WHO Kecam Serangan Israel ke RS Gaza, Akses Kesehatan Jadi Lumpuh
Bangunan utama rumah sakit yang menampung unit gawat darurat, bangsal rawat inap, dan ruang operasi juga ikut luluh lantak. Banyak pasien lagi dirawat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dunia kembali diguncang kabar memilukan dari Gaza. RS Nasser Gaza salah satu fasilitas kesehatan terbesar di wilayah itu, dilaporkan menjadi sasaran serangan Israel pada pagi hari. Serangan ini menelan korban jiwa dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Baca juga: Upaya Gencatan Senjata Gaza Sejak 2023–2025: Kesepakatan Gagal, Kota Jadi Kuburan, dan Dunia Bungkam
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan bahwa sedikitnya 20 orang tewas, termasuk empat tenaga kesehatan dan lima jurnalis. Selain itu, 50 orang lainnya mengalami luka-luka, di antaranya pasien kritis yang sebelumnya sedang menjalani perawatan.
Bangunan utama rumah sakit yang menampung unit gawat darurat, bangsal rawat inap, dan ruang operasi juga ikut terdampak. Tangga darurat yang seharusnya menjadi jalur penyelamat rusak parah akibat hantaman serangan.
Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan kecaman keras melalui akun X miliknya. Ia menegaskan bahwa kondisi di Gaza semakin mengerikan karena akses warga terhadap layanan kesehatan yang sudah terbatas kini dilumpuhkan oleh serangan berulang.
“Sementara orang-orang di Gaza kelaparan, akses mereka yang sudah terbatas terhadap perawatan kesehatan semakin dilumpuhkan oleh serangan berulang-ulang,” kata Tedros, Selasa(26/8/2025).
Tedros menambahkan bahwa komunitas internasional tidak boleh tinggal diam melihat tragedi kemanusiaan ini. “Kita tidak bisa berhenti berteriak: HENTIKAN serangan terhadap pelayanan kesehatan. Gencatan senjata sekarang juga!” tegasnya.
Serangan ini tak hanya menghancurkan gedung rumah sakit, tetapi juga menghantam sisi kemanusiaan yang paling mendasar. Empat tenaga kesehatan yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa pasien ikut menjadi korban.
Lima jurnalis yang bertugas melaporkan fakta di lapangan juga kehilangan nyawa. Kondisi ini menunjukkan bagaimana konflik bersenjata tidak hanya menargetkan pihak-pihak yang berperang.
Tetapi juga memakan korban dari kalangan yang seharusnya dilindungi: tenaga kesehatan, pasien, dan jurnalis.
Baca juga: Israel Akui Bom RS Nasser Gaza, 6 Jurnalis Tewas, Total 246 Wartawan Jadi Martir Sejak 7 Oktober
Situasi di Gaza kini berada pada titik kritis. Ribuan warga hidup dalam ketakutan, tanpa kepastian kapan serangan berikutnya akan datang.
Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru berubah menjadi target berulang. Keterbatasan pasokan makanan, obat-obatan, dan fasilitas medis membuat masyarakat sipil semakin rentan. Kondisi pasien kritis yang kehilangan akses terhadap layanan kesehatan berisiko memperbesar angka kematian.
Seruan gencatan senjata semakin nyaring terdengar dari berbagai pihak, termasuk lembaga kemanusiaan internasional. Serangan terhadap fasilitas kesehatan tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga merobek nilai kemanusiaan universal.
Baca juga: 1,2 Miliar Anak Mendapat Hukuman Fisik dari Orang Tua dengan Alasan Disiplin, WHO Ingatkan Bahayanya
Tedros menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa dunia tidak boleh menormalisasi tragedi ini. Serangan terhadap rumah sakit dan tenaga medis adalah pelanggaran serius yang harus segera dihentikan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of
Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/RS-NASSER-DIGEMPUR-25-Agustus.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.