Konflik Rusia Vs Ukraina

Joe Biden: Saya Siap untuk Berbicara dengan Putin Jika Segera Mengakhiri Perang

Joe Biden menolak berbicara dengan Putin sejak pemimpin Rusia itu melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AFP/SAUL LOEB
Presiden AS Joe Biden Biden bersedia berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin jika Putin bersedia untuk mengakhiri invasi ke Ukraina. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (1/12/2022) melakukan pertemuan di Gedung Putih untuk mempresentasikan front persatuan di Ukraina sembari mengecam invasi brutal yang dilakukan oleh Rusia.

Dalam pertemuan itu, Biden mengatakan bahwa dia akan berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin jika Putin bersedia untuk mengakhiri invasi.

Seperti diketahui, Biden menolak berbicara dengan Putin sejak pemimpin Rusia itu melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari, sementara Macron tetap membuka jalur komunikasi dengan Putin.

Baca juga: Rusia Klaim Serangan terhadap Infrastruktur Vital Ukraina Sah secara Militer

"Biarkan saya memilih kata-kata saya dengan sangat hati-hati," kata Biden, mengutip dari Reuters.

"Saya siap untuk berbicara dengan Tuan Putin jika dirinya berupaya segera untuk mengakhiri perang. Namun hingga saat ini, dia belum melakukannya,” imbuhnya.

Adapun, Macron mengatakan bahwa dia akan terus berdialog dengan Putin untuk mencoba mencegah eskalasi dan segera mengakhiri invasinya.

Meredakan Ketegangan Ekonomi

Selain menjanjikan dukungan untuk Ukraina, kedua pemimpin juga akan mencari cara untuk meredakan beberapa ketegangan ekonomi.

Biden berjanji kepada Macron untuk membuat perubahan pada undang-undang AS yang disahkan oleh Kongres tahun ini, yang dikhawatirkan negara-negara Eropa akan merugikan ekonomi mereka.

Sementara itu, Macron mengatakan bahwa dia khawatir terhadap Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) Biden, yang menawarkan subsidi besar-besaran untuk produk-produk buatan AS dan ditujukan demi mengatasi krisis iklim serta mempromosikan energi terbarukan.

"Prancis tidak datang ke sini untuk meminta semacam pengecualian untuk ekonominya. Kami datang untuk berbagi bagaimana konsekuensi dari peraturan ini berdampak pada kami," katanya.

Beberapa waktu lalu, para pemimpin Eropa mengatakan bahwa paket legislatif yang ditandatangani oleh Biden pada Agustus tidak adil bagi perusahaan non-Amerika dan akan menjadi pukulan serius bagi ekonomi mereka karena Eropa menghadapi dampak dari invasi Moskow.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved