Rabu, 13 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Bisakah Afrika Selatan Tengahi Perdamaian Rusia dan Ukraina?

Meski memiliki pengalaman dalam diplomasi dan mediasi konflik, pengaruh Pretoria dalam mengubah dinamika perang besar ini belum terlihat jelas.

Tayang:
Kantor Kepresidenan Ukraina
ZELENSKY MINTA PATRIOT - Foto ini diambil dari laman Kepresidenan Ukraina pada Senin (14/4/2025), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara dalam pidato hariannya pada Jumat (11/4/2025) yang mengatakan Ukraina butuh lebih banyak sistem pertahanan udara Patriot untuk melawan serangan udara Rusia. Oposisi pro-Rusia di Afrika Selatan berdemo mengecam kunjungan Zelensky ke Afsel. 

TRIBUNNEWS.COM - Kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke Afrika Selatan dan bertemu dengan Presiden Cyril Ramaphosa di Pretoria, meningkatkan tensi politik.

Oposisi pro-Rusia di Afrika Selatan berdemo mengecam kunjungan Zelensky ke Afsel.

Aksi protes berlangsung dengan spanduk yang bertuliskan, “Malu pada Anda, Ramaphosa dan Zelensky.”

Zelensky pun mempersingkat kunjungannya.

Sejak dimulainya perang pada Februari 2022, Ukraina telah menerima dukungan militer dari Eropa dan Amerika Serikat dalam menanggapi serangan Moskow.

Pemerintah Afrika Selatan tetap netral dalam konflik ini, mendorong dialog antara kedua belah pihak.

Mengutip laporan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, lebih dari 12.000 warga sipil tewas di Ukraina sejak perang dimulai.

Partai uMkhonto weSizwe (MK), yang dipimpin oleh mantan Presiden Jacob Zuma, menyatakan dukungannya terhadap Rusia, bahkan menyalahkan Ukraina atas krisis ini.

Floyd Shivambu, Sekjen MK, menyebut Zelensky sebagai "boneka NATO" dan menganggapnya sebagai pemicu konflik.

Afrika Selatan, sebagai sekutu lama Rusia sejak era Uni Soviet mendukung gerakan anti-apartheid, tidak mengutuk Rusia dan telah memilih untuk abstain dalam voting resolusi PBB yang melibatkan sanksi terhadap Rusia.

Di tengah situasi ini, Ramaphosa mengadakan pembicaraan dengan Putin, di mana keduanya sepakat untuk mencari solusi damai.

Baca juga: Trump Tegur Putin Buntut Serangan Mematikan di Ukraina: Berhenti! 5.000 Tentara Tewas Setiap Minggu

Dalam percakapan dengan Trump beberapa jam sebelum pertemuan dengan Zelensky, keduanya sepakat bahwa perang harus dihentikan.

Zelensky menyatakan Ukraina terbuka untuk gencatan senjata tanpa syarat.

Dia menekankan tekanan harus diberikan kepada Moskow untuk menghentikan serangannya.

Ia juga menyebutkan negara-negara NATO harus menjadi penjamin perdamaian.

Ramaphosa sendiri menyatakan negara-negara Afrika, termasuk Afrika Selatan, siap berperan sebagai penjamin.

Afrika Selatan sebagai Penengah?

Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, mengatakan negaranya memiliki posisi yang baik untuk menjadi penengah.

Hal ini mengingat pengalamannya dalam mengakhiri apartheid dan memediasi konflik di Afrika.

Lamola menegaskan bahwa Afrika Selatan percaya pada diplomasi dan dialog sebagai jalan menuju perdamaian, bukan pada pendanaan perang.

Beberapa analis meragukan apakah Afrika Selatan benar-benar memiliki pengaruh untuk mengatasi konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti AS dan Rusia.

Kingsley Makhubela, analis politik dari Universitas Pretoria, menilai Afrika Selatan kemungkinan akan terjebak di tengah kepentingan AS dan Uni Eropa yang berusaha menyelesaikan konflik ini.

Makhubela juga mencatat ketidakpastian mengenai peran Afrika Selatan dalam proses perdamaian, mengingat sebagian besar pihak internasional yang terlibat tidak memiliki pengaruh yang cukup besar dalam proses ini.

Pendapat Oposisi dan Partai MK

Oposisi di Afrika Selatan, termasuk MK, menentang keras kunjungan Zelensky. MK mengkritik Ramaphosa karena mengundang Zelensky, dengan alasan bahwa pemimpin Ukraina adalah "boneka NATO" yang memprovokasi Rusia.

Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1157: Lavrov Klaim Rusia Siap Capai Kesepakatan tapi Perlu Dipoles

MK juga menghadapi tuduhan hubungan finansial dengan Rusia, meskipun mereka membantahnya.

Di sisi lain, Asosiasi Ukraina Afrika Selatan (UAZA) mendukung upaya Zelensky. UAZA menegaskan bahwa Afrika Selatan dan Ukraina sama-sama negara demokrasi, dan menyoroti pembatasan kebebasan berekspresi di Rusia.

UAZA juga mengkritik ketidakberpihakan pemerintah Afrika Selatan terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Tantangan dalam Menyelesaikan Konflik

Pada konferensi pers bersama, Ramaphosa menegaskan Afrika Selatan berkomitmen untuk mengupayakan gencatan senjata komprehensif dan membuka jalan bagi perundingan.

Ramaphosa juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap hilangnya nyawa warga sipil dan kerusakan infrastruktur di Ukraina.

Namun, Dzvinka Kachur dari UAZA menyatakan bahwa perdamaian hanya mungkin tercapai jika Rusia menghentikan pendudukannya di wilayah Ukraina.

Ia menekankan bahwa solusi damai memerlukan perubahan besar di dalam Rusia.

Sementara itu, dalam pembicaraan dengan Putin, Ramaphosa menyampaikan komitmen Afrika Selatan untuk terus melibatkan semua pihak yang terdampak untuk mencari solusi perdamaian.

(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved