Dikabarkan Tewas Dalam Serangan Bom Mobil, Pejabat Pro Rusia Ternyata Selamat

Sempat dikabarkan meninggal dalam sebuah serangam bo mobil di Ukraina Selatan, seorang pejabat militer-sipil pro Rusia ternyata diselamatkan.

Editor: Hendra Gunawan
Russia Today
Rongsokan mobil yang diserang lewas bom diduga oleh pembela Ukraina. Dilaporkan bahwa pejabat pro Rusia, Artyom Bardin, selamat dalam serangan tersebut. Namun mengalami luka parah 

TRIBUNNEWS.COM -- Sempat dikabarkan meninggal dalam sebuah serangam bo mobil di Ukraina Selatan, seorang pejabat militer-sipil pro Rusia ternyata diselamatkan.

Artyom Bardin, kepala administrasi militer-sipil yang dikendalikan Rusia di kota Berdyansk, Ukraina selatan, masih hidup.

Russia Today melaporkan, Kepala medis di Departemen Kesehatan Berdyansk, Nikolay Miroshnichenko mengkonfirmasi hal itu.

Bardin dilaporkan tewas pada hari Senin setelah mobilnya diledakkan dalam bom mobil yang oleh pemerintah setempat disebut sebagai serangan teroris.

Bardin dirawat di rumah sakit dalam kondisi serius dan pihak berwenang setempat mengkonfirmasi kematiannya kepada wartawan pada Senin malam.

Miroshnichenko membantah laporan ini dengan mengatakan bahwa gubernur militer masih hidup pada Selasa malam. Pejabat itu juga menggambarkan kondisi gubernur sebagai "serius tetapi stabil."

Mobil gubernur diguncang ledakan saat diparkir di dekat kantor pemerintah kota. Tiga kendaraan sipil lainnya rusak dalam ledakan itu, media Rusia melaporkan.

Vladimir Rogov, seorang anggota administrasi Wilayah Zaporozhye, menyalahkan serangan itu pada “teroris rezim Zelensky,” merujuk pada Presiden Ukraina Vladimir Zelensky. Sejauh ini belum ada tersangka yang ditetapkan secara resmi.

Baca juga: Di Tengah Konflik Energi Rusia dan Eropa, Harga Minyak Alami Kenaikan Jadi 88,91 Dolar AS Per Barel

Kota Berdyansk direbut oleh pasukan Rusia di awal konflik yang sedang berlangsung antara Moskow dan Kiev dan tetap berada di bawah kendali Rusia sejak saat itu.

Serangan hari Senin bukanlah yang pertama di kota itu. Pada akhir Agustus, wakil komandan polisi lalu lintas setempat, Aleksandr Kolesnikov, tewas dalam insiden serupa.

Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, mengutip kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.

Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada tahun 2014.

Mantan presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui bahwa tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.”

Pada Februari 2022, Kremlin mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved