Senin, 27 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Militer Inggris Terbangkan Paket Rudal Brimstone 2 ke Ukraina

Inggris mengirimkan bantuan rudal Brimstone 2 ke Ukraina menggunakan pesawat transport Royal Air Force ke lapangan terbang tujuan yang dirahasiakan.

Penulis: Setya Krisna Sumarga
MezhaMedia
Rudal Brimstone dipasang di sayap jet tepur Tornado G4. Rudal ini diproduksi perusahaan MBDK Inggris dan digunakan secara luas sebagai rudal udara ke darat menyasar target tank dan ranpur lapis baja. 

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Kementerian Pertahanan Inggris mengkonfirmasi pengiriman peluru kendali (rudal) Brimstone 2 ke Ukraina.

Rudal ini berpemandu laser dan diyakini akan menjadi senjata mematikan paling canggih yang digunakan di perang Rusia-Ukraina.

Negara barat pendukung Ukraina dan NATO mengabaikan peringatan berulang kali Moskow tentang risiko konflik langsung antara NATO dan Rusia.

Konfirmasi Kemenhan Inggris muncul di postingan akun Twitter Ministry of Defence (MoD) (terverifikasi), Minggu (27/11/2022).  

Postingan itu dilampiri video pendek menggambarkan proses pengiriman paket rudal Brimstone ke pesawat angkut militer Inggris.

Paket rudal presisi yang dikemas dalam kontainer kayu itu dikirim dari pangkalan Royal Air Force Brize Norton di Oxfordshire, ke lapangan terbang tujuan yang dirahasiakan.

Baca juga: Gudang Senjata Ukraina Hancur Lebur Dihajar Rudal Rusia, Ribuan Alat Perang Kiriman Barat Rusak

Baca juga: 142 HIMARS dan M270 MLRS Telah Sampai di Kiev, Ukraina Bertekad Hancurkan Jembatan Krimea

Baca juga: Kecanggihan Mikro Drone Black Hornet Kiriman Inggris, Ukraina Bisa Intai Rusia Tanpa Terdeteksi

Rudal-rudal itu adalah bagian dari "paket bantuan" Inggris untuk Ukraina. Laporan media sebelumnya menyebutkan pengiriman semacam itu berlangsung selama beberapa waktu.

“Bantuan ini telah memainkan peran penting dalam menghambat kemajuan Rusia,” tulis Kemenhan Inggris di twetnya.

Inggris mulai memasok versi sebelumnya dari rudal Brimstone ke Ukraina musim semi lalu. Brimstone 2 jauh lebih maju dari pendahulunya, tiga kali lipat kemampuannya.

Rudal ini dirancang ditembakkan dari pesawat terbang untuk menyerang target di darat.

Namun, pasukan darat Ukraina telah memodifikasinya menggunakan dudukan peluncur di truk guna menargetkan tank dan kendaraan lapis baja lainnya.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak yang baru menjabat, telah mengumumkan paket bantuan militer baru senilai £50 juta ($60 juta) selama kunjungannya ke Kiev awal bulan ini.

Setiap rudal Brimstone 2 dilaporkan berharga sekitar £175.000. Rudal ini dikembangkan perusahaan MBDA UK khusus untuk Royal Air Force Inggris.

Rudal ini awalnya dirancang untuk melawan formasi massal ranpur musuh, menggunakan pencari radar aktif gelombang milimeter (mmW) untuk memastikan akurasinya.

Setelah digunakan di Afghanistan, ada peningkatan fitur panduan laser dual-mode, yang memungkinkan target prioritas tertinggi dan spesifik meminimalir kerusakan di sekitar target.

Hulu ledaknya yang ganda efektif melawan tank modern daripada senjata serupa yang lebih tua seperti rudal AGM-65G Maverick.

Angkatan Udara Inggris memasang rudal ini di skuadron jet tempur Tornado sejak 2005. Modifikasi dilakukan agar rudal ini bisa dipasang di kapal perang, helicopter serang, UAV, dan peluncur darat.

Namun rudal ini bisa dipasang di jet tempur siluman Lockheed Martin F-35 Lightning II. Pengguna Brimstone antara lain Jerman, Qatar, dan Arab Saudi.

Peringatan Kremlin

Moskow telah berkali-kali memperingatkan ketika AS, Inggris, dan anggota NATO lainnya memasok persenjataan yang semakin canggih ke Ukraina, mereka hanya akan memperpanjang konflik.

Potensi konfrontasi langsung dengan Rusia pun akan semakin terbuka. Moskow mencirikan konflik Rusia-Ukraina sebagai "perang proxy" melawan AS dan NATO.

Presiden Putin menggambarkan Rusia sebagai bertempur melawan seluruh mesin militer barat menggunakan Ukraina sebagai medan laganya.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmitri Kuleba sebelumnya kepada media Prancis Le Parisien mengatakan telah menerima paket bantuan senjata yang dirahasiakan.  

“Sebagian besar negara ketiga ini secara terbuka mengatakan mereka tidak memasok apa pun, tetapi semuanya terjadi di belakang layar,” kata Kuleba.

Ia tidak menyebutkan negara mana yang secara diam-diam mendukung Kiev selama konfliknya dengan Moskow.

Komentar Kuleba muncul di tengah meningkatnya laporan pendukung Ukraina, termasuk sejumlah negara NATO, mengalami kekurangan persenjataan karena dukungan terus-menerus mereka untuk Kiev.

Menurut sebuah artikel baru-baru ini oleh New York Times, hanya anggota NATO yang lebih besar, seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Belanda, yang masih mampu meningkatkan pengiriman senjata ke Ukraina.

“Negara-negara kecil telah kehabisan potensi mereka,” kata seorang pejabat NATO kepada NYT seraya menambahkan setidaknya 20 dari 30 anggota blok itu sudah terkuras stok senjatanya.

Sejak awal konflik di Ukraina pada akhir Februari, AS dan sekutu Baratnya telah menghujani Kiev dengan miliaran dolar bantuan militer.

Moskow telah berulang kali memperingatkan barat agar tidak memompa Ukraina dengan persenjataan.

Rusia menggelar operasi khusus ke Ukraina sejak 24 Februari 2022, hingga perang berlanjut sampai hari ini.

Moskow bertekad ingin melindungi warga di wilayah-wilayah di Donbas yang mayoritas berbahasa Rusia, sekaligus ingin melenyapkan kekuatan neo-Nazi Ukraina.

Rusia menuding Ukraina gagal mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberi wilayah Donetsk dan Lugansk status khusus di dalam negara Ukraina.

Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada 2014.

Mantan Presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.

Pada 23 Februari 2022, Kremlin mengakui Republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral.

Ukraina harus menjadi negara yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer barat mana pun. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.

Musim gugur ini, empat wilayah yang sebelumnya merupakan wilayah Ukraina, Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk, serta Wilayah Kherson dan Zaporozhye, dimasukkan ke dalam Rusia setelah referendum.(Tribunnews.com/RussiaToday/xna)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved