Kamis, 30 April 2026

Kisah perjalanan break dance, dari jalanan New York hingga dilombakan di Olimpiade 2024

Saat gencatan senjata antara geng-geng di kota New York, breaking lahir - tapi tidak banyak yang mengira ia akan menaklukkan dunia…

Tayang:

Holman membantu mendirikan dan kemudian mengelola grup breaking baru yang hanya fokus pada gerakan 'power' yang dia lihat dari 'Floor Masters'.

Baca juga:

Mereka merekrut penari terbaik dari grup-grup terbaik di lima wilayah kota New York dan menamai grup baru itu 'New York City Breakers'. Grup ini beranggotakan beberapa break dancer legendaris: Noel 'Kid Nice' Manguel, Matthew 'Glide Master' Caban, dan Tony 'Powerful Pexster' Lopez.

Bersama-sama, mereka mengangkat break-dancing ke tingkat keterampilan yang sama sekali baru.

"Saya menyingkirkan para penari yang lemah dan merekrut tiga atau empat kru lain dari kota. Saya menciptakan supergrup power breaking," kata Holman.

"Para Breaker bisa bergerak seperti giroskop. Mereka mulai dengan gerak kaki lalu turun ke tanah dan, menggunakan semacam propulsi internal, bersama gesekan tanah, secara bersamaan melempar tubuh mereka dengan cara tertentu atau menyebar dengan cara tertentu, mereka menciptakan energi internal.

"Mereka mampu berputar dan melakukan gerakan-gerakan keren ini. Mereka menemukan cara baru untuk bergerak, dan itu murni puisi dalam bentuk gerakan."

Holman pertama kali tiba di New York dari San Francisco pada tahun 1978. Meskipun bekerja di sebuah bank di Wall Street, "mengenakan setelan Brookes Brothers setiap hari", ia segera jatuh cinta dengan budaya urban di kota tempat tinggalnya.

"Saya tinggal di sebuah apartemen loteng di Hudson [Street] dan Chambers [Street]," katanya. "Saya turun dengan lift di pagi hari dan saya melihat Joey Ramone [vokalis band punk ikonik The Ramones] - pulang dari pesta dengan seorang gadis di masing-masing lengannya. Itu gila."

Holman sendiri tak lama kemudian menjadi bagian dari gaya hidup itu, berteman dengan seniman grafiti pioner Fab Five Freddy dan kerap mengunjungi tempat-tempat malam seperti Max's Kansas City, Mudd Club, dan CBGBs; tempat yang memungkinkannya bergaul dengan banyak musisi, penyair, dan seniman pendatang baru lainnya.

"Saya memakan [budaya] di New York seperti es krim," kata Holman.

Holman ingat bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang sendirian dari sebuah pesta pada larut malam ketika dia melihat tanda-tanda pertama dari budaya jalanan baru yang muncul di sekitarnya.

"Saya setengah tertidur menunggu kereta bawah tanah. Dan kemudian kereta ini masuk ke stasiun dan ia dipenuhi, dari atas ke bawah, di semua jendela, dengan logo grafiti dan burners [desain besar dan rumit yang dibuat dengan cat semprot].

"Saya belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, itu adalah pesan gila dari jalanan. Itu adalah vandalisme, tetapi juga indah.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved