Konfrontasi Laut Cina Selatan Picu Konflik Hubungan Cina-Filipina
Insiden baru-baru ini di Laut Cina Selatan yang melibatkan misi pasokan ulang Filipina dan penjaga pantai Cina telah memperburuk hubungan…
Ketegangan meningkat antara Filipina dan Cina, imbas dari insiden konfrontasi baru-baru ini di wilayah sengketa Laut Cina Selatan.
Manila mengutuk penjaga pantai Cina pada hari Minggu (06/08) karena menembakkan meriam air ke kapal-kapal milik Filipina di jalur perairan yang disengketakan, dan menyebut tindakan Tiongkok tersebut "ilegal" dan "berbahaya".
Di sisi lain, Beijing mengklaim pihaknya hanya melakukan "tindakan yang diperlukan" terhadap kapal-kapal Filipina yang telah memasuki perairannya secara "ilegal".
Bagaimana kronologinya?
Insiden tersebut terjadi ketika kapal-kapal milik Filipina tengah dalam misi pengisian ulang bahan bakar untuk kapal perang BRP Sierra Madre, sebuah kapal era Perang Dunia ke-II yang sekarang digunakan oleh Manila sebagai pos militer.
Kapal yang secara sengaja ditempatkan di pantai oleh Manila pada tahun 1999 itu digunakan untuk memperkuat klaim kedaulatan Filipina yang telah lama menjadi titik api antara kedua negara di Laut Cina Selatan.
Personel angkatan laut Filipina yang ditempatkan di kapal itu hanya bisa bergantung pada misi pasokan ulang bahan bakar, demi bertahan hidup di tempat terpencil.
Beijing mencoba mengirim peringatan?
Direktur SeaLight di Pusat Gordian Knot untuk Inovasi Keamanan Nasional Universitas Stanford, Raymond Powell mengatakan bahwa insiden tersebut menunjukkan bahwa Cina ingin sekali menggunakan kekuatan maritimnya.
"Tampaknya cukup jelas bahwa Tiongkok tengah mencoba mengirim pesan bahwa waktu bermain telah berakhir, bahwa ada negara besar dan negara kecil, sehingga Filipina perlu mengingat di mana posisinya dalam urutan tersebut."
Konfrontasi maritim ini merupakan insiden terbaru yang masuk dalam daftar panjang masalah antara kedua belah pihak. Hal ini terjadi setelah Manila memprotes penggunaan laser oleh penjaga pantai Tiongkok terhadap sebuah kapal yang mendukung misi pasokan ulang negaranya pada bulan Februari lalu. Tiongkok kemudian mengklaim bahwa laser tersebut digunakan untuk "keamanan navigasi."
Powell, yang juga merupakan pensiunan kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), mengatakan bahwa tujuan Cina adalah untuk mencegah BRP Sierra Madre digunakan sebagai pangkalan militer. Tapi, Powell yakin militer Tiongkok tidak mungkin melancarkan serangan langsung ke kapal tersebut.
"Saya pikir, laser, pemblokiran, dan meriam air mungkin merupakan batas dari apa yang ingin dilakukan Tiongkok, karena sejujurnya dalam beberapa hal, strategi jangka panjang Cina masih tetap berhasil," tambah Powell.
"Filipina belum mampu memperbaiki atau mengganti BRP Sierra Madre. Seluruh strategi Tiongkok adalah untuk menghalangi mereka melakukan hal itu, sampai kapal tersebut rusak atau tidak dapat dihuni," ungkapnya lebih lanjut.
Powell juga berpendapat bahwa, "kapal ini tidak akan mempertahankan integritas struktural untuk selamanya. Pada akhirnya, kapal itu akan mulai rusak, dan hal itu yang akan memicu krisis."
Klaim yang disengketakan di SCS
Second Thomas Shoal (SCS) berjarak sekitar 200 kilometer dari pulau Palawan di Filipina dan lebih dari 1.000 kilometer dari daratan utama terdekat Cina, yakni pulau Hainan.
Sedangkan, Cina mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh Laut Cina Selatan, yang dilalui triliunan dolar perdagangan setiap tahunnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle66456442_403.jpg.jpg)