Profil Yusuf al-Qaradhawi, Ulama Besar Dunia Asal Mesir yang Wafat di Usia 96 Tahun
Berikut profil Sheikh Yusuf al-Qaradhawi, Cendekiawan Muslim berpengaruh yang meninggal pada Senin (26/9/2022) pada usia 96 tahun.
Penulis:
Arif Tio Buqi Abdulah
Editor:
Garudea Prabawati
Sikapnya terhadap kedua masalah itu membuatnya mendapat kritik keras yang sudah berlangsung lama di dunia Barat.
Padahal ia termasuk tokoh yang mengutuk serangan 9/11 di Amerika Serikat oleh militan jihad dari al-Qaeda.
Ia juga mendukung pemberontakan pro-demokrasi terhadap para pemimpin Mesir, Libya dan Suriah selama Musim Semi Arab.
Al-Qaradhawi menggabungkan pendidikan agama dengan aktivisme anti-kolonial selama masa mudanya.
Aktivismenya melawan pendudukan Inggris dan kemudian, hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin menyebabkan penangkapannya beberapa kali selama tahun 1950-an.
Setelah pindah ke Qatar pada tahun 60-an, ia sangat jarang kembali ke Mesir.
Dia tidak kembali ke Mesir sampai 2011, ketika pemberontakan rakyat menggulingkan Presiden lama Hosni Mubarak.
Qaradawi, yang telah mendukung para pengunjuk rasa dalam siaran TV-nya, mengeluarkan dekrit yang melarang personel keamanan menembaki mereka.
Ia kemudian memimpin salat Jumat bagi ratusan ribu orang di Tahrir Square seminggu setelah pengunduran diri Mubarak.
Baca juga: Mengenal Rukun Iman, Pengertian dan Maknanya Bagi Umat Muslim
Kembali ke Pengasingan
Dikutip dari BBC, Al-Qaradawi kembali lagi ke pengasingan pada 2013 setelah militer menggulingkan penerus Mubarak yang terpilih secara demokratis, Mohammed Morsi.
Ia sangat kritis terhadap kudeta yang menggulingkan presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis itu.
Ia melakukan penentangan terhadap Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan mendesak semua kelompok di Mesir untuk mengembalikan Morsi ke posisinya yang sah.
Pada 2015, sebuah pengadilan di Mesir menjatuhkan hukuman mati kepada Qaradawi dan puluhan orang lainnya secara in absentia atas pembobolan penjara massal selama pemberontakan 2011.
Tapi dia menolak putusan itu dan menganggapnya sebagai omong kosong atau rekayasa belaka.