Diplomat AS Harap China dan Rusia Kerja Sama Tutup Jaringan Korut Usai Tembakkan Rudal Balistik

Amerika Serikat tetap terbuka untuk berdialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat.

HO
Korea Utara dilaporkan telah meluncurkan rudal balistik jarak menengah ke kawasan Jepang, tembakan ini merupakan kali kelima yang dilakukan presiden Korut Kim Jong-un dalam sepuluh hari terakhir. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Diplomat Amerika Serikat (AS) untuk Asia Timur menggambarkan peluncuran rudal balistik yang dilakukan Korea Utara (Korut) di atas langit Jepang pada Selasa waktu setempat, menjadi jalan untuk membuat dialog tetap terbuka.

Dikutip dari laman Reuters, Selasa (4/10/2022), rudal yang ditembakkan itu terbang di atas langit Jepang untuk pertama kalinya dalam lima tahun, mendorong peringatan bagi penduduk untuk berlindung dan menghentikan sementara operasi kereta api di Jepang utara.

Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik, Daniel Kritenbrink mengatakan bahwa China perlu berbuat lebih banyak untuk memerangi penghindaran sanksi oleh Korut di perairan pantainya.

Ia meminta China dan Rusia untuk bekerja sama menutup jaringan pengadaan Korut.

Baca juga: Rudal Balistik Korea Utara Melintasi Wilayah Jepang, Warga Diminta Berlindung di Bawah Tanah

"Kami mendesak (Korea Utara) untuk mengambil jalan dialog, berkomitmen untuk diplomasi yang serius dan berkelanjutan, serta menahan diri dari kegiatan destabilisasi lebih lanjut," kata Kritenbrink dalam virtual meeting yang diadakan oleh Institute for Corean-American Studies, sesaat setelah Korut meluncurkan rudal balistik terbarunya.

Kritenbrink pun menegaskan bahwa AS tetap terbuka untuk berdialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat.

"Sayangnya, satu-satunya tanggapan yang kami lihat sejauh ini adalah peningkatan jumlah peluncuran rudal balistik dan tindakan provokatif lainnya. Ini bukan jalan yang produktif ke depannya, baik untuk Korea Utara maupun untuk kita semua," jelas Kritenbrink.

Kritenbrink kemudian mengulangi penilaian AS bahwa dimulainya kembali uji coba bom nuklir oleh Korut untuk pertama kalinya sejak 2017 kemungkinan besar hanya menunggu keputusan politik.

Ia menuturkan, tindakan 'berbahaya' seperti itu akan mewakili 'eskalasi yang secara serius mengancam stabilitas dan keamanan regional serta internasional'.

"Adalah kepentingan terbaik masyarakat internasional untuk memastikan DPRK (Korut) tahu bahwa tindakan seperti itu akan mendapat kecaman dengan suara bulat, bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian dan stabilitas jangka panjang adalah negosiasi," papar Kritenbrink, merujuk pada inisial Korut.

Ia memang sangat kritis terhadap China serta Rusia, dan mengatakan bahwa membujuk Korut untuk melakukan denuklirisasi harus menjadi bidang kerja sama dengan saingan strategis AS, yakni China.

"Kegagalan China dan Rusia untuk sepenuhnya memenuhi kewajiban mereka, kami khawatir, membuat DPRK berani merongrong Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), tatanan berbasis aturan internasional dan rezim non-proliferasi global," jelas Kritenbrink.

Kritenbrink mengatakan AS akan mengambil semua tindakan yang diperlukan.

"Tindakan yang melibatkan semua elemen kekuatan nasional Amerika untuk membela sekutu perjanjian Korea Selatan dan Jepang," kata Kritenbrink.

Baca juga: Respons PM Fumio Kishida Soal Rudal Balistik Korea Utara Melintasi Wilayah Jepang: Tindakan Sembrono

Sambil membiarkan pintu terbuka untuk dialog, kata dia, AS akan 'menanggapi secara tegas' ancaman yang berkembang yang ditimbulkan oleh Korut.

"Kami tidak punya pilihan lain selain melakukannya, saya tidak berpikir siapapun harus meragukan hasil kami dalam hal mengejar sanksi dan otoritas lain untuk membebankan biaya pada tindakan ini," tutur Kritenbrink.

Perlu diketahui, sanksi puluhan tahun yang dipimpin AS telah gagal membendung program rudal dan bom nuklir Korut yang semakin canggih.

Saat Korut dipimpin Kim Jong Un, negara itu 'semakin tidak menunjukkan minat' untuk mengembalikan jalur diplomasi yang gagal yang ia tempuh sebelumnya bersama mantan Presiden AS Donald Trump.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved