Dampak Brexit pada Konsumen Inggris Terungkap, Bikin Rugi 7 Miliar Dolar AS

Brexit merugikan konsumen Inggris sebesar 5,8 miliar poundsterling atau setara 7 miliar dolar AS.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
Ist
Ilustrasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Dampak Brexit pada Konsumen Inggris Terungkap, Bikin Rugi 7 Miliar Dolar AS 

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Meninggalkan Uni Eropa (UE) telah menambahkan rata-rata 210 poundsterling atau setara 258 dolar Amerika Serikat (AS) ke dalam tagihan makanan rumah tangga Inggris selama dua tahun hingga akhir 2021.

Data ini terungkap melalui penelitian baru yang dilakukan Pusat Kinerja Ekonomi London School of Economics (LSE).

Menurut penelitian yang diterbitkan pada Kamis kemarin, Brexit merugikan konsumen Inggris sebesar 5,8 miliar poundsterling atau setara 7 miliar dolar AS.

Dikutip dari laman Russia Today, Jumat (2/12/2022), studi tersebut menegaskan bahwa tagihan makanan melonjak 6 persen, angka ini menjadi pukulan keras bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. 

Kenaikan harga yang dipicu oleh Brexit ini menambahkan 1,1 persen ke total biaya hidup mereka, lebih dari kenaikan 0,7 persen yang dirasakan oleh rumah tangga yang lebih kaya.

Laporan tersebut menyoroti bahwa kenaikan harga konsumen didorong oleh produk dengan hambatan non-tarif yang tinggi.

Sementara itu, tidak ada kenaikan yang signifikan pada produk dengan hambatan non-tarif yang rendah.

"Ini mengindikasikan bahwa eksportir UE dan importir Inggris menghadapi biaya yang lebih tinggi karena hambatan baru, 50 hingga 88 persen diantaranya diteruskan ke konsumen," kata laporan tersebut.

Kendati demikian, perdagangan antara Inggris dan UE tetap bebas tarif berdasarkan aturan perjanjian Brexit.

Baca juga: Terpuruk setelah Brexit, Ribuan Warga Demo Desak Inggris Kembali Masuk Uni Eropa

Namun, pemeriksaan bea cukai yang ekstensif, persyaratan aturan asal dan langkah-langkah sanitasi untuk perdagangan hewan dan tumbuhan telah menambah tekanan pada importir dan eksportir.

Studi LSE juga menemukan bahwa saat produsen makanan Inggris Raya mendapat keuntungan dari persaingan yang lebih sedikit, keuntungan mereka dikalahkan oleh kerugian konsumen hingga lebih dari 1 miliar poundsterling atau setara 1,2 miliar dolar AS.

Selain itu, keuntungan itu tidak menghasilkan pendapatan apapun bagi pemerintah.

"Saat meninggalkan UE, Inggris menukar hubungan perdagangan yang mendalam dengan sedikit hambatan untuk berdagang dengan hubungan yang membutuhkan berbagai pemeriksaan, formulir, dan langkah sebelum barang dapat melintasi perbatasan," tulis Profesor di Universitas Bristol dan rekan penulis studi, Richard Davies.

Ia menunjukkan bahwa tingkat inflasi Inggris naik di atas 11 persen pada 2022, ini merupakan tingkat tertinggi dalam 40 tahun.

Inggris memilih untuk meninggalkan UE pada Juni 2016, yang diikuti oleh negosiasi yang tegang selama beberapa tahun sebelum secara resmi meninggalkan serikat itu pada Januari 2020, dan keluar dari pasar tunggal serta serikat pabean pada Januari 2021.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved