Jumat, 29 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Dampak Serangan 3 Situs Nuklir Iran: AS Terancam, Warga Sipil Jadi Target Balas Dendam?

Iran ancam balas AS setelah situs nuklirnya diserang. Warga sipil Amerika disebut jadi target pembunuhan jika konflik terus berlanjut.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Glery Lazuardi
X/PalestineRCS
ILUSTRASI WARGA SIPIL JADI KORBAN - Warga sipil Amerika Serikat berjalan waspada di tengah meningkatnya ancaman balasan Iran pasca serangan ke fasilitas nuklir. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Warga Amerika Serikat (AS) diyakini akan menjadi target serangan Iran bila Amerika Serikat (AS) nekat menyerang fasilitas nuklir Iran, Fordow.

Jurnalis Surat kabar harian Amerika Serikat (AS) yang berbasis di New York City The New York Times, David E Sanger, sebelumnya telah memperingatkan berbagai risiko yang mungkin dihadapi AS bila nekat turun tangan langsung membantu Israel membom fasikutas nuklir yang berada di dalam gunung tersebut.

Dalam laporannya yang berjudul U.S. Strike on Iran Would Bring Risks at Every Turn, Sanger mencatat Iran telah bersumpah untuk membalas bila pihaknya diserang oleh pasukan AS.

Kemungkinan, kata Sanger, serangan itu ditujukan terhadap pangkalan-pangkalan yang tersebar di Timur Tengah dan aset AS yang terkumpul di Teluk Persia dan Mediterania yang berada dalam jangkauan rudal Iran.

Hal itu dapat terjadi dengan asumsi Iran memiliki rudal dan senjata yang tersisa setelah Israel selesai dengan serangan mereka.

Selsin itu, serangan itu juga dinilai dapat memicu siklus eskalasi bila warga AS terbunuh, atau bahkan terluka.

Akibatnya, menurut Sanger, Trump akan mendapat tekanan untuk membalas dendam.

Baca juga: Iran Pastikan Warga Qom Aman, Tak Ada Bahaya di Sekitar Fordow Usai Serangan Amerika

Sanger juga mengutip mantan duta besar AS untuk Israel Daniel C Kurtzer dan veteran Dewan Keamanan Nasional Steven N Simon yang mengatakan melakukan serangan ke Fordow akan menempatkan AS dalam incaran Iran.

Selain itu, Iran hampir pasti akan membalas dengan membunuh warga sipil Amerika. 

Setelahnya, tulis Sanger, maka satu-satunya target yang tersisa bagi Washington untuk diserang adalah para pemimpin rezim Iran.

AS diprediksi akan kembali terlibat dalam urusan pergantian rezim di Iran, di mana hanya sedikit orang AS yang ingin terlibat dalam urusan itu.

"Reaksi tersebut dapat mengambil bentuk lain. Iran ahli dalam terorisme, dan bereaksi terhadap serangan siber AS-Israel terhadap program nuklirnya 15 tahun lalu dengan membangun korps siber yang menakutkan, tidak se-sembunyi-sembunyi seperti milik China atau seberani milik Rusia, tetapi mampu menimbulkan kerusakan yang cukup besar," tulis Sanger dilansir dari The New York Times Rabu (18/6/2025).

"Dan Iran memiliki banyak rudal jarak pendek yang tersisa untuk menyerang kapal tanker minyak, sehingga transit di Teluk Persia terlalu berisiko," lanjut dia.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kemudian mengumumkan telah menyerang fasilitas fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan di Iran.

Ia mengumumkan hal tersebut pada Sabtu (21/6/2025) waktu AS kemarin.

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan