereka.

Dikatakan sekitar 9 juta orang kini harus meninggalkan rumah mereka untuk menghindari konflik.

Lebih dari 3,5 juta dari total ini sekarang telah melintasi perbatasan ke negara-negara tetangga, menurut PBB.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sumber: TribunSolo.com
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved