Kamis, 4 Juni 2026

Sri Lanka Bangkrut

Gara-gara BBM Langka, Seorang Pria Meninggal dalam Antrean Bahan Bakar di Sri Lanka

Seorang pria yang sedang menunggu di antrean bahan bakar di Payagala, Sri Lanka meninggal pada Kamis pagi waktu setempat.

Tayang:
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
AFP/ISHARA S. KODIKARA
Orang-orang mengantri untuk membeli minyak tanah. Gara-gara BBM Langka, Seorang Pria Meninggal dalam Antrean Bahan Bakar di Sri Lanka 

TRIBUNNEWS.COM, PAYAGALA - Seorang pria yang sedang menunggu di antrean bahan bakar di Payagala, Sri Lanka meninggal pada Kamis pagi waktu setempat.

Korban berusia 60 tahun dan berasal dari Rawathawatte, Moratuwa.

Dikutip dari laman www.dailymirrror.lk, Kamis (7/7/2022), ia tiba-tiba jatuh sakit sekitar pukul 01.30 dini hari setelah menunggu dalam antrean selama tiga hari.

Pria itu pun kemudian dinyatakan meninggal dunia saat dirawat di Rumah Sakit Kalutara.

Sebelumnya, seorang pria yang menderita luka serius akibat kecelakaan kendaraan, diduga meninggal karena ambulans yang hendak membawanya ke rumah sakit kekurangan bahan bakar.

Dikutip dari laman www.dailynews.lk, Selasa (28/6/2022), ambulans tersebut seharusnya membawa dirinya ke rumah sakit besar dari rumah sakit desa untuk menjalani perawatan lanjutan.

Baca juga: Presiden Sri Lanka Minta Vladimir Putin Bantu Impor Bahan Bakar

Menurut kerabat pasien, pihak berwenang di rumah sakit Wettewa di Matigama harus memanggil ambulans dari rumah sakit lain untuk membawa pasien tersebut ke rumah sakit Nagoda, karena tidak ada bahan bakar untuk ambulans yang dioperasikan rumah sakit mereka.

Bahkan setelah satu setengah jam menunggu, ambulans dari rumah sakit lain itu belum juga tiba dan pada saat itu pasien pun telah dinyatakan meninggal dunia.

Hal tersebut disampaikan oleh istri almarhum yang memberikan kesaksian pada pemeriksaan Koroner atas kematian pasien pada hari Minggu lalu.

Sebelumnya, korban yang sedang mengendarai sepeda motor untuk membeli ikan, bertabrakan dengan mobil van di Kopiwatta, Matigama.

"Saya memberitahu anak-anak dan pergi ke Kopiwatta, namun suami saya sudah dibawa ke rumah sakit Wettewa. Saat saya pergi ke Rumah Sakit Wettewa di Matigama, suami saya sudah berada di dalam kasur dorong dan petugas mengatakan kepada saya bahwa suami saya akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Nagoda untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," jelas sang istri.

Para petugas itu, kata dia, mengatakan bahwa ambulans harus didatangkan dari rumah sakit lain karena rumah sakit Wettewa tidak memiliki cukup bahan bakar untuk mengoperasikan ambulansnya.

"Namun kendaraan tidak juga datang selama satu setengah jam, hingga akhirnya suami saya memejamkan mata untuk terakhir kalinya di depan mata saya," kata sang istri.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved