Konflik Rusia Vs Ukraina
Perundingan Alaska Berisiko, Ukraina Yakin Putin Akan Perdaya Trump
Ukraina skeptis terhadap pertemuan Trump–Putin di Alaska. Mereka yakin Putin akan memanfaatkan momen untuk menipu dan menguatkan posisi.
TRIBUNNEWS.COM – Warga dan militer Ukraina menyuarakan kekhawatiran menjelang pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Agustus di Alaska.
Warga Ukraina meyakini perundingan tersebut berisiko besar dan dapat dimanfaatkan oleh Putin untuk memperdaya Trump demi keuntungan militer dan diplomatik.
Konflik Rusia-Ukraina dimulai setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, ketika Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya.
Ketegangan meningkat drastis setelah Revolusi Euromaidan 2014, yang mendorong Rusia mencaplok Krimea dan mendukung separatis di Donbas.
Konflik ini akhirnya meletus menjadi invasi skala penuh oleh Rusia pada Februari 2022.
Taras, seorang prajurit Ukraina berpengalaman, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Putin akan mencoba meyakinkan Trump bahwa Ukraina-lah yang tidak menginginkan perdamaian.
Ia juga menilai bahwa Putin ingin memanfaatkan citra Trump sebagai pembawa damai untuk menghindari sanksi ekonomi lebih lanjut.
“Putin benar-benar yakin bahwa hingga musim dingin ini, ia akan merebut sesuatu yang besar, atau bahwa pasukannya akan menerobos garis depan dan akan mendikte persyaratan bagi Ukraina,” ujar Taras, yang merahasiakan nama belakangnya sesuai protokol masa perang.
Pertemuan ini bertujuan untuk membahas masa depan konflik Rusia–Ukraina, dengan fokus utama pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai melalui pertukaran wilayah.
Trump, yang dikenal dengan pendekatan negosiasi langsung, menyatakan bahwa akan ada “pertukaran wilayah untuk kebaikan kedua belah pihak.”
Meski belum merinci wilayah mana yang akan dipertimbangkan, pernyataan tersebut memicu spekulasi luas di kalangan diplomat dan analis geopolitik.
Baca juga: Gagasan Donald Trump Serahkan Wilayah Ukraina ke Rusia, Picu Gejolak dan Kecemasan
Pemilihan Alaska sebagai lokasi pertemuan bukanlah kebetulan.
Secara geografis, Alaska berbatasan langsung dengan Rusia melalui Selat Bering, menjadikannya tempat yang strategis dan simbolis.
Kremlin menyebut lokasi ini sebagai pilihan yang logis dan netral, mencerminkan niat kedua negara untuk berdialog secara terbuka.
KTT ini juga menandai pertemuan tatap muka pertama antara Presiden AS dan Rusia yang sedang menjabat sejak pertemuan Biden–Putin di Jenewa pada tahun 2021.
Alaska adalah sebuah negara bagian di Amerika Serikat yang dikenal karena wilayahnya yang sangat luas,banyak pemandangan alam yang menakjubkan, dan iklim yang dingin.
Alaska berada di ujung barat laut benua Amerika Utara, terpisah dari negara bagian AS lainnya.
Alaska berbatasan dengan Kanada di timur dan Samudra Arktik, Pasifik, serta Laut Bering.
Negara bagian ini terkenal dengan pegunungan, gletser, dan hutan belantaranya yang luas.
Titik tertingginya, Denali, adalah puncak tertinggi di Amerika Utara.
Karena lokasinya, iklim Alaska sangat beragam, mulai dari iklim subarktik hingga arktik.
Sebagian besar wilayahnya mengalami musim dingin yang panjang dan ekstrem.
Sikap Skeptis Pertemuan Trump-Putin di Alaska
Sikap skeptis terhadap pertemuan Alaska juga dipicu oleh kondisi di lapangan.
Awal Agustus, Rusia meningkatkan serangan di wilayah Donetsk tenggara, mengirim ribuan prajurit dalam misi berisiko tinggi.
Dalam tiga bulan terakhir, Rusia telah menduduki sekitar 1.500 kilometer persegi, sebagian besar di Donetsk, menurut data Ukraina dan Barat yang dikutip oleh Al Jazeera.
Laporan yang belum dibantah oleh Washington menyebutkan bahwa Trump mungkin menawarkan kendali penuh atas Donetsk dan Luhansk kepada Moskow sebagai imbalan atas gencatan senjata dan penarikan pasukan dari wilayah kecil di Sumy dan Kharkiv.
Menurut Kampus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Britannica, gencatan senjata adalah penghentian tembak-menembak dalam konteks perang atau konflik bersenjata.
Tujuan gencatan senjata adalah menciptakan ruang untuk negosiasi damai, evakuasi kemanusiaan, atau penghentian konflik secara bertahap.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.266, Trump: Putin-Zelensky Harus Tukar Tanah untuk Damai
Penyerahan Donetsk akan memaksa Ukraina meninggalkan sabuk benteng strategis antara Kostiantynivka dan Sloviansk.
Menurut Institute for the Study of War, penyerahan wilayah tersebut akan memposisikan Rusia secara strategis untuk melanjutkan serangan dengan keuntungan besar, tanpa harus melalui pertempuran panjang dan berdarah.
Institute for the Study of War (ISW) adalah sebuah lembaga kajian kebijakan publik non-profit yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat.
ISW didirikan pada tahun 2007 oleh sejarawan militer Kimberly Kagan.
ISW berfokus pada analisis konflik bersenjata modern dan urusan luar negeri, terutama dari perspektif militer dan strategis.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya.
“Kita tidak butuh jeda dalam pembunuhan, tapi perdamaian yang sejati dan panjang,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip oleh Al Jazeera.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky adalah seorang politikus dan mantan komedian yang menjabat sebagai Presiden Ukraina sejak 20 Mei 2019.
Zelensky lahir pada 25 Januari 1978 di Kryvyi Rih, Ukraina.
Warga sipil Ukraina juga pesimis.
Iryna Kvasnevska, seorang guru biologi di Kyiv, mengatakan bahwa perbedaan ideologi dan ambisi imperialis Moskow membuat solusi diplomatik sulit tercapai.
“Perang akan terus berlanjut hingga Ukraina atau Rusia ada,” ujarnya.
Keraguan terhadap Trump juga menjadi faktor utama.
Beberapa warga Ukraina menilai bahwa Trump memiliki sejarah menyalahkan Ukraina atas konflik dan terlalu lunak terhadap Moskow.
Leonid Cherkasin, pensiunan kolonel dari Odesa, menyebut bahwa Trump telah mengecewakan Ukraina sebelumnya.
Baca juga: 18 Tentara Rusia Tewas, Ukraina: Bezsalivka di Sumy Kami Rebut dan Kuasai Sepenuhnya
“Orang-orang yang percaya dia tidak akan melakukannya lagi sangat naif, bahkan bodoh,” katanya kepada Al Jazeera.
Pendapat Analis
Ultimatum Trump kepada Putin, yang awalnya berdurasi 50 hari, telah dipersingkat menjadi 10–12 hari dan berakhir sehari setelah pertemuan Alaska diumumkan.
Para analis militer menilai bahwa Putin tidak akan tunduk pada tekanan tersebut.
Nikolay Mitrokhin, peneliti dari Universitas Bremen, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pertemuan itu sendiri sudah menjadi kemenangan diplomatik bagi Putin.
“Yang terpenting bagi Putin adalah fakta percakapannya dengan Trump sebagai rekan sederajat,” ujarnya.
Mitrokhin memperkirakan kesepakatan yang mungkin tercapai hanya berupa penghentian serangan udara, yang akan memberi Rusia waktu tiga bulan untuk menyelesaikan operasi darat di Donetsk.
Gencatan senjata udara juga akan menghentikan serangan drone Ukraina yang semakin efektif terhadap target militer Rusia.
“Lalu Putin tentu saja akan membodohi Trump, dan semuanya akan kembali normal,” pungkas Mitrokhin.
Al Jazeera melaporkan bahwa pertemuan Alaska berpotensi menjadi titik balik, bukan menuju perdamaian, melainkan konsolidasi kekuatan Rusia di Ukraina timur.
(Tribunnews.com/ Andari Wulan Nugrahani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Amerika-Serikat-Donald-Trump-dan-Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-2.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.