Pakar PBB Ungkap Jumlah Kematian Anak-anak di Myanmar akibat Konflik

Pakar PBB mengatakan bahwa puluhan anak telah tewas di Myanmar akibat kekerasan sejak kudeta tahun 2021. Anak di bawah umur dipukuli hingga ditikam.

DIBYANGSHU SARKAR / AFP
Pengungsi Muslim Rohingya yang terdampar setelah meninggalkan Myanmar berjalan menuju kamp pengungsi Balukhali setelah melintasi perbatasan di distrik Ukhia Bangladesh pada 2 November 2017. - Pakar PBB mengungkap jumlah anak-anak Myanmar yang tewas sejak kudeta tahun 2021. 

TRIBUNNEWS.COM - Seorang pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan puluhan anak telah tewas akibat kekerasan di Myanmar sejak kudeta tahun 2021 lalu.

Tidak hanya dalam baku tembak konflik tetapi sebagai sasaran yang disengaja dari militer yang bersedia menimbulkan penderitaan besar.

Anak-anak di bawah umur dipukuli dan ditikam dan kuku jari atau giginya dicabut selama interogasi.

Sementara beberapa orang dipaksa untuk menjalani eksekusi palsu, menurut laporan dari pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, Tom Andrews, sebagaimana dilansir CNA, Selasa (14/6/2022).

Baca juga: Warga Myanmar Tuduh Pasukan Junta Bakar Lebih dari 200 Rumah selama Tiga Hari

Baca juga: Junta Myanmar Tolak Banding, Aktivis dan Anggota Parlemen NLD akan Hadapi Hukuman Mati

Junta telah berulang kali memarahi PBB dan negara-negara Barat karena campur tangan dan menolak tuduhan bahwa mereka melakukan kekejaman.

Berdasarkan kontribusi dari badan-badan PBB, kelompok-kelompok kemanusiaan dan hak asasi manusia dan organisasi masyarakat sipil, laporan itu mengatakan 250.000 anak-anak terlantar akibat pertempuran.

Sedikitnya 382 anak telah tewas atau cacat, termasuk oleh serangan udara atau artileri berat.

"Serangan tanpa henti junta terhadap anak-anak menggarisbawahi kebobrokan dan kesediaan para jenderal untuk menimbulkan penderitaan besar pada korban yang tidak bersalah dalam upayanya untuk menundukkan rakyat," kata Andrews dalam sebuah pernyataan.

"Serangan junta terhadap anak-anak merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang."

Pengungsi Myanmar, yang meninggalkan rumah mereka di tengah gelombang kekerasan, berkumpul di tempat penampungan sementara di distrik Mae Sot Thailand pada 18 Desember 2021. (Photo by AFP)
Pengungsi Myanmar, yang meninggalkan rumah mereka di tengah gelombang kekerasan, berkumpul di tempat penampungan sementara di distrik Mae Sot Thailand pada 18 Desember 2021. (Photo by AFP) (AFP/-)

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer merebut kekuasaan awal tahun lalu dan melancarkan tindakan keras terhadap lawan-lawannya, yang memicu reaksi keras oleh kelompok-kelompok perlawanan yang baru dibentuk.

PBB telah menerima informasi dari 142 anak-anak yang disiksa oleh tentara, polisi dan milisi pro-tentara, kata laporan Andrews, sementara ada laporan anekdot tentang peningkatan perekrutan pekerja anak, termasuk oleh pejuang anti-junta.

Andrews mengatakan dunia harus mengambil tindakan terkoordinasi untuk mengisolasi junta secara finansial dan berkomitmen untuk "peningkatan dramatis" dalam bantuan kemanusiaan.

Dia mengatakan anggota PBB "harus menanggapi krisis di Myanmar dengan urgensi yang sama seperti mereka menanggapi krisis di Ukraina".

(Tribunnews.com/Yurika)

Sumber: TribunSolo.com
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved