Senin, 8 Juni 2026

Seperti apa rumah hantu yang biaya produksinya mencapai miliaran rupiah?

Di Amerika Serikat, produksi rumah hantu ternyata bisa menelan biaya setara miliaran rupiah. Biaya untuk tenaga kerja dan bahan-bahan…

Tayang:
BBC Indonesia
Seperti apa rumah hantu yang biaya produksinya mencapai miliaran rupiah? 

Pengunjung juga harus mempunyai tempat parkir, dan bahkan mungkin transportasi massal untuk mengangkut mereka. Jangan lupakan pemasaran, konsesi, makanan dan alkohol, lisensi dan asuransi.

Ketika Jim Lorenzo, pemilik Blood Manor di New York City, membangun rumah hantu pertamanya di awal tahun 2000-an, biayanya sekitar US$125.000.

Ketika dia memperbaikinya beberapa tahun yang lalu, biayanya Rp15,6 miliar (US$1 juta) – dan Lorenzo bekerja di dalam gedung yang sudah ada.

Blood Manor memiliki 125 hingga 135 orang staf selama musim Halloween, dengan 60 hingga 95 orang yang bekerja pada malam tertentu, termasuk keamanan, penata rias, pekerja yang mengatur lemari pakaian, aktor, seniman airbrush, teknisi suara, ritel, dan staf lainnya yang membuat operasinya berjalan.

Rumah hantu itu, favorit di kalangan warga Manhattan, menghasilkan pendapatan kotor antara Rp12,4 miliar dan Rp14 milar.

Usaha kecil juga berinvestasi dalam jumlah besar. Michael Phillips, pemilik Phillips Farms di Cary, North Carolina, mengatakan atraksi Halloween – termasuk Field of Lost Souls dan Gore House yang sangat menyeramkan – biasanya membutuhkan biaya Rp390 juta hingga Rp780 juta.

Dia membutuhkan 70 orang atau lebih untuk mengoperasikan rumah hantunya, yang dihadiri 1.500 hingga 2.000 orang setiap malam.

Bahkan atraksi amal, seperti Scare for a Cure di Texas tengah, menghabiskan sekitar Rp312 juta untuk membuat rumah hantu yang dikelola para sukarelawan, kata presiden Susan Prat.

Pengeluaran terbesarnya adalah memberi makan para relawan dan biaya asuransi untuk keseluruhan operasi.

Ada sekitar 2.000 pengunjung setiap tahunnya dan mereka bisa mengumpulkan uang sekitar Rp780 juta untuk penelitian kanker dan badan amal lokal lainnya.

'Mereka berubah menjadi spektakuler’'

Sebagian besar perusahaan dan organisasi melakukan persiapan sepanjang tahun untuk acara mereka, tetapi rumah hantu pada akhirnya merupakan usaha musiman.

Mengandalkan pendapatan dalam waktu singkat bisa berisiko – kehilangan beberapa hari saja dapat merusak bisnis.

"Kami mendapatkan untung, tapi kami sangat berhati-hati dalam mengeluarkan biaya. Kami membukukan banyak bisnis, tapi itu berisiko," kata Lorenzo dari Blood Manor.

Rumah hantunya terpaksa ditutup selama lima hari saat Badai Sandy, dan hal itu membuat bisnisnya lesu. Covid-19 juga merupakan pukulan telak.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved