Sabtu, 30 Agustus 2025

Top Rank

10 Bidang Pekerjaan yang Paling Rentan Terhadap Stres dan Depresi, Adakah Profesimu?

Inilah 10 bidang pekerjaan yang paling rentan membuat stres dan depresi di Amerika Serikat, menurut studi.

Pexels
PEKERJAAN RENTAN DEPRESI - Ilustrasi pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi, diunduh dari Pexels pada 19 Agustus 2025. Inilah 10 bidang pekerjaan yang paling rentan membuat stres dan depresi, menurut studi. 

TRIBUNNEWS.COM – Bagi sebagian orang, beban emosional pekerjaan bisa terasa sangat berat.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di JAMA (Journal of the American Medical Association), menemukan bahwa pekerja di industri tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dan tekanan mental yang signifikan.

Para peneliti menyebutkan, temuan ini seharusnya menjadi peringatan bagi perusahaan untuk memikirkan ulang cara mereka merancang tunjangan kesehatan mental dan sistem pendukung bagi karyawan.

Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2025 ini, menganalisis data survei dari lebih dari 500.000 pekerja di Amerika Serikat, yang dikumpulkan antara tahun 2015 hingga 2019.

Dari jumlah tersebut, 80.319 responden melaporkan pernah didiagnosis mengalami depresi pada suatu titik dalam hidup mereka.

Studi juga menemukan bahwa perempuan memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi dibanding laki-laki untuk mendapatkan diagnosis depresi.

Hasil analisis menunjukkan ada beberapa sektor pekerjaan yang memiliki tingkat depresi terdiagnosis paling tinggi.

Pekerja komunitas dan layanan sosial menempati posisi teratas, disusul pekerja di bidang persiapan dan penyajian makanan.

Sementara itu, sektor seni, hiburan, olahraga, dan media juga tercatat memiliki angka depresi yang tinggi.

Baca juga: Ashanty Ungkap Cerita Alami Depresi, Tak Bisa Tidur, Harus Konsumsi Obat hingga Diruqyah

Berikut 10 bidang pekerjaan dengan tingkat depresi tertinggi:

1. Layanan masyarakat dan sosial – 20,5 persen

2. Persiapan dan penyajian makanan – 20,1 persen

3. Seni, hiburan, olahraga, dan media – 18,6 persen

4. Akomodasi dan layanan makanan – 18,4%

5. Pelayanan kesehatan dan bantuan sosial – 18,2%

6. Perdagangan eceran – 17,7%

7. Hukum – 16,1%

8. Pendidikan dan perpustakaan – 16,1%

9. Penjualan – 15,8%

10. Keuangan dan asuransi – 13,9%

*Angka di atas menggambarkan persentase orang pada masing-masing kategori pekerjaan yang pernah didiagnosis depresi pada satu titik sepanjang hidupnya.

Pentingnya Dukungan Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Dr. Manish Sapra, Direktur Eksekutif Behavioral Health Service Line di Northwell Health Amerika Serikat, menyebut studi ini "signifikan" karena menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam menangani kesehatan mental karyawan.

“Dalam hal apa pun yang kami lakukan terkait kesejahteraan atau kesehatan mental karyawan, perusahaan perlu menyesuaikan tunjangan dan solusinya untuk populasi spesifik mereka, bukan sekadar memberikan program umum yang diambil dari rak,” ujar Sapra kepada The New York Post.

Di Northwell Health, Sapra menjelaskan tenaga kesehatan adalah salah satu kelompok paling rentan karena sering menghadapi trauma dan tekanan emosional akibat menyaksikan penderitaan pasien secara langsung.

Untuk itu, Northwell mengembangkan sistem pendukung khusus, termasuk jaringan dukungan sesama rekan kerja, kerangka kerja pertolongan pertama stres, serta akses layanan konseling mental berbasis teknologi.

“Kami juga telah memperluas akses ke layanan kesehatan mental bagi karyawan kami, sehingga mereka dapat mendapatkan bantuan lebih cepat saat membutuhkannya,” kata Sapra.

Menurut Sapra, perusahaan harus fokus mengatasi hambatan besar yang kerap membuat karyawan enggan mencari bantuan, seperti stigma terhadap kesehatan mental, biaya layanan konseling, hingga kendala waktu.

Selain itu, Sapra juga menekankan pentingnya fleksibilitas, misalnya dengan menyediakan jam layanan malam bagi karyawan yang bekerja shift siang, sehingga akses kesehatan mental menjadi lebih inklusif.

Baca juga: Cerita Talitha Curtis Depresi, Mengurung Diri di Kamar Selama Dua Minggu

7 Kebiasaan yang Dapat Menurunkan Risiko Depresi

Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Nature Mental Health pada 11 September 2023, orang-orang yang memiliki berbagai faktor gaya hidup sehat dapat mengurangi risiko depresi hingga lebih dari setengahnya.

Temuan ini, menurut para ahli kesehatan, menegaskan pentingnya kebiasaan dan perilaku sehari-hari dalam menjaga kesehatan mental.

Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis data dari 287.282 partisipan.

Hasilnya, para peneliti mengidentifikasi tujuh faktor gaya hidup yang berpengaruh terhadap risiko depresi.

Mereka menemukan bahwa partisipan yang mempertahankan setidaknya lima dari tujuh faktor tersebut mengalami penurunan risiko depresi sebesar 57%.

7 kebiasaan sehat tersebut yakni:

  1. Tidur yang cukup: menjaga kualitas dan durasi tidur optimal.
  2. Berolahraga secara teratur: melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.
  3. Mengonsumsi makanan sehat: memperbanyak sayur, buah, protein seimbang, dan mengurangi makanan olahan.
  4. Membatasi konsumsi alkohol: menghindari kebiasaan minum berlebihan.
  5. Tidak merokok: menjauh dari risiko peradangan dan gangguan kesehatan mental.
  6. Membatasi perilaku sedentari atau kurang gerak: mengurangi waktu duduk terlalu lama dan lebih banyak bergerak.
  7. Memiliki koneksi sosial: menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.

Para peneliti juga menganalisis penanda peradangan, termasuk protein C-reaktif, yang selama ini dikaitkan dengan depresi.

Hasilnya, partisipan dengan gaya hidup sehat memiliki skor peradangan yang lebih baik.

Dari 197.344 peserta yang datanya dianalisis lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa kebiasaan gaya hidup sehat menurunkan risiko depresi bahkan pada individu dengan risiko genetik lebih tinggi.

Pendekatan pengacakan Mendel dalam studi ini juga mengonfirmasi adanya hubungan sebab-akibat antara faktor gaya hidup dan depresi.

“Saya pikir kejutan terbesarnya adalah jika Anda memiliki gaya hidup yang baik, Anda dapat mengurangi risiko depresi hingga 57%, yang sebenarnya merupakan angka yang sangat besar,” kata Barbara Sahakian, psikolog klinis dan ahli saraf di Universitas Cambridge, sekaligus salah satu penulis studi ini.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan