Cek Fakta: Tips Cerdik Agar Tidak Tertipu Situs Web Palsu
Organisasi media kini menghadapi tren yang semakin menjamur: Situs web dan logo mereka dikloning untuk menyebarkan disinformasi. Bagaimana…
Menurut Newsguard, sebuah layanan pemantauan disinformasi dan media asal AS, sejak 2018 ada 40 organisasi media terkemuka yang terkena pemalsuan seperti ini. Dan masalah ini terus berkembang setiap tahunnya.
Sebagian besar kasus yang ditemukan terkait dengan operasi pengaruh Rusia yang menyebarkan narasi anti-Ukraina dan anti-Barat.
Salah satu operasi ini dikenal sebagai kampanye doppelgänger yang dimulai setelah Rusia menginvasi Ukraina.
Pada Juni lalu, Kementerian Luar Negeri Jerman menerbitkan laporan teknis yang menjelaskan bagaimana negara itu terkena dampak dari operasi Rusia ini, termasuk "puluhan kloning situs web media arus utama."
McKenzie Sadeghi, yang menulis analisis untuk Newsguard, menjelaskan bahwa jenis disinformasi ini mengikuti pola yang mirip: Klaim-klaim tersebut diposting massal oleh akun-akun yang tidak mencolok di platform seperti Telegram. Beberapa klaim kemudian diambil oleh tokoh-tokoh terkenal, baik dengan sengaja atau tidak.
"Pemalsuan ini semakin populer dan akhirnya masuk ke media negara Rusia yang mengutip tokoh-tokoh terkenal di media sosial yang membagikan klaim tersebut, alih-alih mencantumkan sumber asli dari Telegram, sehingga asal usulnya tertutup sepenuhnya,” ungkapnya.
Mencemarkan reputasi jurnalisme online
Menurut Newsguard, media yang paling banyak dipalsukan adalah BBC, CNN, Al Jazeera, kelompok jurnalisme investigatif Bellingcat, Fox News, The Wall Street Journal, dan USA Today. DW juga menjadi target dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, pola, tema, dan aktor-aktor yang terlibat tidak selalu sama, karena ada perbedaan yang jelas secara regional.
Di Nigeria, situs web palsu dari Vanguard dan Daily Trust menyebarkan rumor tentang topik-topik seperti pandemi COVID-19, pemberontakan Boko Haram, atau harga minyak—isu-isu yang sangat relevan dalam perdebatan politik lokal.
"Website atau situs web media palsu adalah masalah besar dan memiliki potensi untuk merusak kredibilitas dan kualitas jurnalisme online, opini publik, proses demokrasi, dan kohesi sosial,” papar Abubakar Tijjani Ibrahim, seorang penulis studi dan dosen di Kano State Polytechnic di Nigeria.
Ia menambahkan bahwa, karena situs-situs kloning ini kekurangan etika profesional dan pengamanan, "pengelola situs seringkali cenderung sensationalis dan menyajikan topik dengan cara yang provokatif."
Bagaimana cara memeriksa konten?
Periksa keaslian informasi dengan memadukan pengamatan kritis dan analisis dengan penggunaan alat yang dapat memberikan petunjuk berharga (meskipun tidak selalu sempurna).
Saran pertama adalah mencari kesalahan ejaan atau tata bahasa, serta jarak yang tidak rata atau teks yang buram.
Jika kamu ragu, buka jendela browser terpisah, buka mesin pencari, dan cari langsung situs berita yang asli.
Bandingkan penampilan dan tampilan kedua situs tersebut. Apakah ada yang tampak aneh?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle71983746_403.jpg.jpg)