Sabtu, 18 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Israel dan Hamas Disebut Capai Kesepakatan soal Pembebasan Sandera, Netanyahu Beri Bantahan

Benjamin Netanyahu mengatakan belum ada kesepakatan untuk menjamin pembebasan sandera.

Penulis: Nuryanti
CHRISTOPHE ENA / POOL / AFP
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem pada 24 Oktober 2023. Benjamin Netanyahu mengatakan belum ada kesepakatan untuk menjamin pembebasan sandera. 

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan belum ada kesepakatan untuk menjamin pembebasan sandera yang disandera oleh Hamas.

Israel mengklaim sekitar 240 sandera ditahan oleh Hamas hingga sekarang.

Para sandera disebut berasal dari segala usia, termasuk anak-anak dan orang tua, serta warga negara Thailand dan Nepal.

Pada Sabtu (18/11/2023), The Washington Post melaporkan Israel, Amerika Serikat, dan Hamas hampir mencapai kesepakatan yang akan membebaskan puluhan perempuan dan anak-anak yang disandera di Gaza, dengan imbalan jeda pertempuran selama lima hari.

Dalam pengarahannya, Benjamin Netanyahu ditanya apakah Israel telah mengabaikan kesepakatan mengenai pembebasan sekitar 50 sandera.

Baca juga: Anak Buah Netanyahu: Bakar Gaza Sekarang! Kita Terlalu Manusiawi 

Namun, Netanyahu menjawab tidak ada kesepakatan dan dia tidak bisa menjelaskan lebih lanjut.

“Kami ingin mendapatkan kembali semua sandera,” ujarnya, Sabtu, dilansir The Times of Israel.

“Kami melakukan yang terbaik untuk mengembalikan yang terbaik, termasuk secara bertahap, dan kami bersatu dalam hal ini.”

“Kami jelas ingin menyatukan seluruh keluarga,” jelas Netanyahu.

Gedung Putih Bantah Ada Kesepakatan

Dikutip dari NDTV, Gedung Putih juga telah membantah adanya kesepakatan sejauh ini.

“Kami belum mencapai kesepakatan, namun kami terus bekerja keras untuk mencapai kesepakatan,” ungkap juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, Adrienne Watson, di X, sebelumnya Twitter, menanggapi laporan The Washington Post.

Sebelumnya, laporan The Washington Post mengutip para diplomat yang mengatakan bahwa perundingan yang dimediasi Qatar telah mencapai sebuah terobosan.

Israel dan Hamas disebut akan melakukan gencatan senjata setidaknya selama lima hari, sementara 50 atau lebih sandera dibebaskan secara bertahap setiap 24 jam.

Baca juga: Hacker Anonymous Global Ancam Benjamin Netanyahu: Setop Genosida atau Web Pemerintah Israel Lumpuh

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membuat pernyataan saat Presiden AS mendengarkan sebelum pertemuan di Tel Aviv pada 18 Oktober 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Palestina Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membuat pernyataan saat Presiden AS mendengarkan sebelum pertemuan di Tel Aviv pada 18 Oktober 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Palestina Hamas. (BRENDAN SMIALOWSKI / AFP)

Israel-Hamas Hampir Capai Kesepakatan

Israel dan Hamas hampir mencapai kesepakatan mengenai kesepakatan yang ditengahi AS yang akan membebaskan puluhan perempuan dan anak-anak yang disandera di Gaza dengan imbalan jeda pertempuran selama lima hari.

Pembebasan tersebut dapat dimulai dalam beberapa hari ke depan, kecuali ada hambatan di menit-menit terakhir, yang dapat mengarah pada jeda berkelanjutan pertama dalam konflik di Gaza.

Serangkaian persyaratan tertulis yang terperinci sepanjang enam halaman, mengharuskan semua pihak yang berkonflik untuk menghentikan operasi tempur setidaknya selama lima hari.

Lalu, 50 atau lebih sandera awal akan dibebaskan dalam jumlah yang lebih kecil setiap 24 jam.

Baca juga: Netanyahu Akui Israel Gagal Minimalkan Korban Sipil di Gaza: Kami Tidak Berhasil

Belum jelas berapa banyak dari 239 orang yang diyakini disandera di Gaza yang akan dibebaskan berdasarkan perjanjian tersebut.

Pengawasan dari atas akan memantau pergerakan di lapangan untuk mengawasi jeda tersebut.

Penghentian pertempuran juga dimaksudkan untuk memungkinkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah bantuan kemanusiaan, termasuk bahan bakar, untuk memasuki wilayah kantong yang terkepung dari Mesir.

“Kami telah membuat beberapa kemajuan baru-baru ini dan telah bekerja keras untuk mewujudkan hal ini."

"Namun situasi ini masih bergejolak,” kata seorang pejabat pemerintah pada hari Sabtu, yang tidak mau disebutkan namanya, dilansir The Washington Post.

Baca juga: Netanyahu Kecam Presiden Turki Erdogan karena Menyebut Israel sebagai Negara Teror

Warga Palestina memeriksa kehancuran menyusul pemboman Israel terhadap kamp pengungsi Rafah di Jalur Gaza selatan pada 15 November 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Palestina Hamas.
Warga Palestina memeriksa kehancuran menyusul pemboman Israel terhadap kamp pengungsi Rafah di Jalur Gaza selatan pada 15 November 2023, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Palestina Hamas. (MOHAMMED ABED / AFP)

Garis besar kesepakatan itu dibuat selama pembicaraan berminggu-minggu di Doha, Qatar, antara Israel, Amerika Serikat, dan Hamas, yang secara tidak langsung diwakili oleh mediator Qatar.

Namun, hingga saat ini masih belum jelas apakah Israel akan setuju untuk menghentikan sementara serangannya di Gaza, asalkan kondisinya tepat.

Israel tengah menghadapi tekanan ganda, yaitu kemarahan dalam negeri atas kegagalannya membebaskan para sandera dan kekhawatiran internasional atas besarnya korban jiwa dalam perang di Gaza.

Kini, setidaknya 12.000 orang telah tewas dalam serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Di Israel, jumlah korban tewas resmi akibat serangan Hamas mencapai sekitar 1.200 orang.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Berita lain terkait Konflik Palestina Vs Israel

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved