Senin, 18 Mei 2026

Kunjungan Presiden Macron ke Indonesia

Dari Jet Dassault Rafale hingga Kapal Selam Scorpene, Alutsista yang Ditaksir Indonesia dari Prancis

jet tempur Dassault Rafale, kapal selam Scorpène, fregat ringan, dan sistem artileri CAESAR adalah Alutsista yang akan dibeli Indonesia dari Prancis

Tayang:
BM/Tangkap Layar
MANUVER UDARA - Jet tempur Dassault Rafale buatan Prancis bermanuver di udara. Jet ini dilaporkan diminati Indonesia untuk memodernisasi Angkatan Udaranya. 

Jet Dassault Rafale hingga Kapal Selam Kelas Scorpene, Alutsista yang Ditaksir Indonesia dari Prancis

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah situs web militer dan pertahanan mengabarkan, kedatangan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Jakarta, menjadi titik balik dari kuatnya minat Indonesia atas Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang diproduksi Prancis.

Keinginan itu dilaporkan diwujudkan dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Indonesia dan Prancis.

Baca juga: Adu Keras AS-China Bikin Jet Tempur Generasi ke-6: Trump Baru Berkoar F-47, Jet J-36 Nongol Duluan

"Pada tanggal 28 Mei 2025, selama kunjungan penting Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Jakarta, menteri pertahanan Indonesia menandatangani surat pernyataan yang mengisyaratkan ambisi negara untuk memperoleh tambahan perangkat keras militer buatan Prancis, termasuk jet tempur Dassault Rafale, kapal selam Scorpène, fregat ringan, dan sistem artileri CAESAR," tulis laporan situs militer dan pertahanan BM, dikutip Jumat (30/5/2025).

Dalam pembaruan informasinya, situs BM tersebut, merujuk pada lansiran La Tribune, mengutip “sumber relevan,” Indonesia kemungkinan memesan antara 8 dan 16 jet tempur Dassault Rafale, jumlah yang jauh lebih sedikit dari perkiraan beberapa pengamat Prancis sebelumnya.

"Daripada pemasok lama macam Rusia dan Amerika, Indonesia tampaknya lebih memilih pemasok Prancis dan pesawat China ," tulis situs khusus tersebut. 

"Penandatanganan tersebut dapat dilakukan di sela-sela parade 14 Juli, di mana Presiden Indonesia Prabowo Subianto diundang sebagai tamu kehormatan," sumber lain, BFMTV, mengumumkan dalam artikelnya.

Berikut Kronologi Kesepakatan Rafale Indonesia merujuk lansiran BM:

Februari 2018: Indonesia menandatangani kesepakatan senilai $1,14 miliar dengan Rusia untuk 11 jet tempur Su-35, yang sebagian didanai melalui ekspor minyak kelapa sawit. Kesepakatan tersebut menghadapi kendala karena potensi sanksi AS berdasarkan Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi [CAATSA].

2020: Seorang pejabat Indonesia mengonfirmasi kepada Jane's bahwa kesepakatan Su-35 dibatalkan karena keterbatasan anggaran dan risiko sanksi. Indonesia mengumumkan rencana untuk mengakuisisi 36 jet Rafale Prancis dan pesawat F-15EX AS sebagai gantinya.

Desember 2021: Kepala Angkatan Udara Indonesia Marsekal Fajar Prasetyo mengonfirmasi peralihan dari Su-35 Rusia ke jet Rafale Prancis dan F-15EX AS, dengan alasan keuangan.

Februari 2022: Indonesia menandatangani perjanjian dengan Prancis untuk pengadaan 42 jet tempur Rafale, yang nilainya sekitar $8,1 miliar [tidak termasuk persenjataan]. Pendanaan untuk pembelian tahap pertama sejumlah 6 jet tempur [$1,1 miliar] diambil dari anggaran Kementerian Pertahanan tahun 2021.

Desember 2022: Pendanaan tambahan sebesar $4,1 miliar untuk kesepakatan Rafale diusulkan, sambil menunggu persetujuan pada tahun 2023 atau 2024, untuk memastikan pengiriman seluruh 42 jet.

April 2023: Indonesia membayar $2,3 miliar untuk gelombang kedua 18 jet Rafale F4.1, sehingga total pesanan tetap 42 pesawat.

Oktober 2023: Pembelian 24 jet Rafale dikonfirmasi, dengan kesepakatan untuk 18 jet sisanya diharapkan akan selesai pada akhir tahun 2024.

Januari 2024: Indonesia mengumumkan kontrak ketiga untuk 18 jet Rafale tambahan, sehingga total pesanan menjadi 42 pesawat yang direncanakan.

"Kesepakatan yang diresmikan di hadapan Macron dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ini menandai langkah penting dalam upaya berkelanjutan Indonesia untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya. Meskipun jumlah dan jadwal spesifiknya masih dirahasiakan," tulis laporan tersebut.

Adapun media Prancis OpexNews berspekulasi kalau kesepakatan tersebut potensial menambahkan sekitar 18 jet Rafale tambahan.

Atas langkah Indonesia ini, para pakar pertahanan regional dari Singapura dan Malaysia menyampaikan dukungan mereka secara hati-hati, dengan memperhatikan semakin selarasnya Indonesia dengan sistem militer Barat.

Namun, mereka memperingatkan adanya tantangan logistik yang potensial dan pertanyaan tentang komitmen politik yang dibutuhkan untuk mempertahankan program ambisius ini.

Dr. Ang Wei Min dari RSIS mengatakan, “Pergeseran Indonesia ke teknologi Prancis menandai langkah strategis yang berani, tetapi keberhasilannya bergantung pada pendanaan yang konsisten dan dukungan kelembagaan yang kuat.”

Sementara itu, media Tiongkok menggambarkan perjanjian tersebut sebagai contoh “campur tangan eksternal” di Asia Tenggara, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan.

Modernisasi Alutsista dan Tantangannya

Langkah ini menggarisbawahi upaya Indonesia untuk meningkatkan kemampuan militernya di tengah lanskap keamanan regional yang kompleks, berdasarkan kontrak tahun 2022 untuk 42 Rafale dan peralatan pertahanan lainnya.

Perjanjian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan kritis dalam angkatan udara, laut, dan darat Indonesia.

"Tetapi masih ada pertanyaan tentang kelayakan dan integrasi sistem canggih ini ke dalam persenjataan negara yang beragam," kata ulasan tersebut menjabarkan tantangan yang dihadapi Indonesia jika mengakusisi Alutsista Prancis ini.

Angkatan bersenjata Indonesia telah lama mengandalkan campuran platform yang sudah tua, termasuk F-16 Amerika dan pesawat tempur Su-27/30 Rusia.

"Alutsista ini kepayahan memenuhi tuntutan peperangan modern di negara kepulauan yang luas ini," kata situs tersebut

Geografi negara yang luas, meliputi lebih dari 17.000 pulau, membutuhkan sistem serbaguna yang mampu beroperasi di wilayah udara, laut, dan darat.

Kesepakatan tahun 2022 dengan Prancis, senilai $8,1 miliar, mencakup 42 jet Rafale, pengembangan kapal selam, dan amunisi, yang memposisikan Prancis sebagai mitra utama dalam modernisasi pertahanan Indonesia.

"Surat pernyataan minat baru-baru ini memperluas kemitraan ini, menandakan niat Indonesia untuk lebih mendiversifikasi perangkat keras militernya dan mengurangi ketergantungan pada sistem lama," kata laporan tersebut.

Macron, yang berbicara dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Prabowo Subianto, menyatakan optimismenya tentang kesepakatan tersebut, dengan menyatakan kalau kesepakatan tersebut dapat menghasilkan pesanan baru untuk Rafale, Scorpène, dan fregat, sehingga memperkuat hubungan antara kedua negara.

Adapun Presiden Prabowo Subianto menyuarakan hal ini dengan menekankan peran Prancis dalam meningkatkan militer Indonesia dan mendorong produksi bersama serta transfer teknologi.

MANUVER UDARA -  Jet tempur Dassault Rafale buatan Prancis bermanuver di udara. Jet ini dilaporkan diminati Indonesia untuk memodernisasi Angkatan Udaranya.
MANUVER UDARA - Jet tempur Dassault Rafale buatan Prancis bermanuver di udara. Jet ini dilaporkan diminati Indonesia untuk memodernisasi Angkatan Udaranya. (BM/Tangkap Layar)

Seputar Jet Dassault Rafale

Inti dari kesepakatan prospektif Indonesia-Prancis ini adalah Dassault Rafale, jet tempur multiperan bermesin ganda yang dirancang untuk unggul dalam pertempuran udara-ke-udara, serangan darat, dan misi pengintaian. 

Diperkenalkan oleh Angkatan Udara Prancis pada tahun 2001, Rafale telah berevolusi menjadi pesawat generasi 4,5, yang memadukan avionik canggih dengan sistem persenjataan yang tangguh.

Radar array pindai elektronik aktif [AESA] RBE2, yang dikembangkan oleh Thales, menawarkan deteksi target jarak jauh dan pelacakan simultan terhadap berbagai ancaman, sebuah lompatan signifikan dibandingkan radar pindai mekanis pada F-16 dan Su-30 Indonesia.

Rangkaian peperangan elektronik SPECTRA Rafale memadukan penerima peringatan radar, pengacau, dan dispenser umpan, yang memberikan pertahanan tangguh terhadap ancaman rudal.

Dengan 14 titik keras, jet tersebut dapat membawa lebih dari sembilan ton persenjataan, termasuk rudal udara-ke-udara Meteor yang jaraknya di luar jangkauan visual, dengan jangkauan melebihi 120 mil, dan rudal jelajah SCALP-EG untuk serangan presisi.

Jangkauan operasional pesawat sejauh 2.300 mil dan daya tahan lebih dari 10 jam dengan pengisian bahan bakar di udara membuatnya sangat cocok untuk wilayah udara Indonesia yang luas, terutama untuk berpatroli di wilayah strategis seperti Laut Cina Selatan.

Kemampuan Rafale untuk melakukan berbagai misi, mulai dari mencegat pesawat musuh hingga melakukan serangan antikapal. Sistem sensor optronik [OSF]-nya meningkatkan kewaspadaan situasional dengan kemampuan pencarian dan pelacakan inframerah, yang memungkinkan deteksi target pasif.

Dibandingkan dengan F-16 Indonesia saat ini, yang mengandalkan sistem radar lama dan kurang memiliki kemampuan peperangan elektronika canggih, Rafale menawarkan kewaspadaan situasional dan kemampuan bertahan hidup yang lebih unggul di lingkungan yang diperebutkan.

Jet tempur Su-27/30, meski dilengkapi rudal jarak jauh seperti R-77, masih kurang dalam hal fusi sensor dan peperangan yang berpusat pada jaringan, yang merupakan bidang-bidang yang menjadi keunggulan Rafale. Catatan tempur jet tempur ini mencakup misi udara-ke-darat di Afghanistan, Libya, Mali, dan Suriah, di mana ia menghadapi ancaman udara-ke-udara yang minimal.

Namun, laporan terbaru yang belum diverifikasi tentang Rafale India yang ditembak jatuh oleh jet tempur J-10C Pakistan dalam pertempuran pada 7 Mei 2025 telah menimbulkan pertanyaan tentang kinerjanya di lingkungan dengan ancaman tinggi, yang mendorong Indonesia untuk meninjau kembali kesepakatan Rafale senilai $8,1 miliar.

Meskipun klaim ini masih belum dikonfirmasi, klaim ini menyoroti pentingnya pelatihan pilot dan integrasi taktis untuk memaksimalkan kemampuan jet tersebut.

Seputar Kapal Selam Kelas Scorpèn

Selain Rafale, surat pernyataan tersebut juga mencakup kapal selam kelas Scorpène, yang dirancang oleh Grup Angkatan Laut Prancis.

Kapal selam diesel-listrik ini dilengkapi dengan propulsi udara independen [AIP], yang memungkinkan operasi terendam dalam waktu lama tanpa harus muncul ke permukaan, fitur penting untuk teknologi siluman di wilayah maritim Indonesia.

Sistem tempur SUBTICS milik Scorpène memadukan sonar, peperangan elektronik, dan kendali senjata, yang memungkinkan penyebaran torpedo, rudal antikapal SM-39 Exocet, dan ranjau laut.

Dengan enam tabung torpedo 533 mm, kapal selam ini dapat menyerang kapal permukaan dan kapal selam pada jarak yang jauh.

"Armada bawah laut Indonesia saat ini, terutama kapal selam kelas Nagapasa [turunan Scorpène], terbatas jumlah dan kemampuannya, sehingga kesulitan untuk berpatroli di zona ekonomi eksklusif negara yang luas," kata ulasan tersebut. 

Penambahan lebih banyak Scorpène akan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk mengamankan rute maritim utama, seperti Selat Malaka, titik rawan perdagangan global yang vital.

"Dibandingkan dengan pesaing regional seperti kapal selam kelas Invincible milik Singapura, yang dilengkapi otomatisasi canggih, Scorpène menawarkan keseimbangan antara biaya dan kemampuan, meskipun integrasi dengan armada Indonesia yang ada dapat menimbulkan tantangan logistik," tulis laporan tersebut.

Seputar Fregat Kelas Gowind dan FDI

Kesepakatan itu juga mencakup fregat ringan, kemungkinan berdasarkan desain Gowind atau FDI Prancis, yang dirancang khusus untuk peperangan kepulauan. 

Kelas Gowind, yang sudah dioperasikan oleh negara-negara seperti Mesir, memiliki desain modular dengan sistem radar canggih dan sistem peluncur vertikal [VLS] untuk rudal permukaan-ke-udara dan anti-kapal.

Sistem manajemen tempur SETIS memungkinkan koordinasi secara langsung dengan aset angkatan laut lainnya, yang sangat penting bagi gugus pulau Indonesia yang tersebar.

Kelas FDI, dengan desain yang lebih baru, dilengkapi fitur siluman dan radar Thales Sea Fire, yang mampu melacak ancaman udara dan rudal dari jarak jauh.

Kapal fregat ini akan memperkuat kemampuan Indonesia untuk melawan ancaman maritim, khususnya di perairan yang disengketakan di dekat Kepulauan Natuna, tempat ketegangan atas hak penangkapan ikan meningkat.

Dibandingkan dengan fregat Tipe 054A milik Tiongkok, yang menekankan peperangan antikapal selam, desain Prancis mengutamakan fleksibilitas, meskipun bobotnya yang lebih kecil dapat membatasi daya tahan dalam operasi yang berkepanjangan.

Sistem Artileri CAESAR

Sistem artileri CAESAR, howitzer 155 mm yang dipasang di truk, melengkapi akuisisi prospektif tersebut.

Diproduksi oleh Nexter, CAESAR menggabungkan mobilitas dengan daya tembak, yang mampu menembakkan enam peluru per menit pada jarak hingga 42 kilometer dengan peluru standar atau 55 kilometer dengan amunisi berpemandu presisi seperti Excalibur.

Sasisnya yang beroda memungkinkan penyebaran cepat di berbagai medan Indonesia, dari pusat kota hingga pulau-pulau terpencil.

Kontrol tembakan sistem ini terintegrasi dengan jaringan medan perang modern, yang memungkinkan serangan terkoordinasi dengan angkatan udara dan laut. Indonesia telah mengoperasikan 34 unit CAESAR, yang diperoleh pada tahun 2012, dan kinerjanya dalam latihan telah menunjukkan nilainya dalam skenario respons cepat.

Namun, mempertahankan inventaris artileri campuran, termasuk sistem lama seperti howitzer M101, dapat mempersulit logistik dan pelatihan.

"Dibandingkan dengan sistem seperti M777 AS, mobilitas CAESAR memberinya keunggulan di lingkungan kepulauan Indonesia, meskipun ketergantungannya pada rantai pasokan Prancis menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan jangka panjang," tulis ulasan tersebut.

 

(oln/BM/*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved