Selasa, 14 April 2026
Deutsche Welle

Iran: "Hormuz Hanya akan Dibuka Setelah Ganti Rugi Perang Dibayar Lunas"

Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman vulgar agar Teheran membuka Selat Hormuz. Rezim Iran membalas dan kembali menyerang infrastruktur…

Deutsche Welle
Iran: "Hormuz Hanya akan Dibuka Setelah Ganti Rugi Perang Dibayar Lunas" 

Setelah terbit ultimatum terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada pimpinan Iran, rezim tersebut tetap bersikeras pada tuntutannya sendiri.

Selat Hormuz yang sangat penting bagi pasar minyak dan gas global hanya akan dibuka kembali "jika, dalam kerangka tatanan hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian biaya transit," tulis Mehdi Tabatabaei, pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran Massoud Pezeshkian.

Komando angkatan laut Garda Revolusi, pasukan elite kuat Iran, dikutip media dalam negeri menyatakan bahwa Selat Hormuz "tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel.” Iran mengklaim kendali atas seluruh jalur tersebut dan berencana menerapkan sistem tarif untuk pelayaran yang melintas.

Tak lama kemudian, Garda Revolusi melaporkan bahwa kepala divisi intelijen mereka, Majid Khadami, tewas dalam sebuah serangan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer telah "menyingkirkan” Khadami. Ia disebut bertanggung jawab langsung atas serangan roket mematikan terhadap warga sipil Israel.

Ancaman Iran juga mengarah ke Laut Merah

Selain itu, dari Teheran muncul peringatan keras lainnya. Jika Amerika Serikat dan Israel meningkatkan serangan, jalur pelayaran penting bagi pasar energi global di luar Selat Hormuz juga dapat terancam, sebut Ali Akbar Velayati. Ia adalah penasihat kebijakan luar negeri bagi Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru Iran.

Yang dapat terdampak termasuk Selat Bab al-Mandab, yang merupakan pintu masuk ke Laut Merah dan menuju Terusan Suez di utara, demikian dilaporkan oleh stasiun pemerintah Press TV.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di platform X bahwa "kejahatan perang"” tidak akan menghasilkan apa-apa. Satu-satunya solusi adalah "menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini." Ia memperingatkan bahwa "langkah-langkah ceroboh" dapat membakar seluruh kawasan.

Trump kembali memaki-maki

Trump pada hari Minggu (05/04) menulis secara sangat kasar di platformnya Truth Social tentang Iran sehubungan penutupan Selat Hormuz. Pernyataan inilah yang memicu kegeraman Iran, hingga malah minta ganti rugi perang, sebelum membuka selat itu.

Presiden Trump memberi waktu hingga Selasa (07/04) malam kepada pimpinan di Teheran untuk memenuhi tuntutan membuka Selat Hormuz. Ia telah menunda ultimatum tersebut untuk ketiga kalinya.

Batas waktu baru berakhir Selasa pukul 20.00 waktu Washington. "Jika mereka tidak melakukan apa pun hingga Selasa malam, tidak akan ada pembangkit listrik atau jembatan yang tersisa,” kata Trump kepada surat kabar The Wall Street Journal.

Pakistan ajukan rencana perdamaian

Sementara itu, portal berita AS Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat, Iran, dan mediator regional sedang melakukan "upaya terakhir” untuk merundingkan syarat-syarat gencatan senjata selama 45 hari. Axios mengutip empat sumber dari Amerika, Israel, dan kawasan tersebut. Ini disebut sebagai peluang terakhir untuk mencegah eskalasi dramatis.

Menurut laporan, Pakistan telah menyampaikan sebuah konsep kepada pimpinan di Washington dan Teheran. Rencana Pakistan mencakup pendekatan dua tahap: gencatan senjata segera, kemudian perjanjian komprehensif.

Iran mengonfirmasi telah menerima rencana tersebut, menurut seorang pejabat. Namun, Republik Islam itu tidak bersedia menyetujui gencatan senjata sementara dan tidak akan membuka Selat Hormuz untuk tujuan tersebut, kata seorang sumber kepada kantor berita Reuters. Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan maupun ultimatum.

Serangan baru sebabkan kerusakan besar di Kuwait

Pada saat yang bersamaan, rezim Iran kembali meluncurkan serangan pesawat nirawak atau drone dan rudal ke negara-negara Teluk. Menurut otoritas setempat, infrastruktur sipil kembali menjadi sasaran.

Drone Iran menyebabkan kerusakan "parah" pada beberapa fasilitas minyak dan petrokimia di Kuwait, menurut perusahaan minyak negara tersebut. Beberapa fasilitas dilaporkan mengalami kebakaran.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved