Konflik Rusia Vs Ukraina

Boeing Tawarkan ke Pentagon Buat Bom untuk Ukraina

Pentagon dilaporkan sedang mempertimbangkan tawaran dari raksasa dirgantara Amerika Serikat (AS) Boeing untuk memproduksi secara massal bom presisi.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Daryono
AFP/HANDOUT
Gambar selebaran ini diambil dan dirilis oleh Polisi Nasional Ukraina pada 10 Oktober 2022, menunjukkan sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak setelah serangan di Zaporizhzhia, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. (Photo by Handout / National Police of Ukraine / AFP) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Pentagon dilaporkan sedang mempertimbangkan tawaran dari raksasa dirgantara Amerika Serikat (AS) Boeing untuk memproduksi secara massal bom presisi murah untuk Ukraina.

Produksi itu ditawarkan 'menggunakan gudang AS yang ada', karena AS dan sekutunya berjuang untuk memenuhi kebutuhan bantuan militer bagi Ukraina.

Dikutip dari laman Russia Today, Senin (28/11/2022), Boeing telah mengusulkan untuk memasok pasukan Ukraina dengan apa yang disebut sistem Ground-Launched Small Diameter Bomb (GLSDB).

Sistem itu akan memasangkan Bom Diameter Kecil (SDB) GBU-39 senilai 40.000 dolar AS dengan motor roket M26 yang relatif melimpah.

Senjata tersebut pun telah dikembangkan sejak 2019 lalu.

Baca juga: Ekspor Gandum Ukraina Disebut Tidak Mencapai 3 Juta ton Akibat Lambatnya Inspeksi Kapal oleh Rusia

Dalam dokumen yang dilihat oleh Reuters, pabrikan mengklaim bahwa ketersediaan komponen yang diperlukan akan memungkinkannya memproduksi persenjataan dan mulai mengirimkannya ke Ukraina paling cepat pada musim semi 2023.

Namun masih ada kendala logistik yang harus diatasi, karena setidaknya enam pemasok harus mempercepat pengiriman suku cadang untuk memproduksi senjata secara cepat.

Boeing juga meminta pengabaian harga, yang akan membebaskan kontraktor dari tinjauan mendalam untuk memastikan Pentagon mendapatkan kesepakatan yang adil.

Menurut situs web SAAB AB, yang memproduksi senjata bersama dengan Boeing, GLSDB yang dipandu GPS mampu menyerang target pada jarak hingga 150 kilometer.

Ini berpotensi memungkinkan Ukraina untuk menyerang pasukan Rusia jauh melampaui garis depan.

Saat militer AS dan Boeing menolak mengomentari laporan tersebut, Juru bicara Pentagon Letnan Cmdr Tim Gorman mengatakan bahwa AS dan sekutu 'mengidentifikasi dan mempertimbangkan sistem yang paling tepat' yang akan membantu Ukraina.

Namun ia menolak untuk menyebutkam rincian tentang penyediaan 'kemampuan khusus' apapun ke Ukraina.

Baca juga: Ada Negara yang Sembunyi-sembunyi Bantu Militer Ukraina, Kirim Senjata Lewat Pihak Ketiga

Sebelumnya, Rusia telah berulang kali memperingatkan AS dan sekutu NATO-nya agar tidak memasok senjata ke Ukraina, dengan alasan bahwa itu hanya memperpanjang konflik dan pada akhirnya dapat menyebabkan konfrontasi langsung antara Rusia dan negara Barat.

Kremlin menggambarkan konflik yang sedang berlangsung sebagai perang proksi melawan NATO.

Hal itu karena negara-negara seperti AS dan Inggris telah menyediakan sistem senjata yang lebih canggih untuk pasukan Ukraina, yang mampu menjangkau jauh di belakang garis depan.

Presiden Rusia Vladimir Putin pun menyatakan bahwa Rusia memerangi 'seluruh mesin militer Barat'.(*)

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved