BBC

Viral ‘chiki kebul’: Amankah nitrogen cair pada makanan?

Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk “tidak dulu” mengonsumsi Chiki Kebul, menyusul dua kasus keracunan terkait…

Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk “tidak dulu” mengonsumsi Chiki Kebul, menyusul dua kasus keracunan terkait jajanan tersebut.

Chiki Kebul, atau Chikibul, menjadi viral baru-baru ini berkat efek berasap yang yang dihasilkan dengan menambah nitrogen cair pada penganan biasa.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Jabar dr. Ryan Bayusantika mengatakan saat ini belum diketahui apakah semua produsen dan penjual Chikibul mengerti cara membuatnya atau konsumen sendiri mengerti cara mengonsumsinya.

“Kita khawatirkan kasus di Bekasi ini terjadi kembali karena baru satu orang anak yang berat, tapi ini terjadi,” ujarnya kepada wartawan di Bandung, Yuli Saputra, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Dinkes Jabar mencatat dua kasus keracunan terkait Chikibul yang terjadi pada bulan November dan Desember, masing-masing di Tasikmalaya dan Bekasi.

Namun, Dr. Ryan mengklarifikasi bahwa pihaknya belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan.

Dinkes juga belum memberlakukan pelarangan nitrogen cair dan masih "melakukan kajian bersama pihak lain".

Baca juga:

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap produk pangan siap saji yang menggunakan nitrogen cair.

Melalui surat edaran yang ditandatangani Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Maxi Rein Rondonuwu, pada 6 Januari, Kemenkes “tidak merekomendasikan” gerai pangan jajanan keliling menggunakan nitrogen cair pada produk pangan siap saji.

Adapun restoran yang menggunakan bahan tersebut harus berada di bawah pembinaan dan pengawasan dari dinas kesehatan setempat serta “diberikan informasi cara konsumsi yang aman kepada konsumen,” kata surat edaran tersebut.

Berapa banyak anak yang keracunan?

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Nina Susana, mengatakan dalam pernyataan tertulis bahwa terjadi lonjakan kasus keracunan makanan pada siswa SDN Ciawang, Tasikmalaya pada 15 November lalu. Sebanyak 24 anak mengonsumsi chikibul pada periode yang sama.

Dari jumlah itu, tujuh anak mengalami gejala dan diperiksa di Puskesmas. Enam anak sembuh dan satu anak dirujuk ke RS SMC Tasik, lalu dipulangkan beberapa hari kemudian.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved