Konflik Palestina Vs Israel
Angkatan Udara Israel Akan Pecat Pilot yang Teken Petisi Perang Gaza, Tugas di IDF Tak Dilanjutkan
Pejabat militer Israel mengatakan para penandatangan yang sedang bertugas aktif akan diberhentikan karena surat terkait perang Gaza.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Pravitri Retno W
TRIBUNNEWS.COM - Seorang pejabat militer Israel mengatakan, pilot cadangan yang secara terbuka menyerukan pembebasan sandera bahkan dengan mengorbankan diakhirinya perang Gaza, akan diberhentikan dari angkatan udara.
Hampir 1.000 pensiunan dan pilot pesawat tempur cadangan Israel menyerukan surat terbuka pada Kamis (10/4/2025), agar pemerintah memprioritaskan pembebasan sandera yang tersisa di Gaza, bahkan jika itu berarti menghentikan perang melawan Hamas.
Pejabat militer Israel mengatakan para penandatangan yang sedang bertugas aktif akan diberhentikan karena surat tersebut.
"Dengan dukungan penuh dari Kepala Staf Umum, Panglima IAF (Angkatan Udara Israel) telah memutuskan bahwa setiap prajurit cadangan aktif yang menandatangani surat tersebut tidak akan dapat melanjutkan tugasnya di IDF (militer)" kata pejabat itu kepada AFP, Kamis.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendukung pemecatan tersebut.
"Pernyataan yang melemahkan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) dan memperkuat musuh kita di masa perang tidak dapat dimaafkan," katanya.
Pejabat militer Israel mengatakan tidak ada ruang bagi "para prajurit cadangan yang bertugas aktif untuk mengeksploitasi status militer mereka (secara politik) sementara pada saat yang sama berpartisipasi dalam pertempuran."
Pejabat itu mengatakan surat tersebut sebagai "pelanggaran serius kepercayaan antara komandan dan bawahan."
Pilot Cadangan Israel Teken Petisi
Surat yang diterbitkan pada satu halaman penuh di sejumlah surat kabar harian, secara langsung menantang kebijakan Benjamin Netanyahu, yang bersikeras, peningkatan tekanan militer terhadap Gaza adalah satu-satunya cara untuk membuat militan Palestina membebaskan sandera yang ditawan selama serangan Hamas pada Oktober 2023.
"Kami, awak pesawat cadangan dan yang sudah pensiun, menuntut agar para sandera segera dipulangkan meskipun dengan mengorbankan penghentian permusuhan segera," bunyi surat itu.
Baca juga: Puji Iran, Eks Dubes Israel: Iran Negosiator Kelas Dunia, Israel Punya Alasan untuk Cemas
"Perang ini terutama melayani kepentingan politik dan pribadi, bukan kepentingan keamanan," katanya.
Mereka menambahkan, serangan lanjutan "akan mengakibatkan kematian para sandera, tentara IDF, dan warga sipil tak berdosa, serta kelelahan dinas cadangan."
"Hanya kesepakatan yang dapat memulangkan para sandera dengan selamat, sementara tekanan militer terutama berujung pada pembunuhan para sandera dan membahayakan prajurit kita," jelasnya.
Pejabat militer itu mengatakan sebagian besar penandatangan surat itu bukanlah anggota cadangan aktif.
"Kebijakan kami jelas – IDF berdiri di atas semua pertikaian politik. Tidak ada ruang bagi siapa pun atau individu, termasuk para prajurit cadangan yang bertugas aktif, untuk mengeksploitasi status militer mereka sambil secara bersamaan berpartisipasi dalam pertempuran dan menyerukan penghentiannya," kata pejabat itu.
Unjuk Rasa Keluarga Sandera
Diberitakan Reuters, keluarga sandera dan pengunjuk rasa mingguan telah meminta pemerintah sayap kanan Netanyahu untuk membuat kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan para sandera, bahkan jika itu mengharuskan Israel untuk menarik diri sepenuhnya dari Gaza dan menghentikan konflik.
Namun, Netanyahu mengatakan Israel akan terus bertempur hingga semua tujuannya tercapai, termasuk mencabut kemampuan Hamas untuk memerintah Gaza, dan bahwa pendekatan ini pada akhirnya akan membebaskan para sandera.
Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada hari Kamis oleh Institut Demokrasi Israel menemukan adanya peningkatan dukungan selama perang untuk memprioritaskan pembebasan sandera daripada pemusnahan Hamas.
Baca juga: Caplok Tepi Barat, Israel Lanjutkan Operasi Tembok Besi Hingga Tahun Depan: Usir Warga Palestina

Ditemukan, 68 persen warga Israel menganggap membawa pulang sandera harus menjadi prioritas tertinggi.
Diketahui, perang itu dimulai setelah militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang, menurut penghitungan Israel.
Serangan Israel sejak saat itu telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina dan menghancurkan Gaza, kata otoritas kesehatan setempat.
Gencatan senjata yang berlangsung dari 19 Januari 2025 hingga 17 Maret 2025 menyaksikan pemulangan 33 sandera Israel – delapan di antaranya dalam peti mati – sebagai imbalan atas pembebasan sekitar 1.800 tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.
Baca juga: Pasukan Israel Lepas Satu Truk Babi di Dekat Kamp Nour Shams, IDF Pakai Senjata Baru di Gaza
Upaya untuk memulihkan gencatan senjata dan membebaskan lebih banyak sandera sejauh ini gagal.
Bulan lalu, Israel melanggar gencatan senjata yang dicapai pada Januari 2025 setelah kedua pihak gagal menyetujui persyaratan untuk memperpanjangnya.
Israel mengatakan operasi militernya akan terus berlanjut hingga 59 sandera yang masih ditahan oleh Hamas dan kelompok militan lainnya dikembalikan.
Sementara, Hamas mengatakan tidak akan membebaskan mereka tanpa kesepakatan yang akan mengakhiri perang secara permanen.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.