Menlu China: Amerika Serikat Harus Ambil Pelajaran dari Hubungan yang Rusak Parah

Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi mengatakan hubungan China dan Amerika Serikat (AS) dalam kondisi rusak parah

Editor: Adi Suhendi
Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
Menteri Luar Negeri China (Menlu) Wang Yi mengatakan hubungan China dan Amerika Serikat (AS) dalam kondisi rusak parah menyusul polemik soal Taiwan. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi mengatakan hubungan China dan Amerika Serikat (AS) dalam kondisi rusak parah.

Menurut Wang Yi, Amerika Serikat harus mengambil pelajaran dari kondisi tersebut.

Hal ini ia sampaikan dalam pembicaraan di lokasi Misi Tetap Republik Rakyat China (RRC) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Jumat (23/9/2022).

Ucapannya ditujukan kepada Menlu Amerika Serikat, Antony Blinken.

Wang Yi mengatakan bahwa hubungan China-AS berada di titik kritis.

Dilansir Xinhua, Wang Yi mengatakan sangat penting bagi kedua belah pihak, dengan sikap bertanggung jawab kepada dunia, sejarah, dan masyarakat kedua negara untuk mengadopsi pendekatan yang tepat demi mewujudkan kerukunan antar dua negara besar.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak Saat Rebound Permintaan China dan Kekhawatiran Pasokan Energi Rusia

China juga berharap kedua belah pihak berupaya untuk menghentikan kemerosotan lebih lanjut pada hubungan bilateral dan menstabilkannya kembali.

Wang Yi secara spesifik berfokus pada pelanggaran-pelanggaran terbaru yang dilakukan pihak AS terkait masalah Taiwan, secara komprehensif menguraikan posisi resmi pihak China.

"Masalah Taiwan merupakan inti dari kepentingan inti China, dan hal itu memiliki bobot yang signifikan di dalam benak rakyat China," kata Wang Yi.

Baca juga: Gara-gara Jual Senjata ke Taiwan, China Jatuhkan Sanksi ke Boeing Defence dan Raytheon

"Misi kami adalah untuk menjaga kedaulatan nasional dan integritas teritorial, dan sama sekali tidak ada ambiguitas tentang hal itu," lanjut Wang Yi kepada Blinken.

Wang Yi mengingatkan Blinken bahwa AS telah membuat komitmen politik yang jelas kepada China mengenai masalah Taiwan, termasuk tiga kesepakatan bersama China-AS yang dicapai beberapa dekade lalu dan pernyataan yang berulang kali disampaikan pemerintah AS saat ini bahwa pihaknya tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.

Personel militer memandu penduduk setempat untuk berlindung selama Latihan Serangan Udara Wanan, latihan serangan udara sipil yang diadakan pada hari yang sama dengan latihan militer tahunan Han Kuang, di Taipei pada 25 Juli 2022. (Photo by Sam Yeh / AFP)
Personel militer memandu penduduk setempat untuk berlindung selama Latihan Serangan Udara Wanan, latihan serangan udara sipil yang diadakan pada hari yang sama dengan latihan militer tahunan Han Kuang, di Taipei pada 25 Juli 2022. (Photo by Sam Yeh / AFP) (AFP/SAM YEH)

Namun, apa yang telah dilakukan menurut Wang Yi, AS bertentangan dengan komitmennya dan berupaya untuk merusak kedaulatan nasional dan integritas teritorial China.

Wang Yi juga menyebut bahwa apa yang dilakukan AS menghalangi tujuan besar reunifikasi damai China, dan terlibat dalam apa yang disebut sebagai strategi menggunakan Taiwan untuk mengekang China.

Baca juga: Cina Protes Setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden Janji Bela Taiwan

Dia juga menambahkan bahwa pihak AS bahkan secara terbuka mengklaim akan membantu melindungi Taiwan, yang telah mengirimkan sinyal yang sangat berbahaya dan salah.

Wang menyatakan AS harus kembali mematuhi tiga kesepakatan China-AS dan prinsip Satu China sebagaimana adanya.

Serta, menegaskan kembali kebijakan Satu China-nya tanpa elemen tambahan, dan dengan tegas menyatakan penolakan jelas terhadap segala bentuk aktivitas separatis kemerdekaan Taiwan.

"Masalah Taiwan merupakan urusan internal China. AS sama sekali tidak berhak ikut campur dalam proses penyelesaian masalah Taiwan. Sikap China terkait penyelesaian masalah Taiwan selalu konsisten dan tidak ambigu, yaitu bahwa China akan terus berpegang pada prinsip-prinsip dasar reunifikasi damai dan satu negara, dua sistem," ujarnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved