Konflik Rusia Vs Ukraina

Gazprom Catatkan Lonjakan Pendapatan hingga 41,8 Miliar Dolar AS, Sanksi Barat Tak Berpengaruh?

Lonjakan pendapatan ini terjadi tepat setelah Uni Eropa dan para sekutunya memberlakukan sanksi ekonomi dengan memangkas impor minyak mentah dan gas

TASS/Vitaly Nevar
Fasilitas kilang minyak Gazprom. Produsen minyak dan gas terbesar di Rusia Gazprom mencatatkan lonjakan penjualan, hingga laba bersihnya meningkat sebanyak 41,8 miliar dolar AS selama dua kuartal di tahun 2022. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW - Produsen minyak dan gas terbesar di Rusia Gazprom mencatatkan lonjakan penjualan, hingga laba bersihnya meningkat sebanyak 41,8 miliar dolar AS selama dua kuartal di tahun 2022.

"Meskipun ada tekanan sanksi Grup Gazprom melaporkan kenaikan pendapatan dan laba bersih pada paruh pertama tahun 2022," jelas Famil Sadygov, wakil kepala eksekutif Gazprom.

Lonjakan pendapatan ini terjadi tepat setelah Uni Eropa dan para sekutunya memberlakukan sanksi ekonomi dengan memangkas impor minyak mentah dan gas dari Rusia, sebagai bentuk ancaman atas serangan operasi militer yang dilakukan Putin terhadap Ukraina sejak Februari lalu.

Baca juga: Gazprom Rusia Tutup Pipa Nord Stream 1, Krisis Energi Eropa Dikhawatirkan Makin Parah  

Meski sanksi ini sempat memukul mundur pemasukan ekspor migas Rusia hingga anjlok 19 miliar dolar AS dan sahamnya ikut terkerek turun hampir 30 persen.  Namun hal tersebut tak membuat Rusia hengkang dari industri migas.

Dengan mengubah target ekspor dari pasar Eropa ke Asia serta memberikan diskon besar-besaran di tengah kenaikan minyak pasar global.  Pendapatan Gazprom kini bisa mengembalikan kerugian di bulan sebelumnya. Dimana pada akhir sesi perdagangan Moskow, Selasa (30/8/2022) sahamnya melonjak naik jadi 7,4 persen, dikutip dari Reuters.

Berkat lonjakan ini Gazprom bahkan dapat membayar tunggakan dividen interim senilai 2,4 triliun rubel atau 39 miliar dolar AS, tagihan ini seharusnya dibayarkan Gazprom pada bulan Juni lalu. Namun akibat pembatasan harga minyak yang dilakukan kelompok G7, pendapatan ekspor Rusia jadi dibatasi. Alasan inilah yang membuat Gazprom memutuskan untuk tidak membayar dividen atas hasil tahun lalu.

Akan tetapi setelah saham Gazprom terus mencatatkan kenaikan Jamil Sadygov, wakil kepala eksekutif Gazprom mengatakan bahwa perusahaan akan tetap patuh membayarkan kebijakan dividennya, walaupun hanya 50 persen dari laba bersih yang disesuaikan dalam dividen. Langkah ini diambil Gazprom demi memacu reli penjualan saham perusahaan minyaknya agar tak kembali ambrol ke level terendah.

Baca juga: Gazprom Takkan Terima Turbin dari Siemens, Ancaman Krisis Gas di Jerman Kian Nyata

Vladimir Putin Tegaskan Sanksi Barat Tak Mampu Runtuhkan Ekonomi Rusia

Langkah barat yang tengah berupaya menghancurkan sektor perekonomian Rusia dengan melayangkan sejumlah sanksi, tampaknya belum mampu memukul mundur ekonomi negara pimpinan Vladimir Putin ini.

"Saya mengecam negara-negara yang ingin melemahkan Rusia termasuk Amerika Serikat. Amerika Serikat menyatakan kemenangan dalam perang dingin dan kemudian menganggap diri mereka sebagai utusan Tuhan sendiri di planet Bumi," kata Vladimir Putin.

Justru melalui pidatonya di Forum Ekonomi Internasional St Petersburg, Vladimir Putin menyebut bahwa sanksi Barat tidak akan memberikan dampak berarti bagi Rusia.

Bahkan ekonomi di negaranya kini masih terbilang stabil meski serangan sanksi Barat terus mencoba meruntuhkan Rusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penurunan proyeksi pada tingkat inflasi Rusia.

Baca juga: Di Bawah Perjanjian Pragmatis, Gazprom Tingkatkan Ekspor Gas Rusia ke Hungaria

Dimana menurut data yang dilansir dari The Hindu, tingkat inflasi Rusia saat ini hanya sebesar 16,7 persen. Setelah pada April lalu harga Consumer Price Index (CPI) mencapai angka 17,8 persen, mengutip data Federal Statistics Service Rusia.

Halaman
12
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved