Laporan Tahunan Amnesty International Kritik ‘Standar Ganda’ Eropa
Organisasi hak asasi manusia Amnesty International menyayangkan sikap Jerman beserta negara Eropa lainnya soal Gaza. Situasi di Timur…
Sekretaris Jenderal Amnesty International Jerman Julia Duchrow secara terang-terangan mengkritik Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman, Annalena Baerbock.
Hal itu dilakukannya saat menyajikan laporan tahunan Amnesty.
Berlawanan dengan pernyataan Baerbock, Duchrow menyebut kalau Menlu Jerman ini tidak menjalankan kebijakan luar negeri yang berbasis hak asasi manusia (HAM), dan menerapkan "standar ganda" dalam konflik Israel-Gaza.
Laporan itu menyatakan, bagi jutaan orang di seluruh dunia, "Gaza kini melambangkan kegagalan moral yang dilakukan oleh banyak arsitek sistem pasca-Perang Dunia Kedua, yakni kegagalan mereka dalam menegakkan komitmen absolut terhadap universalitas, kemanusiaan bersama, dan komitmen 'tidak akan pernah terjadi lagi'."
Amnesty International menuduh "beberapa pemimpin Eropa dan kepemimpinan Uni Eropa" bersama dengan pihak berwenang Israel dan Amerika Serikat tidak menghormati prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam PBB dan hukum hak asasi manusia internasional.
Perilaku mereka, katanya, merupakan contoh "standar ganda".
Mengacu pada serangan 7 Oktober 2023, laporan tersebut berbicara tentang "kejahatan mengerikan yang dilakukan oleh Hamas."
Dalam serangan tersebut, para anggota kelompok Islam militan, yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara lain, membunuh lebih dari 1.200 warga Israel dan menculik sekitar 245 orang, yang kemudian dibawa ke Jalur Gaza dan disandera.
Amnesty International, kata Duchrow, tidak menggunakan label "kelompok teroris" untuk Hamas, atau organisasi lainnya. Alasannya, tidak ada definisi yang diterima untuk istilah tersebut di bawah hukum internasional.
Amnesty tuduh Israel lakukan ‘hukuman kolektif' di Gaza
Pascaserangan 7 Oktober, dalam laporannya Amnesty menyebut "Israel menghasut kampanye pembalasan yang kemudian menjadi kampanye hukuman kolektif” yang melibatkan "pengeboman yang disengaja dan tidak pandang bulu terhadap warga dan infrastruktur sipil”.
Menurut laporan itu, "pihak berwenang Israel telah melakukan upaya khusus untuk membingkai serangan mereka di Gaza sebagai kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional,” padahal, "kenyataannya, mereka telah membuat olok-olok atas beberapa norma inti hukum itu.”
Bagi warga Palestina yang berada di Jalur Gaza, kata laporan itu, situasi saat ini adalah "versi yang jauh lebih kejam dan merusak ketimbang kejadian 'Nakba' 1948." Kata Arab untuk "bencana" adalah kata yang digunakan orang Palestina untuk merujuk pada pendirian negara Israel, perang yang mengikutinya, dan pengungsian serta pemindahan paksa rakyat Palestina.
Selama lebih dari dua tahun, Amnesty International, telah dikritik habis-habisan oleh Israel dan organisasi-organisasi Yahudi. Alasannya, dalam salah satu laporannya yang terdahulu, Amnesty International menuduh Israel melakukan "apartheid".
Lantas, Israel menolak tuduhan ini dan telah berulang kali menuduh Amnesty mempromosikan antisemitisme dan mengambil pandangan yang bias terhadap konflik tersebut.
Amnesty telah mendesak diakhirinya pendudukan Israel atas wilayah Palestina, termasuk Yerusalem Timur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle68847466_403.jpg.jpg)